Satu Ramadan, Sejuta Ampunan
Anggaran Waktu Membaca:
SINGAPURA:
Hari pertama selalu terasa berbeza
Langit seperti lebih rendah,
udara seperti membawa pesan yang tak terucap.
Azan pertama di bulan suci itu
menggetarkan sesuatu yang lama terdiam dalam dada.
Ramadan datang bukan sekadar pergantian tanggal,
melainkan ketukan lembut di pintu hati —
seakan berkata,
“Sudah sejauh apa langkahmu?”
Di awal Ramadan, aku belajar pulang
Bukan ke rumah dengan dinding dan atap,
tetapi ke ruang paling sunyi dalam diri,
tempat doa-doa lama tersimpan,
tempat air mata pernah jatuh tanpa saksi.
Puasa pertama bukan hanya tentang menahan lapar,
melainkan tentang menahan amarah,
menahan ego yang ingin selalu benar,
menahan luka agar berubah menjadi maaf.
Di antara lapar dan harap,
aku menemukan erti cukup.
Satu Ramadan, satu perjalanan jiwa
Setiap fajar adalah janji baharu,
setiap Maghrib adalah pelukan ampunan.
Seolah Tuhan berkata,
“Datanglah, bahkan dengan langkah tertatih,
Aku tak pernah menutup pintu.”
Di kota yang tak pernah tidur,
orang-orang bergegas dengan urusan masing-masing.
Namun di balik gemerlap lampu,
ada tangan-tangan yang menadah,
ada doa-doa sederhana di rumah yang sederhana,
ada sepiring nasi yang dibahagi dengan syukur.
Ramadan mengajarkan,
bahawa kekayaan bukan pada apa yang dimiliki,
melainkan pada apa yang mampu dibahagikan.
Bahawa menjadi baharu tidak harus menunggu tahun berganti —
cukup satu bulan yang dijalani sepenuh hati.
Ramadan dan aku yang belum selesai,
akhirnya belajar berdamai.
Dengan masa lalu yang pernah kelam,
dengan kesalahan yang tak bisa diulang,
dengan diri yang tak selalu kuat.
Hari pertama adalah langkah menuju cahaya.
Hari-hari berikutnya adalah keberanian untuk tetap berjalan.
Sebab satu Ramadan sahaja
bisa mengubah arah,
bisa menyembuhkan luka,
bisa menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.
Dan ketika bulan itu pergi nanti,
aku tak ingin ia sekadar menjadi kenangan.
Aku ingin ia tinggal dalam hati —
selamanya.
Kerana satu Ramadan,
bukan hanya tentang waktu yang berlalu,
tetapi tentang jiwa yang tumbuh,
tentang rindu yang dipeluk doa,
tentang manusia yang kembali mengingat Tuhannya.
Satu Ramadan, sejuta ampunan.
Dan aku —
ingin menjadi baharu,
lagi.
Langit seperti lebih rendah,
udara seperti membawa pesan yang tak terucap.
Azan pertama di bulan suci itu
menggetarkan sesuatu yang lama terdiam dalam dada.
Ramadan datang bukan sekadar pergantian tanggal,
melainkan ketukan lembut di pintu hati —
seakan berkata,
“Sudah sejauh apa langkahmu?”
Di awal Ramadan, aku belajar pulang
Bukan ke rumah dengan dinding dan atap,
tetapi ke ruang paling sunyi dalam diri,
tempat doa-doa lama tersimpan,
tempat air mata pernah jatuh tanpa saksi.
Puasa pertama bukan hanya tentang menahan lapar,
melainkan tentang menahan amarah,
menahan ego yang ingin selalu benar,
menahan luka agar berubah menjadi maaf.
Di antara lapar dan harap,
aku menemukan erti cukup.
Satu Ramadan, satu perjalanan jiwa
Setiap fajar adalah janji baharu,
setiap Maghrib adalah pelukan ampunan.
Seolah Tuhan berkata,
“Datanglah, bahkan dengan langkah tertatih,
Aku tak pernah menutup pintu.”
Di kota yang tak pernah tidur,
orang-orang bergegas dengan urusan masing-masing.
Namun di balik gemerlap lampu,
ada tangan-tangan yang menadah,
ada doa-doa sederhana di rumah yang sederhana,
ada sepiring nasi yang dibahagi dengan syukur.
Ramadan mengajarkan,
bahawa kekayaan bukan pada apa yang dimiliki,
melainkan pada apa yang mampu dibahagikan.
Bahawa menjadi baharu tidak harus menunggu tahun berganti —
cukup satu bulan yang dijalani sepenuh hati.
Ramadan dan aku yang belum selesai,
akhirnya belajar berdamai.
Dengan masa lalu yang pernah kelam,
dengan kesalahan yang tak bisa diulang,
dengan diri yang tak selalu kuat.
Hari pertama adalah langkah menuju cahaya.
Hari-hari berikutnya adalah keberanian untuk tetap berjalan.
Sebab satu Ramadan sahaja
bisa mengubah arah,
bisa menyembuhkan luka,
bisa menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.
Dan ketika bulan itu pergi nanti,
aku tak ingin ia sekadar menjadi kenangan.
Aku ingin ia tinggal dalam hati —
selamanya.
Kerana satu Ramadan,
bukan hanya tentang waktu yang berlalu,
tetapi tentang jiwa yang tumbuh,
tentang rindu yang dipeluk doa,
tentang manusia yang kembali mengingat Tuhannya.
Satu Ramadan, sejuta ampunan.
Dan aku —
ingin menjadi baharu,
lagi.
Kurangkan Artikel
MENGENAI PENULIS:
Puisi ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis, selain berkecimpung dengan dunia tata rias.
Puisi ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis, selain berkecimpung dengan dunia tata rias.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.