PUISI: Identiti Batik Yang Tak Boleh Hilang
Anggaran Waktu Membaca:
Gambar yang menunjukkan seseorang yang sedang membatik. (Gambar: Shutterstock)
- Puisi karya Dadan Nugraha dari Banten menggambarkan batik sebagai warisan hidup Indonesia, bukan sekadar kain yang dipakai.
- Motif Parang, Kawung, Mega Mendung dan warna pesisir digunakan untuk melambangkan keteguhan, kerendahan hati, keteduhan dan kepelbagaian cerita budaya.
- Puisi ini menegaskan bahawa perubahan zaman tidak seharusnya membuat pembatik dan generasi baharu kehilangan arah, makna atau identiti.
- Selagi tangan pembatik terus berkarya dan masyarakat memahami nilainya, batik digambarkan akan kekal sebagai jiwa budaya Indonesia.
SINGAPURA:
Bukan sekadar kain yang membalut tubuh,
ia adalah cerita yang enggan runtuh.
Tertulis dari malam, warna, dan ketekunan,
menyimpan jejak leluhur dalam keheningan.
Di setiap garis, ada tangan yang bekerja,
di setiap motif, ada nilai yang dijaga.
Bukan hanya indah untuk dipandang mata,
tetapi menjadi cermin siapa kita.
Parang mengajarkan langkah yang teguh,
Kawung mengingatkan hati agar tak angkuh.
Mega Mendung membawa teduh dalam jiwa,
dan warna-warna pesisir merangkul beragam cerita.
Batik tak meminta kita hidup di masa lalu,
ia hanya meminta agar kita tak kehilangan tahu.
Bahawa sebuah bangsa akan tetap berdiri,
ketika mengenal warisan yang hidup dalam diri.
Maka biarlah zaman terus berubah,
biarlah dunia datang membawa warna baru.
Namun jangan biarkan tangan pembatik kehilangan arah,
jangan biarkan identiti kita menjadi masa lalu.
Sebab batik bukan hanya apa yang kita kenakan -
ia adalah apa yang kita pertahankan.
Dan selama masih ada tangan yang menorehkan malam,
selama masih ada hati yang memahami makna,
selama masih ada generasi yang berkata,
“Ini bahagian dari identitiku,”
maka batik akan tetap hidup -
bukan sekadar sebagai warisan,
tetapi sebagai jiwa budaya Indonesia.
ia adalah cerita yang enggan runtuh.
Tertulis dari malam, warna, dan ketekunan,
menyimpan jejak leluhur dalam keheningan.
Di setiap garis, ada tangan yang bekerja,
di setiap motif, ada nilai yang dijaga.
Bukan hanya indah untuk dipandang mata,
tetapi menjadi cermin siapa kita.
Parang mengajarkan langkah yang teguh,
Kawung mengingatkan hati agar tak angkuh.
Mega Mendung membawa teduh dalam jiwa,
dan warna-warna pesisir merangkul beragam cerita.
Batik tak meminta kita hidup di masa lalu,
ia hanya meminta agar kita tak kehilangan tahu.
Bahawa sebuah bangsa akan tetap berdiri,
ketika mengenal warisan yang hidup dalam diri.
Maka biarlah zaman terus berubah,
biarlah dunia datang membawa warna baru.
Namun jangan biarkan tangan pembatik kehilangan arah,
jangan biarkan identiti kita menjadi masa lalu.
Sebab batik bukan hanya apa yang kita kenakan -
ia adalah apa yang kita pertahankan.
Dan selama masih ada tangan yang menorehkan malam,
selama masih ada hati yang memahami makna,
selama masih ada generasi yang berkata,
“Ini bahagian dari identitiku,”
maka batik akan tetap hidup -
bukan sekadar sebagai warisan,
tetapi sebagai jiwa budaya Indonesia.
Kurangkan Artikel
MENGENAI PENULIS
Puisi ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis.
Puisi ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis.
Sumber : BERITA Mediacorp/im
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.