NOTA DARI JAKARTA: Sandang Indonesia: Dari pakaian tradisional ke busana pilihan masa kini
BERITA Mediacorp: Melintang dari Sabang sampai Merauke, membujur dari Miangas sampai Rote, 34 propinsi (wilayah) Indonesia memiliki bermacam kekayaan, termasuk kekayaan sandang.
Dalam bentuk tradisional, busana ini masih disandang untuk upacara adat dan acara formal. Namun dalam keseharian, bentuk dan bahan busana tradisional telah ramai dimodifikasi (disesuaikan) sebagai pakaian moden untuk pemakaian sehari-hari.
Kolaborasi antara pengrajin (tukang seni) dan desainer mode (pereka) kian semarak beberapa tahun ini. Pengrajin mendulang bisnes tambahan di luar kebutuhan acara formal, desainer (pereka busana) mendapatkan inspirasi baru dalam berkreasi (berkarya).
Secara tradisional, perempuan Indonesia mengenakan kain di bahagian bawah tubuh. Kain tradisional (wastra) Indonesia secara umum terdiri daripada batik, tenun dan jumputan. Di bahagian atas, kadang masih dibalut kain tradisional yang sama, sering ditambah sebentuk pakaian lagi seperti kebaya atau baju kurung. Mari menengok beberapa busana klasik dan kreasi (rekaan) moden dari desainer mode (pereka busana) Indonesia.
KEBAYA
Dirumuskan secara klasik di Indonesia sebagai atasan berbukaan depan, kebaya juga ditemui di rumpun Nusantara lain seperti Malaysia dan Singapura. Secara tradisional dikenakan dengan kain panjang atau sarung, kebaya masih umum dikenakan sehari-hari di Indonesia sampai dekad 1950-an. Filem Tiga Dara (1957) dengan jitu mengilustrasikan pergeseran selera busana di mana puteri sulung berkebaya, puteri tengah bergaun, dan puteri bungsu memakai setelan celana.
Selama lebih setengah abad kemudian, busana moden menyebar luas di Indonesia dan kebaya cenderung dipakai sebatas pakaian formal.
Kebaya dan kain batik antik, Museum Tekstil Jakarta, Julai 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)
Beberapa tahun terakhir ini, kebaya kembali dilirik sebagai pilihan busana sehari-hari. Desainer mode (pereka busana) Indonesia semakin lincah menawarkan kebaya yang bisa dipadankan dengan pilihan kontemporer (kontemporari) selain wastra. Dalam pagelaran (pertunjukan fesyen)tahunannya baru-baru ini, Toton Januar, satu-satunya desainer Indonesia yang pernah memenangkan penghargaan Woolmark Asia, mengolah tekstil rumahan (taplak, curtain) untuk menghasilkan koleksi kebaya berenda yang indah, sesuai zaman dan ramah lingkungan (mesra alam).

Kebaya modern desain Toton Anuar, Juli 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)
BAJU KURUNG
Didefinisikan secara klasik di Indonesia sebagai pakaian atas dengan bukaan belakang, baju kurung juga banyak dijumpai di Malaysia. Sering dipadankan dengan tenun dan songket di Sumatera, baju berbukaan belakang dengan bahan menerawang juga ditemui di Sulawesi Selatan dan disebut baju bodo. Beberapa tahun terakhir ini baju kurung juga acap dijadikan pilihan bagi perempuan Indonesia yang berhijab kerana dianggap lebih longgar dan panjang potongannya ketimbang (berbanding) kebaya yang cenderung membentuk tubuh.

Baju kurung pengantin Jambi (Gambar:Buku Ragam Busanan Adat Pengantin Indonesia Oase Kabinet Kerja, 2019)
Menarik untuk melihat desain (rekaan) segar dari pagelaran (pertunjukan fesyen) tahunan Mel Ahyar, salah satu desainer Indonesia yang kerap memakai warisan budaya sebagai inspirasi, yang siluetnya bisa dikategorikan sebagai persilangan antara baju kurung dan baju bodo klasik.

Baju kurung/bodo moden desain Mel Ahyar, Augustus 2023 (Gambar: Mel Ahyar)
BATIK
Barangkali wastra Indonesia yang paling dikenal dunia, teknik batik tulis (hand-drawn) dan batik cap (hand-stamp) beserta simbolisme budaya dibaliknya mendapat pengiktirafan UNESCO pada 2 Oktober 2009 sebagai salah satu Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi (tidak ternilai).
Sejak pengiktirafan UNESCO ini, Pemerintah Indonesia menghimbau pemakaian batik setiap Jumaat, sedangkan 2 Oktober ramai dirayakan sebagai Hari Batik
Sebagai kain panjang atau sarung, batik Indonesia beragam warna dan coraknya tergantung dari asalnya. Pusat monarki Jawa seperti Surakarta dan Yogyakarta menyajikan batik yang teramat dalam filosofi kejawaannya, sementara budaya bawaan pedagang Cina, Arab dan India mempengaruhi batik di pesisiran.
Batik persisiran antik, Gaeri Hartono Sumarsono, Februari 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)
Dalam perkembangannya sekarang, batik bebas diolah oleh desainer mode (pereka busana) Indonesia sebagai atasan atau bawahan, pakaian siang atau malam, baju sehari-hari atau busana pesta moden. Zuebarqa by Benz menawarkan jaket pria pada Bali Fashion Parade baru-baru ini, sementara Ivan Gunawan dalam pagelaran (pertunjukan fesyen) tahunan Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) mengetengahkan gaun mini yang bisa dipakai berpesta atau bahkan tampil di panggung hiburan.

