NOTA DARI JAKARTA: Oleh-Oleh Haji - Antara Realiti Moden & Tradisi
Anggaran Waktu Membaca:
Suasana di dalam salah sebuah kedai yang menjual barangan dan cenderahati Haji di Pasar Tanah Abang. (Gambar: Lynda Ibrahim)
JAKARTA: Oleh-oleh adalah sebuah konsep budaya yang kerap harus saya jelaskan kepada teman atau kolega (rakan kerja) orang asing, terutama perbezaannya dengan hadiah.
Bagi orang Indonesia, hadiah bisa diberikan pada berbagai kesempatan seperti ulang tahun dan kelulusan sekolah, tapi oleh-oleh khusus merujuk kepada hadiah yang dibawakan dari perjalanan. Oleh-oleh menandakan bahawa saat si pemberi sedang berpergian, jauh dari orang-orang tercinta, ia tetap mengingatkan mereka dan membawakan sesuatu yang dia temukan di tempat berpergiannya. Dalam konteks hubungan sosial Indonesia, oleh-oleh menandakan kedekatan emosi antara pemberi dan penerima, diwujudkan dalam benda yang dibeli saat berjauhan.
Mengingat sifat komunal masyarakat Indonesia, dengan jejaring sosial luas, sampai ada istilah “pista”, tipis tapi rata, untuk menggambarkan tantangan membawakan oleh-oleh untuk banyak orang saat dana terbatas. Tidak apa hanya membawakan benda murah, yang penting semua dapat rata.
Konsep sosial serupa hanya pernah saya temukan di Filipina, di mana Bahasa Tagalog memiliki kata 'pasalubong' yang bererti oleh-oleh.
Oleh-Oleh Haji Ada Makna Tersendiri
Oleh-oleh dari menunaikan ibadah umrah dan haji punya makna yang lebih kaya lagi. Bukan sekadar penanda kedekatan peribadi, juga sering dipercaya membawa berkah dari Tanah Suci. Air zamzam, misalnya, sering dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit. Kepercayaan ini mungkin berhulu dari masa lalu saat masih sulit, lama dan mahal untuk mencapai Tanah Suci. Seiring meningkatnya perekonomian Indonesia dan maraknya penerbangan, umrah makin terjangkau kalangan luas.
Bagi orang Indonesia, hadiah bisa diberikan pada berbagai kesempatan seperti ulang tahun dan kelulusan sekolah, tapi oleh-oleh khusus merujuk kepada hadiah yang dibawakan dari perjalanan. Oleh-oleh menandakan bahawa saat si pemberi sedang berpergian, jauh dari orang-orang tercinta, ia tetap mengingatkan mereka dan membawakan sesuatu yang dia temukan di tempat berpergiannya. Dalam konteks hubungan sosial Indonesia, oleh-oleh menandakan kedekatan emosi antara pemberi dan penerima, diwujudkan dalam benda yang dibeli saat berjauhan.
Mengingat sifat komunal masyarakat Indonesia, dengan jejaring sosial luas, sampai ada istilah “pista”, tipis tapi rata, untuk menggambarkan tantangan membawakan oleh-oleh untuk banyak orang saat dana terbatas. Tidak apa hanya membawakan benda murah, yang penting semua dapat rata.
Konsep sosial serupa hanya pernah saya temukan di Filipina, di mana Bahasa Tagalog memiliki kata 'pasalubong' yang bererti oleh-oleh.
Oleh-Oleh Haji Ada Makna Tersendiri
Oleh-oleh dari menunaikan ibadah umrah dan haji punya makna yang lebih kaya lagi. Bukan sekadar penanda kedekatan peribadi, juga sering dipercaya membawa berkah dari Tanah Suci. Air zamzam, misalnya, sering dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit. Kepercayaan ini mungkin berhulu dari masa lalu saat masih sulit, lama dan mahal untuk mencapai Tanah Suci. Seiring meningkatnya perekonomian Indonesia dan maraknya penerbangan, umrah makin terjangkau kalangan luas.
Tapi pergi haji masih sulit bagi banyak penduduk Indonesia; umum terjadi, setelah menabung lama, hanya pernah ke luar negeri saat akhirnya mampu berhaji. Akhirnya, sensasi yang dirasakan semua superlatif, dan menjadi satu-satunya acuan pengalaman di Tanah Suci, sehingga muncul kepercayaan dan sugesti (pengaruh).
