'Kemerdekaan di Zaman yang Bergerak'
Anggaran Waktu Membaca:
Majlis peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-79 pada tahun 2024 di Ibu Kota Nusantara (Gambar: Sekretariat Negara)
SINGAPURA: Puisi karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia ini adalah bagi meraikan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80.
Aku lahir di zaman yang berbeza dengan para pahlawan bangsaku.
Aku tidak pernah merasakan bunyi dentuman meriam,
tidak pernah menatap langsung wajah penjajah yang menginjak tanah ini.
Aku lahir ketika merah putih sudah berkibar bebas di udara,
ketika kata “merdeka” sudah menjadi milik kita semua.
Namun, apakah ertinya aku berhenti memperjuangkan kemerdekaan?
Tidak.
Kerana aku percaya, kemerdekaan tidak hanya lahir dari perang fisik.
Kemerdekaan adalah nafas yang terus bergerak, ia tumbuh mengikuti zaman,
ia menyesuaikan wujudnya dengan tantangan yang dihadapi manusia.
Di masa lalu, kemerdekaan adalah membebaskan negeri dari belenggu penjajah.
Di masa kini, kemerdekaan adalah membebaskan fikiran dari ketidaktahuan,
membebaskan hati dari kebencian,
membebaskan tubuh dari kemiskinan dan ketidakadilan,
membebaskan diri dari penjara digital yang membuat kita lupa menjadi manusia.
Aku hidup di era pasca moden -
era di mana medan tempur tidak lagi di hutan atau medan perang,
tetapi di layar gawai, di meja diskusi, di ruang kelas, di pasar,
bahkan di ruang sunyi dalam hati kita sendiri.
Perjuangan hari ini mungkin tak mengeluarkan darah,
tetapi ia tetap menuntut keberanian.
Keberanian untuk berkata benar ketika majoriti memilih diam,
keberanian untuk menjaga integriti ketika godaan datang dari segala arah,
Keberanian untuk tetap berpihak pada kemanusiaan
di tengah arus kepentingan yang kadang membutakan mata.
Bagi para pahlawan, merdeka adalah berdiri di tanah sendiri.
Bagi generasiku, merdeka adalah berdiri di atas prinsip sendiri.
Dulu mereka melawan penjajah yang terlihat,
sekarang kita melawan penjajahan yang kasat mata:
penindasan ekonomi, manipulasi informasi, diskriminasi, dan ketidakadilan.
Aku menghormati darah dan keringat para pendahulu,
sebab tanpanya aku tak akan menulis ini dengan bebas.
Tetapi tugasku hari ini adalah menjaga agar kata “merdeka”
tidak hanya tinggal dalam buku sejarah.
Merdeka bagiku adalah terus berjuang -
bukan lagi dengan senjata,
tetapi dengan ilmu, kejujuran, kreativiti, dan kepedulian.
Kerana kemerdekaan bukan sekadar tanggal di kalender,
ia adalah pilihan yang harus kita ambil
setiap kali kita dihadapkan pada ketidakbenaran.
Aku tidak pernah merasakan bunyi dentuman meriam,
tidak pernah menatap langsung wajah penjajah yang menginjak tanah ini.
Aku lahir ketika merah putih sudah berkibar bebas di udara,
ketika kata “merdeka” sudah menjadi milik kita semua.
Namun, apakah ertinya aku berhenti memperjuangkan kemerdekaan?
Tidak.
Kerana aku percaya, kemerdekaan tidak hanya lahir dari perang fisik.
Kemerdekaan adalah nafas yang terus bergerak, ia tumbuh mengikuti zaman,
ia menyesuaikan wujudnya dengan tantangan yang dihadapi manusia.
Di masa lalu, kemerdekaan adalah membebaskan negeri dari belenggu penjajah.
Di masa kini, kemerdekaan adalah membebaskan fikiran dari ketidaktahuan,
membebaskan hati dari kebencian,
membebaskan tubuh dari kemiskinan dan ketidakadilan,
membebaskan diri dari penjara digital yang membuat kita lupa menjadi manusia.
Aku hidup di era pasca moden -
era di mana medan tempur tidak lagi di hutan atau medan perang,
tetapi di layar gawai, di meja diskusi, di ruang kelas, di pasar,
bahkan di ruang sunyi dalam hati kita sendiri.
Perjuangan hari ini mungkin tak mengeluarkan darah,
tetapi ia tetap menuntut keberanian.
Keberanian untuk berkata benar ketika majoriti memilih diam,
keberanian untuk menjaga integriti ketika godaan datang dari segala arah,
Keberanian untuk tetap berpihak pada kemanusiaan
di tengah arus kepentingan yang kadang membutakan mata.
Bagi para pahlawan, merdeka adalah berdiri di tanah sendiri.
Bagi generasiku, merdeka adalah berdiri di atas prinsip sendiri.
Dulu mereka melawan penjajah yang terlihat,
sekarang kita melawan penjajahan yang kasat mata:
penindasan ekonomi, manipulasi informasi, diskriminasi, dan ketidakadilan.
Aku menghormati darah dan keringat para pendahulu,
sebab tanpanya aku tak akan menulis ini dengan bebas.
Tetapi tugasku hari ini adalah menjaga agar kata “merdeka”
tidak hanya tinggal dalam buku sejarah.
Merdeka bagiku adalah terus berjuang -
bukan lagi dengan senjata,
tetapi dengan ilmu, kejujuran, kreativiti, dan kepedulian.
Kerana kemerdekaan bukan sekadar tanggal di kalender,
ia adalah pilihan yang harus kita ambil
setiap kali kita dihadapkan pada ketidakbenaran.
Kurangkan Artikel
MENGENAI PENULIS
Puisi ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis, selain berkecimpung dengan dunia tata rias.
Puisi ini adalah karya Dadan Nugraha dari Banten, Indonesia. Beliau minat melukis dan menulis, selain berkecimpung dengan dunia tata rias.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.