Jaket batik desain Zuebarqa by Benz, Bali Fashion Parade, Augustus 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)

Gaun batik desain Ivan Gunawan, JF3, Juli 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)
JUMPUTAN
Mendapat nama dari teknik pembuatannya, di mana kain harus dijumput (diambil dengan hujung jari) untuk diikat sebelum dicelupkan ke warna, jumputan adalah istilah Indonesia untuk 'tie-dye'. Selain di Jawa Tengah, jumputan juga banyak ditemui di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan yang terkenal di masa lampau sebagai pusat tahta Kerajaan Sriwijaya.
Di Jawa Tengah jumputan umum dipakai sebagai angkin penutup stagen di bawah kebaya kutubaru, sedang di Palembang sebagai wastra berataskan baju kurung.

Jumputan klasik Sumatera Selatan (sutra biru, atas) dan jumputan klasik Jawa Tengah (katu coklat, bawah) koleksi peribadi Lynda Ibrahim (Gambar: Lynda Ibrahim)
Dalam pagelaran (pertunjukan fesyen) JF3 tahun ini, Rama Dauhan yang terkenal dengan pakaian berselera muda, dan baru saja terpilih bergabung dengan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), mengolah kekayaan warna jumputan Palembang sebagai serangkaian pakaian kontemporer (kontemporari) yang cocok untuk acara santai dan 'semi formal'.

Busana moden jumputan Sumatera Selatan desain Rama Dauhan, JF3, Juli 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)
TENUN
Tak terbilang jumlah tenun di Indonesia, kerana hampir setiap propinsi (wilayah), terutama di luar Jawa dan Madura, punya tenun tradisional. Bahkan di propinsi Nusa Tenggara Timur, setiap kabupaten (daerah) saja punya berbagai tenunan dengan teknik dan filosofi tersendiri.
Tenunan berbenang emas, yang umum disebut songket, menghiasi khazanah tenunan Indonesia di Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Tidak cukup satu tulisan ini untuk membedah kekayaan tenun di Indonesia.

Aleta Baun (penenun tradisional dan penerima Goldman Environmental Prize 2013) di antara tenunan Nusa Tenggara Timur, Jakarta, November 2022 (Gambar: Lynda Ibrahim)
Kerana ketersediaan benang tenun secara domestik yang umumnya agak tebal, tenun tradisional Indonesia cenderung dipakai sebagai pakaian moden dengan siluet tertentu. Ini tidak membatasi kegigihan desainer (pereka) Indonesia, atau yayasan seperti Cita Tenun Indonesia (CTI) yang membina penenun tradisional di berbagai propinsi untuk mengolah tenun tradisional sebagai busana moden sehari-hari di luar acara adat sehingga membantu keberlangsungan ribuan penenun di seluruh Indonesia.
Dalam pagelaran (pertunjukan fesyen) tahunan JF3 tahun ini, CTI berkolaborasi dengan desainer senior (pereka mapan) Didi Budiardjo untuk menampilkan hasil binaan (rekaan) tenun Wajo (Sulawesi Selatan), tenun Jawa Tengah dengan Amot Syamsurimuda, dan tenun songket Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan Priyo Oktaviano.

Gaun tenun Sulawesi Selatan desain Didi Budiarjo, JF3, Juli 2023 (Gambar: Cita Tenun Indonesia)

Koleksi pakaian pria dari tenun Jawa Tengah desain Amot Syamsurimuda, JF3, Juli 2023 (Gambar: Cita Tenun Indonesia)

Gaun songket Nusa Tengagra Barat desain Priyo Oktaviano, JF3, Juli 202(Gambar: Cita Tenun Indonesia)
Masih di JF3, IPMI diwakili desainer muda seperti Eri Dani yang menawarkan tenun Sikka (Nusa Tenggara Timur) dari katun, dan Wilsen Willim yang berkolaborasi dengan pengrajin tenun sutera Garut (Jawa Barat) dan perusahaan daur-ulang tekstil untuk menelurkan (menghasilkan) sebuah koleksi bergaris-rancang minimalis.

Koleksi pakaian wanita dari tenun Nusa Tenggara Timur desain Eridani, JF3, Juli 2023 (Gambar: Lynda Ibrahim)
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim adalah penulis dari Jakarta.
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.