Kembali ke soal oleh-oleh. Sebenarnya kebiasaan memberikan oleh-oleh sudah sedikit bergeser di Indonesia, terutama antara generasi muda urban (bandar). Makin banyak yang sering berpergian kerana pekerjaan atau mampu berwisata, sehingga berpergian tidak lagi terlalu istimewa. Pada situasi seperti ini, oleh-oleh biasanya hanya untuk lingkaran terdekat. Pembatasan barang bawaan, terutama disebabkan oleh 'budget airlines', juga berpengaruh.
Kecenderungan gaya berwisata generasi muda, yang mementingkan pengalaman ketimbang (berbanding) belanja, juga punya andil dalam bergesernya kebiasaan membawakan oleh-oleh.
Kecuali untuk oleh-oleh haji, terutama bagi yang mungkin hanya saat itu berkesempatan ke luar negeri. Tapi bagaimana mengakalinya, terutama bagi jemaah haji Indonesia yang dibatasi 32kg bagi setiap bagasi, 7kg beg dalam kabin dan 5 liter air zamzam oleh Pemerintah?
Oleh-Oleh Haji Dijual di Pasar Tanah Abang
Solusi (huraian) kreatif muncul berupa usaha yang mengkhususkan diri menjual suvenir (cenderahati) khas Tanah Suci. Di jalan raya menuju Pasar Tanah Abang, pasar grosir (borong) terbesar Indonesia yang berlokasi di Jakarta Pusat, bisa ditemui beberapa toko (kedai) khusus menjual oleh-oleh umrah dan haji.
Kembali ke soal oleh-oleh. Sebenarnya kebiasaan memberikan oleh-oleh sudah sedikit bergeser di Indonesia, terutama antara generasi muda urban (bandar). Makin banyak yang sering berpergian kerana pekerjaan atau mampu berwisata, sehingga berpergian tidak lagi terlalu istimewa. Pada situasi seperti ini, oleh-oleh biasanya hanya untuk lingkaran terdekat. Pembatasan barang bawaan, terutama disebabkan oleh 'budget airlines', juga berpengaruh.
Kecenderungan gaya berwisata generasi muda, yang mementingkan pengalaman ketimbang (berbanding) belanja, juga punya andil dalam bergesernya kebiasaan membawakan oleh-oleh.
Kecuali untuk oleh-oleh haji, terutama bagi yang mungkin hanya saat itu berkesempatan ke luar negeri. Tapi bagaimana mengakalinya, terutama bagi jemaah haji Indonesia yang dibatasi 32kg bagi setiap bagasi, 7kg beg dalam kabin dan 5 liter air zamzam oleh Pemerintah?
Oleh-Oleh Haji Dijual di Pasar Tanah Abang
Solusi (huraian) kreatif muncul berupa usaha yang mengkhususkan diri menjual suvenir (cenderahati) khas Tanah Suci. Di jalan raya menuju Pasar Tanah Abang, pasar grosir (borong) terbesar Indonesia yang berlokasi di Jakarta Pusat, bisa ditemui beberapa toko (kedai) khusus menjual oleh-oleh umrah dan haji.
Dari makanan sampai pajangan (barang hiasan), mereka sediakan. Ada yang menata tokonya bak butik ber- AC (berhawa dingin), banyak yang mengatur toko mirip pasar tradisional di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Makanan yang biasa ditemui di Timur Tengah seperti kurma, kismis, kacang Arab, manisan sampai coklat tanpa alkohol bisa dibeli ikut kilogram atau kemasan. Air zamzam, yang begitu dicari penziarah di Makkah dan umum dipercaya memiliki berkah, tersedia dalam kemasan plastik tersegel berbagai ukuran.
Produk tekstil seperti songkok, serban dan sejadah memenuhi dinding dan lantai toko-toko ini, bahkan salah satunya menjual karpet (permaidani). Staf (kakitangan) penjual dengan fasih menerangkan mana sejadah produksi (buatan) Turki, yang mana karpet berukuran sejadah dari Persia (Iraq). Bertaburan juga tasbih, dari kayu sampai plastik.
Produk tekstil seperti songkok, serban dan sejadah memenuhi dinding dan lantai toko-toko ini, bahkan salah satunya menjual karpet (permaidani). Staf (kakitangan) penjual dengan fasih menerangkan mana sejadah produksi (buatan) Turki, yang mana karpet berukuran sejadah dari Persia (Iraq). Bertaburan juga tasbih, dari kayu sampai plastik.
