Skip to main content

Singapura

Kebaya Simfoni Keberanian Wanita Nusantara

Anggaran Waktu Membaca:
Kebaya Simfoni Keberanian Wanita Nusantara

(Gambar: CNA/Grace Yeoh)

Diterbitkan : 25 Jul 2025 03:34PM Dikemas Kini : 25 Jul 2025 06:16PM

SINGAPURA:

Di antara benang-benang halus yang dijahit dengan tangan kasih,
lahirlah selembar kebaya - bukan sekadar busana,
melainkan narasi yang dijalin oleh sejarah dan keberanian.


Kebaya bukan kain biasa.
Ia adalah bahasa tubuh dari perempuan yang diam-diam bersuara.
Dalam tenunannya, tersimpan cerita tentang ibu-ibu yang berjualan di pasar,
anak gadis yang menari di pelataran desa,
hingga Kartini yang menulis cahaya
di balik tirai kelam patriarki.


Perempuan Indonesia,
bukan hanya simbol keindahan,
mereka adalah akar dari pohon kebudayaan.
Mereka bangkit dengan kebaya yang melekat di tubuhnya -
sebagai perisai lembut,
namun tak tergoyahkan oleh angin zaman.


Lihatlah:
Ada keberanian dalam lipatan lengan kebaya,
yang dikenakan oleh guru desa di pelosok negeri,
yang dikenakan oleh diplomat di atas panggung dunia,
yang dikenakan oleh ibu rumah tangga
saat memasak nasi untuk anak-anaknya
dan mimpi-mimpi mereka.


Mereka tak hanya cerdas,
tetapi juga lentur dan kuat.
Mereka adalah puisi hidup dari keanekaragaman bangsa.
Berbicara dalam ratusan bahasa,
berjalan di antara hutan, sawah, gedung pencakar langit,
namun tetap memanggil satu nama: Indonesia.


Kebaya adalah jembatan.
Menghubungkan masa lalu yang dijunjung,
dengan masa depan yang diperjuangkan.


Kartini menulis,
bukan untuk sekadar didengar,
tapi untuk menggetarkan dunia:
bahawa perempuan bisa berfikir, bermimpi, dan memimpin.


Kini, di era yang serba cepat,
kita lihat perempuan mengenakan kebaya
bukan hanya saat perayaan.
Tapi sebagai bentuk perlawanan yang lembut,
identitas yang menolak dilupakan,
dan simbol dari keindahan yang tak perlu tunduk.


Warna-warni kebaya
adalah cermin dari keanekaragaman perempuan Indonesia:
Jawa, Bugis, Dayak, Batak, Bali, Papua -
semuanya indah, semuanya setara, semuanya berani.


Maka jangan pernah remehkan
sebuah kain yang dibentuk oleh sejarah.
Kerana kebaya - seperti perempuan Indonesia -
tak hanya membalut tubuh,
tetapi membalut harga diri, martabat, dan keberanian
yang diwariskan turun-temurun.


MENGENAI PENULIS

Syair ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis, selain berkecimpung dengan dunia tata rias.

Sumber : BERITA Mediacorp/im
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Lebih banyak artikel Berita