NOTA DARI JAKARTA: Trend Beg Tangan Kontemporari Indonesia
Anggaran Waktu Membaca:
Ella and Glo, Plaza Senayan Jakarta, April 2026. (Gambar: Lynda Ibrahim)
JAKARTA: Dengan populasi 280 juta yang sekitar separuh daripadanya berusia 30 hingga 40 tahun, dari berbagai suku bangsa pula, Indonesia adalah ladang subur kreativiti desain.
Beragam adat, budaya dan sejarah yang bisa dijadikan rujukan visual. Elemen tradisional, menurut Lynda Ibrahim, mungkin paling dikenali orang asing kerana sering ditunjukkan melalui pakaian dan dekorasi (hiasan) adat dalam iklan pariwisata, namun bukan bererti Indonesia tak punya pilihan kontemporari.
Justeru desain-desain kontemporer (kontemporari) ini yang berkembang dari gaya, material dan kualiti, sehingga mula menjadi primadona di negeri sendiri.
Saya konsumen (pengguna) domestik yang senang memantau aksesori lokal (tempatan) Indonesia, memakai bukan semata-mata kerana kebanggaan anak bangsa tapi juga kerana produknya berkualiti dan berselera bagus.
Dari lensa saya, beberapa jenama (brand) layak dikenali oleh konsumen mancanegara (pengguna luar negara). Sebagai catatan, majoriti jenama di bawah ini pernah dipamerkan di acara ritel (runcit) atau trade show internasional (pameran antarabangsa), baik yang diundang pihak ketiga atau dibawa oleh utusan Pemerintah Indonesia.
1. Kamalika Artprints
Sesuai namanya, Kamalika mengandalkan seni cetak. Digagas oleh desainer grafik (pereka grafik) Winarti Handayani yang kerap bercerita di video peluncuran (pelancaran) produk, ilustrasi Kamalika bermula dari bebungaan, profil gadis manis, sampai simbol budaya Indonesia.
Ringan dan jenaka, Kamalika cenderung disukai anak-anak dan dewasa berjiwa muda. Menawarkan mulai dari tas, dompet, kantung serba guna, sarung bantal, selendang, pakaian, sampai masker kain (pelitup) saat pandemik, bahannya yang ringan dan mudah dikeringkan membuatnya nyaman dipakai dalam perjalanan.
Gencar berpromosi di media sosial, kedai Kamalika bisa ditemui di Sarinah Department Store yang mengkhususkan produk warisan budaya atau stesen Whoosh di Halim. Saat Whoosh baru beroperasi, Kamalika sempat mengeluarkan ilustrasi berdasarkan kereta cepat ini.
Beragam adat, budaya dan sejarah yang bisa dijadikan rujukan visual. Elemen tradisional, menurut Lynda Ibrahim, mungkin paling dikenali orang asing kerana sering ditunjukkan melalui pakaian dan dekorasi (hiasan) adat dalam iklan pariwisata, namun bukan bererti Indonesia tak punya pilihan kontemporari.
Justeru desain-desain kontemporer (kontemporari) ini yang berkembang dari gaya, material dan kualiti, sehingga mula menjadi primadona di negeri sendiri.
Saya konsumen (pengguna) domestik yang senang memantau aksesori lokal (tempatan) Indonesia, memakai bukan semata-mata kerana kebanggaan anak bangsa tapi juga kerana produknya berkualiti dan berselera bagus.
Dari lensa saya, beberapa jenama (brand) layak dikenali oleh konsumen mancanegara (pengguna luar negara). Sebagai catatan, majoriti jenama di bawah ini pernah dipamerkan di acara ritel (runcit) atau trade show internasional (pameran antarabangsa), baik yang diundang pihak ketiga atau dibawa oleh utusan Pemerintah Indonesia.
1. Kamalika Artprints
Sesuai namanya, Kamalika mengandalkan seni cetak. Digagas oleh desainer grafik (pereka grafik) Winarti Handayani yang kerap bercerita di video peluncuran (pelancaran) produk, ilustrasi Kamalika bermula dari bebungaan, profil gadis manis, sampai simbol budaya Indonesia.