Pada era 1990-an shisha kerap jadi oleh-oleh haji yang mewah, saat ini kategori pajangan (barang hiasan) didominasi peralatan minum dan perangkat aromaterapi. Parfum (minyak wangi) yang diklaim (didakwa) bebas alkohol ditawarkan dalam berbagai aroma. Pernak-pernik (barangan kecil) lain seperti dompet, tas, bahkan boneka unta tersedia.
Mengikuti perkembangan bisnes ritel (runcit), toko-toko ini tidak hanya terbatas secara fisik (fizikal), tapi juga bisa diakses melalui e-marketplace (e-dagang). Pada jam-jam tertentu, pegawai toko melakukan Live Sale (penstriman penjualan langsung), pembayaran secara elektronik dan pengiriman di hari yang sama.
Untuk perbelanjaan dengan nilai minimum tertentu, beberapa toko bahkan bersedia menghantarkan selama masih beralamat di Jakarta. Beberapa staf (kakitangan) penjual bercerita bahawa pembeli bukan hanya jemaah dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga beberapa jemaah negara jiran. Tidak menghairankan, kerana keberadaan toko-toko ini luas diketahui paling tidak oleh warga Jakarta.
Untuk perbelanjaan dengan nilai minimum tertentu, beberapa toko bahkan bersedia menghantarkan selama masih beralamat di Jakarta. Beberapa staf (kakitangan) penjual bercerita bahawa pembeli bukan hanya jemaah dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga beberapa jemaah negara jiran. Tidak menghairankan, kerana keberadaan toko-toko ini luas diketahui paling tidak oleh warga Jakarta.
Adakah Oleh-Oleh Haji Dari Tanah Suci Akan Hilang Keistimewaannya?
Dari sisi kepraktisan (praktikal), ini solusi (huraian) moden berbanding tradisi. Namun dari sisi filosofis (berdasarkan falsafah), apa sebenarnya erti oleh-oleh, yang harusnya menunjukkan rasa ingat saat di tempat jauh dan kelangkaan benda yang dibawa, saat benda tersebut bisa dibeli dengan mudah di kampung halaman sendiri?
Akankah suatu hari, saat mayoritas (majoriti) masyarakat Indonesia sudah mampu berpergian jauh, atau basa-basi sosial semakin berkurangan kerana pergerakan zaman, tradisi membawakan oleh-oleh akan mengerucut (menguncup) hingga ke anggota keluarga inti sahaja dan hanya dari perjalanan-perjalanan tertentu?
Akankah suatu hari, saat mayoritas (majoriti) Muslim Indonesia sudah mampu berumrah dan berhaji, oleh-oleh Tanah Suci tak akan terlalu dicari lagi? Bisa jadi, saat masyarakat Indonesia sampai di titik itu, toko-toko ini akan kehilangan relevannya. Namun saat ini, mereka menyediakan solusi (hurian) bagi sebuah tradisi.
Idul Adha (Aidiladha) di Indonesia disambut pada Jumaat, 6 Jun 2025. Ada tuan dan puan yang perlu oleh-oleh haji untuk sanak keluarga? Mungkin bisa mampir ke Jakarta.
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Dari sisi kepraktisan (praktikal), ini solusi (huraian) moden berbanding tradisi. Namun dari sisi filosofis (berdasarkan falsafah), apa sebenarnya erti oleh-oleh, yang harusnya menunjukkan rasa ingat saat di tempat jauh dan kelangkaan benda yang dibawa, saat benda tersebut bisa dibeli dengan mudah di kampung halaman sendiri?
Akankah suatu hari, saat mayoritas (majoriti) masyarakat Indonesia sudah mampu berpergian jauh, atau basa-basi sosial semakin berkurangan kerana pergerakan zaman, tradisi membawakan oleh-oleh akan mengerucut (menguncup) hingga ke anggota keluarga inti sahaja dan hanya dari perjalanan-perjalanan tertentu?
Akankah suatu hari, saat mayoritas (majoriti) Muslim Indonesia sudah mampu berumrah dan berhaji, oleh-oleh Tanah Suci tak akan terlalu dicari lagi? Bisa jadi, saat masyarakat Indonesia sampai di titik itu, toko-toko ini akan kehilangan relevannya. Namun saat ini, mereka menyediakan solusi (hurian) bagi sebuah tradisi.
Idul Adha (Aidiladha) di Indonesia disambut pada Jumaat, 6 Jun 2025. Ada tuan dan puan yang perlu oleh-oleh haji untuk sanak keluarga? Mungkin bisa mampir ke Jakarta.
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/at
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.