NOTA DARI JAKARTA: Tradisi Warung Kopi Kembali Semarak Di Indonesia
Saya tidak pernah melupakan saat membaca “Javanese Arabica” dan “Sumatra Mandheling” di papan menu Starbucks di Los Angeles pada pertengahan 1990-an.
Good Folks Cafe di Jakarta pada Jun 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Saya lebih kaget (kagum) saat mengetahui “Java” juga diertikan “kopi” dalam bahasa pergaulan di Amerika. 'A cup of Java' dan a 'cup of Joe' bererti secangkir (secawan) kopi.
Bahawa Indonesia menghasilkan kopi, saya sudah tahu sebelumnya. Tapi baharu sore (petang) itu saya menyedari kopi Indonesia sudah mendunia, sampai masuk ke waralaba (francais) kedai kopi terbesar Amerika Syarikat.
VARIASI KOPI INDONESIA
Secara umum dunia mengenali spesies kopi Arabika (C. arabica) dan Robusta (C. canephora), di mana Arabika mendominasi sekitar 60% pasokan (bekalan). Kopi Indonesia pun mayoritas (majoritinya) Arabika, walau ada juga budi daya Robusta dan Liberika (C. liberica). Dari semua spesies ini, Indonesia diberkati berbagai varietas (beraneka macam).
Arabika memberikan varietas kopi Gayo (Aceh), Mandailing (Sumatra Utara), Java Preanger (Jawa Barat), Toraja (Sulawesi Selatan), Flores Bajawa (Nusa Tenggara Timur) dan Wamena (Papua). Kopi Lampung umumnya Robusta, sedang Liberika bisa ditemui di Banyuwangi (Jawa Timur), Jambi dan Riau.
Di luar varietas ini, ada juga kopi luwak yang didapatkan dari ampas tubuh musang. Aroma dan rasanya begitu kuat dan khas, selain sulit didapatkan, sehingga menjadi kopi termahal di dunia. Begitu eksklusifnya citra kopi luwak sampai pernah dibahas di bicarawara Oprah Winfrey.
Sejak dahulu kopi bubuk mudah didapatkan di Indonesia dalam berbagai varietas dan kualitasm (mutu). Orang Indonesia umumnya suka kopi panas, kerap ditambah susu dan gula. Kopi instan (kopi segera) yang hadir pada 1980-an kian memudahkan masyarakat 'urban' Indonesia yang berkembang pesat.
Baru sedekad lalu, saat minat serius pada kopi tumbuh, biji kopi dicari dan individu berinvestasi (melabur) pada mesin pengolah biji kopi.
Warung kopi adalah pemandangan lumrah di Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka. Di Aceh, golongan pria biasa belanja ke pasar dan mampir ke warung kopi sebelum pulang. Di Kalimantan Barat, pria Tionghoa (Cina) minum kopi di warung sebelum pergi berdagang. Hampir seluruh sudut Indonesia punya warung kopi dengan kebiasaan tersendiri, mungkin dengan persamaan dipadati lelaki.
Kopi yang disajikan cukup konvensional, kerap ditambah susu dan gula. Secara umumnya warung kopi, grup (kumpulan) lawak terkenal Indonesia 1980-1990an menamai diri Warkop DKI dan menyusun lawak seperti obrolan (perbualan) di warung kopi.
Tumbuhnya perekonomian dan pusat perbelanjaan mewah seperti Plaza Indonesia pada 1990-an memberi ruang untuk kedai kopi moden Excelso Café, 11 tahun sebelum Starbucks masuk Indonesia.
Sering pecah perdebatan antara peminum kopi konvensional dengan 'coffee snob' di media sosial. Antara lesu bisnes pascapandemik, warung kopi malah melejit (meningkat).
Mengopi di tempat komersial menjadi hobi baharu, walau agak berbeza dengan tradisi lama. Bila generasi sebelumnya bisa berjam-jam di warung kopi kerana mengobrol (berbual-bual) dengan sesama, konsumen (konsumsi) 'coffee shop' sekarang cenderung bekerja dengan gawai atau untuk tujuan media sosial.
Akibatnya, tak hanya sebatas cita rasa dan pelayanan, 'coffee shop' terkini Indonesia juga bersaing dalam desain interior (reka bentuk dalaman) dan suasananya. Berbagai kedai muncul dengan nama sentimental seperti Kopi Kenangan, Janji Jiwa dan Coffee With Me.
Bakoel Koffie, yang telah memanggang biji kopi sejak 1878, mempertahankan dekor antik dan menyediakan kue (kuih) tradisional.
Filosofi Kopi, yang berawal dari sebuah filem, memilih bangunan tua di jantung kawasan komersial Blok M Jakarta atau tepi sawah di luar Yogyakarta. Beberapa meter dari Filosofi Kopi Jakarta, Arahome menata kedainya dengan perabot ramah lingkungan (mesra alam).
Common Grounds, yang sukses membuka beberapa cabang (cawangan) dan disenangi untuk rapat bisnes, mengeluarkan suvenir (cenderahati) untuk 10 tahun berdirinya.
BERTAHAN SAMPAI KAPAN?
Tak bisa dipungkiri bisnes makanan dan minuman (F&B) di Indonesia bersiklus (kitaran perniagaan) cukup pendek. Sejak awal milenia ini, Indonesia telah menyaksikan pasang surutnya fenomena kedai mie, roti, donut kentang dan teh susu.
Saat orang Indonesia sudah merasa ahli kopi atau puas bergaya di warung kopi, fenomena warung kopi moden mungkin akan mereda dan menyisakan pebisnis (usahawan) serius yang sukses menemukan pangsa pasar setianya.
Bisa jadi juga siklus warung kopi moden akan lebih panjang, mengingat kayanya varietas kopi Indonesia. Dan kerana Tanamera dan Kopi Kenangan saat ini telah merambah (menebarkan sayap) ke Singapura dan Malaysia, tidak mustahil pula sebuah waralaba (francais) warung kopi Indonesia akan menjadi pemain baru di kancah dunia.
Terlepas dari semua kemungkinan masa depan, saat ini warung kopi moden Indonesia sedang berjaya menangguk cuan bak nelayan di lubuk penuh ikan. Bila tuan dan puan belum sempat mencuba, luangkanlah waktu mumpung pilihan sedang begitu kaya dan memanjakan konsumennya (pelanggannya).
MENGENAI PENULIS
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.