Ringan dan jenaka, Kamalika cenderung disukai anak-anak dan dewasa berjiwa muda. Menawarkan mulai dari tas, dompet, kantung serba guna, sarung bantal, selendang, pakaian, sampai masker kain (pelitup) saat pandemik, bahannya yang ringan dan mudah dikeringkan membuatnya nyaman dipakai dalam perjalanan.
Gencar berpromosi di media sosial, kedai Kamalika bisa ditemui di Sarinah Department Store yang mengkhususkan produk warisan budaya atau stesen Whoosh di Halim. Saat Whoosh baru beroperasi, Kamalika sempat mengeluarkan ilustrasi berdasarkan kereta cepat ini.
2. Sovlo
Pandemik COVID-19 memaksa Lotus Group, yang bergerak di bidang suvenir (cenderamata) acara korporat dan pernikahan, putar-otak agar terus berjalan. Lahirlah Sovlo, singkatan daripada Souvenir Lokal, yang menawarkan tas dalam harga terjangkau. Berbahan plastik tembus pandang dengan aksen ilustrasi ceria, Sovlo mudah diterima remaja dan banyak terlihat di kampus perkotaan.
Walaupun konsumen (pengguna) di Sarinah mungkin lebih mengenal tasnya yang bergambar Jakarta, Sovlo juga menawarkan ilustrasi dengan pesan moral seperti pemberdayaan perempuan. Selain di pusat perbelanjaan besar, Sovlo menjaring pangsa pasar melalui PosBloc Jakarta dan Jogja National Museum (Yogyakarta) yang sarat kaum muda.
Pandemik COVID-19 memaksa Lotus Group, yang bergerak di bidang suvenir (cenderamata) acara korporat dan pernikahan, putar-otak agar terus berjalan. Lahirlah Sovlo, singkatan daripada Souvenir Lokal, yang menawarkan tas dalam harga terjangkau. Berbahan plastik tembus pandang dengan aksen ilustrasi ceria, Sovlo mudah diterima remaja dan banyak terlihat di kampus perkotaan.
Walaupun konsumen (pengguna) di Sarinah mungkin lebih mengenal tasnya yang bergambar Jakarta, Sovlo juga menawarkan ilustrasi dengan pesan moral seperti pemberdayaan perempuan. Selain di pusat perbelanjaan besar, Sovlo menjaring pangsa pasar melalui PosBloc Jakarta dan Jogja National Museum (Yogyakarta) yang sarat kaum muda.
3. Sepiring Indonesia
Pemenang desain terbaik Jakarta Souvenir Design Award 2012 ini merintis usaha melalui produk pecah belah berilustrasi kehidupan suku bangsa dan etnik Indonesia.
Dari piring dan mangkuk ke cangkir (cawan) dan thermos, lalu tas dan produk berbahan kertas. Garis ilustrasinya genit meliuk, warnanya meriah tanpa malu-malu. Bagi anda yang senang tas bergambar rapat-rapat dalam warna tegas pekat, Sepiring Indonesia menawarkan desain yang memikat.
Produknya mudah ditemui di toko (kedai) khusus produk warisan budaya seperti Sarinah dan Alun-Alun, atau bazar tahunan Inacraft dan WIC yang dipadati golongan ekspatriat.
Eridanie Zulviana dan Jasmyne Oei, motor di balik jenama ini, kadang hadir di acara publik (awam) menyapa pelanggan.
Pemenang desain terbaik Jakarta Souvenir Design Award 2012 ini merintis usaha melalui produk pecah belah berilustrasi kehidupan suku bangsa dan etnik Indonesia.
Dari piring dan mangkuk ke cangkir (cawan) dan thermos, lalu tas dan produk berbahan kertas. Garis ilustrasinya genit meliuk, warnanya meriah tanpa malu-malu. Bagi anda yang senang tas bergambar rapat-rapat dalam warna tegas pekat, Sepiring Indonesia menawarkan desain yang memikat.
