Skip to main content

Iklan

Iklan

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: Meneroka pulau-pulau wisata Indonesia & daya tarikannya

Anggaran Waktu Membaca:
NOTA DARI JAKARTA: Meneroka pulau-pulau wisata Indonesia & daya tarikannya

Pulau Padar; Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Gambar: Hatta (pemandu Kakaban Trip))

BERITAmediacorp: Ramai yang tidak menyedari bahawa Indonesia bukan saja negara kepulauan tetapi juga negara kepulauan terbesar di dunia.

17,000 pulau berbagai ukuran terbentang dalam 3 zon waktu; dari Sabang sampai Merauke secara horizontal dari Miangas sampai Rote secara vertikal.

Bila seseorang mengunjungi 1 pulau perhari (sehari), butuh (memerlukan) 46.5 tahun untuk menuntaskan melihat setiap pulau di Indonesia.

Kerana bentuknya ini, wajar bila Indonesia memiliki banyak pantai dan laut yang menarik, bahkan kelas (bertaraf) dunia keindahannya untuk wisata dan olahraga laut. Bila puan dan tuan senang memacu jetski, berseluncur ombak (surfing), snorkeling dan menyelam (diving), Indonesia punya banyak pantai dan laut yang tepat untuk kegiatan-kegiatan ini.

Mari melihat beberapa di antaranya yang mungkin belum terlalu popular di antara wisatawan (pelancong) asing.

Kepulauan Derawan

Bahagian dari propinsi (wilayah) Kalimantan Timur, terletak di zon Waktu Indonesia Tengah (WITA) yang sama dengan Singapura. Kepulauan Derawan terdiri daripada beberapa pulau yang sering menjadi tujuan wisata seperti Derawan, Maratua, Kakaban dan Sangalaki, selain beberapa pulau lain.
Perairan Maratua, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Ada bandar kecil yang dibangunkan di Maratua, namun kerana sifat penerbangan perintis tidak tentu, wisatawan datang lewat (melalui) laut.

Pilihan pertama adalah terbang ke Balikpapan, dilanjutkan terbang ke Berau, sebelum diakhiri dengan speedboat (bot laju). Opsi (Pilihan)kedua, yang saya lakukan beberapa tahun lalu, terbang ke Tarakan di propinsi Kalimantan Utara, tak jauh dari perbatasan (sempadan) Sabah, lalu melanjutkan dengan speedboat selama 3 jam ke Maratua.

Perairan di sini terkenal indah untuk snorkeling dan menyelam, dengan dive centre tersedia di Derawan dan Maratua.

Sangalaki lokasi konservasi (pemuliharaan) penyu yang telah menjadi rujukan beberapa penelitian.

Kakaban memiliki danau purba yang terbentuk dari air laut yang terjebak di darat, penuh berisi biota (flora dan fauna) laut termasuk ubur-ubur (jellyfish) yang sengatannya tidak berbahaya.
Danau Kakaban, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Gambar: Ceppe Martin)
Hanya ada 1 danau lain sejenis ini, terletak di Palau, Mikronesia. Di sekitar Kep. Derawan banyak gusung pasir (sandbank) yang terlihat saat air surut.
Salah satu gusung pasir (sandbank), Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Bentuk pantai dan waktu datangnya arus di sini sangat beragam, disarankan untuk selalu mengikuti petunjuk pemandu wisata laut demi keamanan (keselamatan).

Bagaimana mencapainya dari Singapura? Ada bandar kecil yang dibangun di Maratua, namun kerana sifat penerbangan perintis tidak menentu, wisatawan datang lewat (melalui) laut.

Pilihan pertama adalah penerbangan antara Singapura-Balikpapan (2 jam 35 minit), dilanjutkan penerbangan domestik Balikpapan-Berau (1 jam 25 minit), diakhiri dengan speedboat (sekitar 2 jam 45 minit) ke Kepulauan Derawan.

