Skip to main content

Iklan

Iklan

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: Pameran karya seni kontemporari Indonesia

Anggaran Waktu Membaca:
BERITAmediacorp: Saat bicara tentang seni dan Indonesia, mayoritas (majoriti) orang asing membayangkan seni tradisional.

Tak salah - ratusan suku bangsa Indonesia memang memiliki kebudayaan berbeda yang lalu melahirkan seni tradisional tersendiri.

Bentuk seni tradisional Indonesia seperti muzik, tari, wastra (kain adat) atau benda kriya (kraf tangan) kerap terlihat di tujuan wisata, pertokoan (toko) dan tentunya acara rasmi pemerintah.

Salah satu wastra Indonesia, batik, diakui (diiktiraf) sebagai Warisan Budaya Dunia Tidak Ternilai oleh UNESCO.

Namun tak kalah menariknya dari seni tradisional Indonesia adalah dunia seni bukan tradisionalnya.

Pelukis-pelukis besar telah lahir dari kepulauan ini sebelum kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Hendra Gunawan, Affandi, S. Sudjojono adalah para maestro (pakar) yang telah dikenali di Asia pada abad ke-20. Bahkan pada abad sebelumnya, pengembaraan Raden Saleh telah membawanya ke Eropah; sebahagian karyanya menjadi koleksi beberapa keluarga kerajaan (diraja)dan museum (muzium) Eropah sampai sekarang.

National Gallery Singapore (Galeri Nasional Singapura) menyandingkan (menggabungkan) karya Raden Saleh dengan Juan Luna, pelukis legendaris (legenda) Filipina, dalam pameran duet pada awal 2018.

Seni halus dari generasi ini bisa ditemui di muzium atau balai lelang (rumah lelong) di luar Indonesia.
Lukisan karya Raden Saleh (1842) di National Gallery Singapore (2018)
Beberapa dekad terakhir ini Indonesia terus menelurkan (melahirkan) seniman-seniman berbakat yang karyanya telah diwakili oleh jaringan galeri internasional (antarabangsa), dipamerkan secara solo atau pada art fair berkelas (pameran seni bertaraf dunia). Mari melongok 2 kota di mana karya mereka banyak beredar (dipamerkan).

YOGYAKARTA

Kota Yogyakarta adalah ibu kota dari propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terletak di pesisir selatan Jawa, sejam terbang dari Jakarta.

Selain rumah dari 2 monarki (keluarga diraja) Jawa, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman, juga lokasi dari Institut Seni Indonesia (ISI), perguruan tinggi seni terkemuka di Indonesia. Tak terhitung jumlah seniman seni ternama Indonesia yang telah dilahirkan ISI.

Sampai hari ini Yogyakarta adalah markas berbagai komunitas (masyarakat) dan galeri seni, selain pameran tahunan ArtJog sejak 2008. Setelah dihambat pandemik, Artjog kembali berpameran fisik (diadakan secara fizikal) sepenuhnya pada tahun 2022.

Berbagai galeri di Yogyakarta kembali memakai (mengambil kesempatan daripada) momentum ini untuk juga menggelar (menganjurkan) pameran.

Tema keseimbangan alam terasa di ketiga lantai Jogja National Museum di mana Artjog berlangsung, dimulai dari Instalasi (seni pemasangan) Christine Ay Tjoe yang terinsipirasi (mendapat inspirasi dari) Tardigrada, hewan (haiwan) air mikroskopis (0.5 mm) yang menangguhkan metabolismenya saat lingkungan tak memungkinkannya hidup.

Seri karya Roby Nugroho menunjukkan kebakaran, hujan meteor dan patahan (pencairan) air beku. Taktik mengolah sampah plastik menjadi kalender tradisional pertanian Jawa yang memperhitungkan fenomena alam seperti masa kucing kawin. Suriabumi Santipurna melukiskan babi rakus yang nyaris disantap iblis kerana gemuknya, namun sang babi tetap tak kuasa berhenti rakus - mungkin metafora (kiasan) bagi kerakusan (sikap tamak) manusia yang merusak (merosakkan) Bumi.
Instalasi karya Christine Ay Tjoe di ArtJog (2022)
Lukisan karya Suriabumi Santipurna di Artjog (2022)
Komunitas Sakato Art, yang umumnya terdiri daripada seniman kelahiran Sumatera, menyoroti kehidupan manusia moden yang telah begitu terkonsumsi (terpengaruh) oleh arus informasi. Anagard menyindir manusia yang menjadikan gawai tangan (kerja tangan) sebagai nyawa kedua, Ronald Efendi mengilustrasikan (menggambarkan) keriuhan dan kekusutan suara, sementara instalasi (seni pemasangan) Erianto menggambarkan kebisingan dunia yang menelan senirupa.