Produknya mudah ditemui di toko (kedai) khusus produk warisan budaya seperti Sarinah dan Alun-Alun, atau bazar tahunan Inacraft dan WIC yang dipadati golongan ekspatriat.
Eridanie Zulviana dan Jasmyne Oei, motor di balik jenama ini, kadang hadir di acara publik (awam) menyapa pelanggan.
4. Sackai
Hasil karya pasangan suami isteri Presi Mandari yang mantan jurnalis (wartawan) dan Toto Prastowo yang seniman, Sackai dikenali melalui tas jinjing (totebag) dan tas punggung (backpack) berukuran besar.
Siluet konvensional dan warna neutralnya disenangi pekerja muda di Jakarta untuk laptop (komputer riba) dan bekas kerja. Estetika ini telah membuka pintu pasaran Jepun dan jendela ke Australia melalui pameran di Melbourne. Tahun lalu, perjalanan 11 tahun Sackai bertepatan dengan 100 tahun Oey Soe Tjoen (OST), keluarga batik legenda dari Pekalongan.
Hasil karya pasangan suami isteri Presi Mandari yang mantan jurnalis (wartawan) dan Toto Prastowo yang seniman, Sackai dikenali melalui tas jinjing (totebag) dan tas punggung (backpack) berukuran besar.
Siluet konvensional dan warna neutralnya disenangi pekerja muda di Jakarta untuk laptop (komputer riba) dan bekas kerja. Estetika ini telah membuka pintu pasaran Jepun dan jendela ke Australia melalui pameran di Melbourne. Tahun lalu, perjalanan 11 tahun Sackai bertepatan dengan 100 tahun Oey Soe Tjoen (OST), keluarga batik legenda dari Pekalongan.
Selain menggelar pameran akbar, OST memilih Sackai untuk melakukan interpretasi seni atas motif-motif dalam arsip (arkib) keluarga.
Hasilnya adalah tas 4 ukuran dalam warna 'pastel' khas OST dan Pekalongan. Diproduksi (dihasilkan) di Jakarta, Sackai bisa dibeli di Shibuya (Tokyo) atau melalui akaun media sosialnya.
Hasilnya adalah tas 4 ukuran dalam warna 'pastel' khas OST dan Pekalongan. Diproduksi (dihasilkan) di Jakarta, Sackai bisa dibeli di Shibuya (Tokyo) atau melalui akaun media sosialnya.
5. Tulisan
Walaupun jenamanya mengacu pada kata “tulis”, namun ilustrasinya jauh lebih kaya gambar ketimbang huruf. Berbeza dengan jenama lain yang kerap mengambil inspirasi daripada visualisasi budaya, ilustrator Melissa Sunjaya nampaknya lebih tertarik dengan elemen alam dan penggalan sejarah.
Guratan tangannya pada kanvas tas telah menceritakan kapas dan batu selain mengisahkan kehidupan kolonial Batavia, romantika saat perang kemerdekaan, masa kecil pejuang pendidikan Kartini dan perang sengit Pangeran Diponegoro melawan Belanda dua abad lalu.
Pernah meluncurkan novel 'Ragam Ni Si Marian' tulisan ahli antropologi dan diplomat Kartini Sjahrir dan serangkaian tas berdasarkan novel ini, Tulisan juga membuka pintu kepada beberapa ilustrator muda berbakat.
Tidak berhenti pada visual, kreativiti Tulisan diwujudkan juga pada berbagai siluet tas yang unik dan lapisan pelindung air dari plastik daur ulang. Berawal dari lapak 'semi-permanent' di lantai dasar mal (pusat beli-belah) kecil Dharmawangsa Square pada 2010 yang sempat menawarkan bahkan produk pakaian, Tulisan telah memiliki toko (kedai) di mal tersebut dan Plaza Senayan di pusat Jakarta sambil fokus kepada poster dan dunia tas.
Walaupun jenamanya mengacu pada kata “tulis”, namun ilustrasinya jauh lebih kaya gambar ketimbang huruf. Berbeza dengan jenama lain yang kerap mengambil inspirasi daripada visualisasi budaya, ilustrator Melissa Sunjaya nampaknya lebih tertarik dengan elemen alam dan penggalan sejarah.