Opsi (Pilihan) kedua, penerbangan Singapura-Jakarta (1 jam 50 minit), dilanjutkan penerbangan domestik Jakarta-Tarakan (3 jam), diakhiri dengan speedboat (3 jam) ke Maratua.

Taman Nasional Komodo

Bahagian dari propinsi Nusa Tenggara Timur, di sinilah rumah yang tertinggal di masa moden bagi spesies reptilia purba komodo (Varanus komodoensis), haiwan yang berstatus terancam punah dan masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature. Taman Nasional Kepulauan Komodo terdiri daripada pulau Komodo, Rinca, Padar, Gili Lawa Darat dan beberapa pulau kecil di sekitar dan termasuk dalam Tapak Warisan Dunia UNESCO.
Pulau Padar; Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Gambar: Hatta (pemandu Kakaban Trip))
Berdasarkan sensus (tinjauan) beberapa tahun lalu, komodo masih ditemukan di beberapa pulau di lingkungan Taman Nasional Komodo ini, namun turis (pelancong) biasanya diarahkan ke Rinca untuk melihat habitat komodo. Gili Lawa Darat banyak didaki menjelang fajar, sedangkan Padar popular kerana lekuk pantainya yang unik. Keberadaan coral (terumbu) merah membuat beberapa pantai di sekitar berpasir merah muda, sehingga disebut Pink Beach.
Salah satu Pink Beach, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Gambar: Malene Hansen)
Bila pemandu anda sepiawai pemandu kami beberapa tahun lalu, dia akan membawa anda ke pantai berpasir merah jambu yang tidak terlalu padat turisnya (pelancong).

Untuk menyelam dan snorkeling, perairan Komodo adalah salah satu syurga. Ikan pari (manta ray) bahkan bisa ditemui saat snorkeling. Arus cukup kuat, tidak disarankan untuk masuk ke air tanpa pemandu setempat.
Ikan pari, perairan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Gambar: Lynda Ibrahim)

Perairan juga luas, lebih efisien menginap di perahu (live aboard) beberapa malam ketimbang bolak-balik ke Labuan Bajo di Flores, pulau utama.

Dari Singapura, Anda boleh melakukan penerbangan ke Jakarta (1 jam 50 minit) atau Bali (2 jam 45 minit), lalu melanjutkan penerbangan domestik ke Labuan Bajo di pulau Flores (2 jam 25 minit dari Jakarta, 1 jam 15 minit dari Bali).

Di Labuan Bajo banyak perusahaan wisata laut yang menjual pakej pesiar (cruise) di perairan Komodo, namun disarankan sudah memesannya sebelum datang terutama di musim liburan.

Kepulauan Banda

Saat sejarah berbicara tentang perdagangan rempah-rempah dan imperialisme Eropah, maka nama Banda dan Moluccas (Maluku) akan tersebut didalamnya. Penghasil pala (nutmeg), rempah-rempah yang beberapa ratus tahun lalu harganya senilai emas, Kepulauan Banda di Maluku telah didatangi pedagang asing sejak abad ke-16.

Bahkan dua pulau utama penghasil pala di sini, Run dan Ay, menjadi koloni (tanah jajahan) Inggeris pertama di Asia Tenggara - tersebut dalam gelar Raja James I sebagai “Poolarun” dan “Poolaway”.

Kerana perusahaan dagang Eropah seperti EIC dan VOC merambah Asia dengan bantuan senjata, kepulauan Banda menjadi ajang pertumpahan darah, baik antara penjajah atau penjajah terhadap penduduk setempat.

Saat Belanda makin menguat di Asia dan Inggeris mulai fokus pada Benua Baru, kedua negara sepakat mengadakan pertukaran. Dalam Treaty of Breda (Perjanjian Breda) tahun 1667 ini, Inggeris melepaskan Run, Ay dan Suriname kepada Belanda, sementara Belanda melepaskan New Amsterdam kepada Inggeris. Inggeris menggantikan nama koloni barunya menjadi New York, bandar ikonik di Amerika Syarikat sekarang.