Komunitas ini konsisten berpameran (kerap menganjurkan pameran) di Yogyakarta di bawah tajuk Bakaba; tahun ini adalah kali kelapan dan bertempat di Sarang Gallery II yang luas dan tertata artistik.
Instalasi karya Erianto, Sarang Gallery II (2022)
Tahun ini juga, di salah satu ruang pameran Sangkring Art Space, diaspora seniman Bali mengundang manusia memikirkan kembali alur dan aspek kehidupan melalui serangkaian karya. Guratan kuas Made Toris Mahendra menggambarkan mata bak semesta dan pahatan luwes (diubah suai) Didin Jirot pada stainless steel mengingatkan saya akan keragaman dunia dan keabadian drama dalam kehidupan.
Lukisan karya Made Toris Mahendra dan patung karya Didin Jirot di Sangkring Art Space (2022)
Tidak jauh dari Sangkring, Indie Art House yang dikelolakan oleh seniman Nyoman Darya sedang menampilkan sederet karya para dosen senior (pensyarah kanan) ISI. Seruangan patung dan lukisan, termasuk lukisan cat air dari dosen dan seniman legendaris (legenda) I Nyoman Gunarsa yang wafat 5 tahun lalu, bisa ditemui di galeri mungil (kecil) ini.
Lukisan karya I Nyoman Gunarsa di Indie Art House (2022)
Masih banyak galeri menarik lain di Yogyakarta, seperti Gajah Gallery, Jogja Gallery, Cemeti Institute dan Srisasanti Syndicate. Hampir selalu ada pameran sepanjang tahun, dengan kemuncaknya pada bulan pembukaan ArtJog. Bila anda pencinta seni, pastikan punya 2-3 hari untuk menyusuri deretan galeri ini.

JAKARTA

Jakarta bukan hanya ibu kota administrasi, tapi juga pusat bisnis di Indonesia, termasuk bisnis senirupa kotemporer (seni lukisan kontemporari). Beberapa acara reguler (tetap), muzium, galeri dan bahkan rumah lelang (rumah lelong) seni bisa ditemukan.

Art Jakarta adalah art fair (pesta seni) paling lama di Jakarta, sempat berganti nama dari Bazaar Art dan Bravacasa Art.

Ditopang (disokong) beberapa media yang segrup (sekumpulan) dengan penyelenggaranya, Art Jakarta berkembang menjadi acara populer (popular) bahkan di antara warga Jakarta yang tak akrab dengan dunia senirupa (seni lukisan).

Berbagai galeri lokal (tempatan) dan asing menampilkan karya perupa (pelukis) domestik dan mancanegara (luar negara).

Pada Bazaar Art 2017 misalnya, salah satu seri penari karya Shyama Nadimpalli (Singapura) masuk dalam majalah Harper’s Bazaar Indonesia.
2 lukisan karya Shyama Nadimpalli (2007) di kediaman seorang kolektor di Jakarta (2022)
Sama seperti acara seni lainnya, tahun ini Art Jakarta kembali berpameran penuh secara fisik (menganjurkan pameran fizikal).

Pada malam pembukaan seniman Indonesia dan asing berkumpul menyambut kolektor dan pengunjung, sementara karya yang dipamerkan mengusung banyak isu.

Lewat instalasinya, Dedy Sufriadi mengingatkan bahawa literasi, baik dalam bentuk buku fisik (fizikal) atau digital, penting bagi kemajuan manusia. Duo Tempa mengahwinkan teknik klasik cat akrilik pada kanvas dengan teknologi filter Instagram, yang bila dilihat melalui kamera ponsel (kamera telefon bimbit) akan menghasilkan multimedia dinamis (dinamika berbilang media).
Instalasi karya Dedy Sufriadi di Art Jakarta (2022)
Jim Allen Abel memakai teknik cetak sosok tenaga kesihatan berkepala ratusan pil.

Meliantha Muliawan membuka studio kecil bagi pengunjung mewarnai material plastik menjadi sayap kupu-kupu, mungkin perlambang metamorfosa (lambang metamorfosi) kehidupan baru.

Pemerintah kota Jakarta sendiri juga menggelar (menganjurkan) Jakarta Biennale setiap dua tahun, dipusatkan (bertempat) di beberapa lokasi seperti Taman Ismail Marzuki, Muzium Nasional Indonesia, atau Gudang Sarinah Ekosistem.

Pada tahun 2021, dengan berbagai keterbatasan pandemik, Jakarta Biennale ke-17 tetap diselenggarakan dan salah satu karya di Biennale, patung dari fiberglass (kaca gentian) karya Nadiah Bamadhaj, yang terinspirasi (mendapat inspirasi) dari Tugu Tani di Jakarta Pusat, diletakkan di aula depan Art Jakarta tahun ini.
Patung karya Nadiah Bamadhaj di Art Jakarta (2022)
Akhir sekali, Museum of Modern & Contemporary Art in Nusantara (Muzium MACAN). Didirikan pada akhir 2017, Muzium MACAN dioperasikan dengan profesional (dikendalikan secara profesional) seperti muzium serupa di mancanegara (luar negara). Koleksi-koleksi tetapnya berkualitas (berkualiti), mulai dari S. Susjojono sampai Yayoi Kusama dan pameran berkalanya juga selalu memukau.

Saat ini, Muzium MACAN sedang menggelar (menganjurkan) pameran solo Agus Suwage, salah satu perupa kawakan (seniman mapan) Indonesia, menyoroti isu kebebasan berekspresi (kebebasan bersuara), toleransi beragama dan kesetaraan dalam masyarakat.
2 instalasi karya Agus Suwage di Muzium MACAN (2022)
Masih banyak muzium dan acara senirupa lain di Indonesia sepanjang tahun. Pandemik selama 2 tahun memang telah menghambat kegiatan berkesenian, namun seiring dengan kembalinya derap perekonomian beberapa bulan terakhir ini, torehan senirupa akan kembali menghiasi kalender sosial.

Para kolektor (pengumpul) dari Singapura, sudah berkunjung kembalikah ke Indonesia?

MENGENAI PENULIS:
Lynda Ibrahim adalah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/nk

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Iklan

Lebih banyak artikel Berita

Iklan

Aa