Guratan tangannya pada kanvas tas telah menceritakan kapas dan batu selain mengisahkan kehidupan kolonial Batavia, romantika saat perang kemerdekaan, masa kecil pejuang pendidikan Kartini dan perang sengit Pangeran Diponegoro melawan Belanda dua abad lalu.
Pernah meluncurkan novel 'Ragam Ni Si Marian' tulisan ahli antropologi dan diplomat Kartini Sjahrir dan serangkaian tas berdasarkan novel ini, Tulisan juga membuka pintu kepada beberapa ilustrator muda berbakat.
Tidak berhenti pada visual, kreativiti Tulisan diwujudkan juga pada berbagai siluet tas yang unik dan lapisan pelindung air dari plastik daur ulang. Berawal dari lapak 'semi-permanent' di lantai dasar mal (pusat beli-belah) kecil Dharmawangsa Square pada 2010 yang sempat menawarkan bahkan produk pakaian, Tulisan telah memiliki toko (kedai) di mal tersebut dan Plaza Senayan di pusat Jakarta sambil fokus kepada poster dan dunia tas.
6. Dowa
Tidak semua tas kontemporari Indonesia berbahan kanvas atau nilon dengan visual cetak. Dowa memakai benang polypropylene yang dirajut berbagai bentuk. Anda yang akrab dengan pasaran Amerika Syarikat mungkin teringat The Sak saat melihat Dowa. Saat memulakan bisnes di akhir 1980-an, perusahaan ini memang menjadi pemasuk The Sak sebelum banting setir mengembangkan jenama sendiri pada awal 2000-an.
Berakar di Yogya, Dowa tekun merambah (mengembangkan) bisnes dan sekarang memiliki toko (kedai) di Jakarta. Dowa juga membangunkan lini dekorasi (koleksi hiasan) rumah seperti tatakan piring (place mat) dan tatakan gelas (coaster). Cukup dikenali media dan publik (orang ramai) berkat pendirinya, Delia Murwihartini, yang konsisten memakai desainnya dan berhubungan luas dengan berbagai lapisan bisnes dan sosial di Indonesia.
Tidak semua tas kontemporari Indonesia berbahan kanvas atau nilon dengan visual cetak. Dowa memakai benang polypropylene yang dirajut berbagai bentuk. Anda yang akrab dengan pasaran Amerika Syarikat mungkin teringat The Sak saat melihat Dowa. Saat memulakan bisnes di akhir 1980-an, perusahaan ini memang menjadi pemasuk The Sak sebelum banting setir mengembangkan jenama sendiri pada awal 2000-an.
Berakar di Yogya, Dowa tekun merambah (mengembangkan) bisnes dan sekarang memiliki toko (kedai) di Jakarta. Dowa juga membangunkan lini dekorasi (koleksi hiasan) rumah seperti tatakan piring (place mat) dan tatakan gelas (coaster). Cukup dikenali media dan publik (orang ramai) berkat pendirinya, Delia Murwihartini, yang konsisten memakai desainnya dan berhubungan luas dengan berbagai lapisan bisnes dan sosial di Indonesia.
7. Byo
Pencinta mode (fesyen) setia di Indonesia umumnya memiliki produk awal jenama ini yang saat diluncurkan langsung melejit, iaitu tas kempit. Latar belakangnya sebagai desainer (pereka fesyen) industri membuat Tommy Ambyo Tedji akrab dengan plastik daur ulang dan bahan yang terbuang; ia juga mampu membangunkan bentuk dari pendekatan pola pengulangan bahan dan bukannya desain semata-mata.
Pengalaman kerjanya di dunia ritel (runcit) sebelum menekuni bisnes sendiri membuatnya faham cara mengemas pesan pemasaran dan menyuguhkan produknya di pasaran.
Pencinta mode (fesyen) setia di Indonesia umumnya memiliki produk awal jenama ini yang saat diluncurkan langsung melejit, iaitu tas kempit. Latar belakangnya sebagai desainer (pereka fesyen) industri membuat Tommy Ambyo Tedji akrab dengan plastik daur ulang dan bahan yang terbuang; ia juga mampu membangunkan bentuk dari pendekatan pola pengulangan bahan dan bukannya desain semata-mata.
Pengalaman kerjanya di dunia ritel (runcit) sebelum menekuni bisnes sendiri membuatnya faham cara mengemas pesan pemasaran dan menyuguhkan produknya di pasaran.
Bukan nama asing di acara-acara mode akbar (sidang media) Indonesia, Byo telah berkembang dari tas 'clutch' ke banyak bentuk tas lainnya. Selain tersebar di beberapa pusat perbelanjaan Jakarta, jenama ini bisa ditemui di Terminal 3 Domestik Bandara Soekarno-Hatta dan jajaran butik Paulina Katarina di Bali.
8. Rounn
Menghangatkan namanya di bursa jenama lokal beberapa tahun terakhir ini, Rounn menawarkan tas-tas kulit bergaya dalam warna-warna eksklusif. Mengikuti trend di mana tas kulit bersiluet sederhana namun bergaya dalam berbagai komunikasinya Rounn menyatakan bahan kulitnya diimport dari Itali demi kualiti terbaik walaupun tetap dikerjakan oleh talenta lokal (bakat tempatan) Indonesia.
Dimulakan sedekad lalu oleh pasangan Ivan Tiono dan Jessica Ariella yang tinggal di Surabaya, toko-tokonya (kedai-kedainya) di kota kedua terbesar Indonesia itu didatangi konsumen lokal (pelanggan tempatan) dan dari luar kota, sementara kehadirannya di pasaran digital membuatnya bisa diakses secara internasional.
Menghangatkan namanya di bursa jenama lokal beberapa tahun terakhir ini, Rounn menawarkan tas-tas kulit bergaya dalam warna-warna eksklusif. Mengikuti trend di mana tas kulit bersiluet sederhana namun bergaya dalam berbagai komunikasinya Rounn menyatakan bahan kulitnya diimport dari Itali demi kualiti terbaik walaupun tetap dikerjakan oleh talenta lokal (bakat tempatan) Indonesia.
Dimulakan sedekad lalu oleh pasangan Ivan Tiono dan Jessica Ariella yang tinggal di Surabaya, toko-tokonya (kedai-kedainya) di kota kedua terbesar Indonesia itu didatangi konsumen lokal (pelanggan tempatan) dan dari luar kota, sementara kehadirannya di pasaran digital membuatnya bisa diakses secara internasional.
9. Ella and Glo
Berawal dari sebuah lapak 'semi-permanent' di mal (pusat beli-belah) kecil Dharmawangsa Square lebih sedekad lalu yang menawarkan tas dan sepatu, jenama yang didirikan Dian Purba ini meroket (melonjak) saat mula menggunakan teknik laser yang bukan sahaja membuat tasnya cantik tapi juga ringan walaupun sepenuhnya dari kulit. Bersikukuh menggunakan bahan kulit lokal (tempatan), Ella and Glo yang tadinya menawarkan semua warna bermula dari warna 'pastel' sampai neutral bertahap mengatur ulang manajemen (pengurusan) sediaannya (inventory) dan sekarang lebih mengikuti warna khas musim.
Kelebihan Ella and Glo adalah keleluasaan memesan tas dalam warna dan sayatan laser tertentu (custom order) bagi konsumen (pelanggan) yang mahu menunggu.
Sering menggunakan butik baharunya di Plaza Senayan untuk berbagai acara, desain-desain Ella and Glo yang lincah bermain di antara bentuk formal dan santai menangkap basis konsumen (pelanggan) yang cukup lebar di Jakarta.
Berawal dari sebuah lapak 'semi-permanent' di mal (pusat beli-belah) kecil Dharmawangsa Square lebih sedekad lalu yang menawarkan tas dan sepatu, jenama yang didirikan Dian Purba ini meroket (melonjak) saat mula menggunakan teknik laser yang bukan sahaja membuat tasnya cantik tapi juga ringan walaupun sepenuhnya dari kulit. Bersikukuh menggunakan bahan kulit lokal (tempatan), Ella and Glo yang tadinya menawarkan semua warna bermula dari warna 'pastel' sampai neutral bertahap mengatur ulang manajemen (pengurusan) sediaannya (inventory) dan sekarang lebih mengikuti warna khas musim.
Kelebihan Ella and Glo adalah keleluasaan memesan tas dalam warna dan sayatan laser tertentu (custom order) bagi konsumen (pelanggan) yang mahu menunggu.
Sering menggunakan butik baharunya di Plaza Senayan untuk berbagai acara, desain-desain Ella and Glo yang lincah bermain di antara bentuk formal dan santai menangkap basis konsumen (pelanggan) yang cukup lebar di Jakarta.
10. Peggy Hartanto
Berbeza dengan tujuh jenama di atas yang berbasis (berasaskan) aksesori atau dekorasi, Peggy Hartanto berangkat dari pendidikan desain mode (pereka fesyen). Diakui sebagai salah satu kekuatan mode berbobot dalam beberapa tahun terakhir ini, jenama yang didesain (direka) oleh Peggy dan dikelola bersama saudaranya, Petty dan Lydia, bertumbuh dari Surabaya pada tahun 2012 ke pasaran nasional dan internasional (antarabangsa).
Berbeza dengan tujuh jenama di atas yang berbasis (berasaskan) aksesori atau dekorasi, Peggy Hartanto berangkat dari pendidikan desain mode (pereka fesyen). Diakui sebagai salah satu kekuatan mode berbobot dalam beberapa tahun terakhir ini, jenama yang didesain (direka) oleh Peggy dan dikelola bersama saudaranya, Petty dan Lydia, bertumbuh dari Surabaya pada tahun 2012 ke pasaran nasional dan internasional (antarabangsa).
Terpilih untuk mengerjakan koleksi kapsul bagi pasaran Indonesia saat peluncuran (pelancaran) filem 'The Little Mermaid' dan 'Wicked 2', desainnya telah luas dikenal di negara jiran sampai salah satu gaunnya dipakai oleh Loo Tze Lui,, isteri Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, dalam pelantikan suaminya pada Mei 2025.
Tahun ke-10 Peggy Hartanto bertepatan dengan kolaborasi untuk ulang tahun ke-100 Disney, sebuah kesempatan yang dipakai untuk melebarkan sayap ke produk kulit.
Dari sisi pemasaran, menjadi alat promosi dengan mobiliti yang lebih tinggi dari gaun formal. Dari sisi penjualan, membuka demografi konsumen (pelanggan) baharu yang belum menjadi konsumen (pelanggan) busana. Perhitungan ini cukup jeli melihat frekuensi konsumen (pelanggan) memasuki butik baharunya di Plaza Senayan khusus untuk menanyakan pilihan tas terbaharu.
Di Jakarta, koleksi Peggy Hartanto juga bisa ditemui di butik Pillar di Plaza Indonesia yang dikelola salah satu perusahaan pakaian mapan Indonesia.
Tahun ke-10 Peggy Hartanto bertepatan dengan kolaborasi untuk ulang tahun ke-100 Disney, sebuah kesempatan yang dipakai untuk melebarkan sayap ke produk kulit.
Dari sisi pemasaran, menjadi alat promosi dengan mobiliti yang lebih tinggi dari gaun formal. Dari sisi penjualan, membuka demografi konsumen (pelanggan) baharu yang belum menjadi konsumen (pelanggan) busana. Perhitungan ini cukup jeli melihat frekuensi konsumen (pelanggan) memasuki butik baharunya di Plaza Senayan khusus untuk menanyakan pilihan tas terbaharu.
Di Jakarta, koleksi Peggy Hartanto juga bisa ditemui di butik Pillar di Plaza Indonesia yang dikelola salah satu perusahaan pakaian mapan Indonesia.
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.