Pulau besar lain di kepulauan ini adalah Banda Besar, Banda Naira, Sjahrir dan Hatta.

Bawah laut perairan Pulau Banda Naira, Kepulauan Banda, Maluku. (Gambar: Akhmad Budianto)
Kedua pulau terakhir dinamai dengan pahlawan kemerdekaan Indonesia yang diasingkan Belanda di Banda Naira pada awal abad ke-20.

Banda Besar dan Banda Naira dipenuhi benteng tua dan beberapa bangunan berstruktur unik yang menunjukkan jejak Arab, Portugis, Belanda dan Inggeris.
Sisa benteng Eropah (abad ke-17), Pulau Banda Besar, Kepulauan Banda, Maluku. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Begitu banyak perairan tenang di kepulauan ini yang pas (sesuai) untuk snorkeling, termasuk di sekitar Gunung Api, gunung vulkanik dari dasar laut yang hujungnya menjulang keluar permukaan air membentuk pulau persis di hadapan Banda Naira dan Banda Besar.
Gunung Api terlihat dari Pulau Sjahrir, Kepulauan Banda, Maluku. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Air di sekitar Gunung Api hangat dan arus kuat, sehingga pastikan snorkeling dengan pelampung dan pemandu.

Banda Naira sudah lama memiliki bandar kecil yang pernah beroperasi, namun ketidakpastian penerbangan perintis membuat jalur terbaik bagi turis (pelancong) adalah rute (perjalanan) laut dari Ambon, ibu kota propinsi Maluku, baik melalui feri atau seperti yang saya tempuh dulu, kapal laut Pelni.
Bawah laut perairan Pulau Banda Naira, Kepulauan Banda, Maluku. (Gambar: Akhmad Budianto)
Dari Singapura, Ambon hanya bisa dicapai melalui penerbangan domestik dari Jakarta (3 jam 35 minit).

Daerah-Daerah Lain

Tidak cukup satu tulisan untuk membahas daerah tujuan wisata laut di Indonesia. Tiga ilustrasi di atas memiliki keunikan tersendiri selain keindahan pantai dan kekayaan bawah lautnya, namun tak bererti perairan lain di Indonesia kalah indahnya.

Khusus untuk 'surfing' misalnya, ombak di pantai-pantai di Mentawai (Sumatera Barat) dan Sumba (propinsi Nusa Tenggara Timur) kerap masuk ke daftar kelas dunia. Mentawai bisa dicapai dengan penerbangan domestik dari Padang, sedang Sumba dengan penerbangan domestik dari Bali.
Penyelam Veny Lai di hadapan hiu paus (whaleshark), perairan Nabire, Papua. (Gambar: Ronald Soefajin)
Di Papua misalnya, Anda bisa menemui hiu paus (whaleshark) saat menyelam di sekitar Nabire, sementara perairan di sekitar Kaimana bukan saja telah menginspirasi lagu Senja di Kaimana sejak 1990-an namun juga punya beberapa pantai tersembunyi di pulau tak berpenghuni yang pasirnya juga dipenuhi coral (terumbu) merah dan berwarna merah jambu.
Terumbu karang (coral) merah dan pantai berpasir pink, perairan Kaimana, Papua. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Penerbangn ke Papua umumnya bisa dicapai dari Jakarta dan Ambon.

Bagaimana bila tuan dan puan tak punya waktu banyak untuk menjelajahi ujung-ujung Indonesia? Bali, pulau terpopular Indonesia di mata dunia, tetap menjadi tujuan wisata dengan penerbangan langsung dari berbagai bandar internasional di Asia Pasifik.

Selain pantai-pantainya di seputar pulau yang dikenal indah dan cocok untuk snorkeling atau surfing, para penyelam bisa menjumpai sisa kapal tenggelam (shipwreck) di perairan Tulamben.
Bangkai kapal tenggelam (shipwreck), perairan Tulamben, Bali. (Gambar: Dharmawan Sutanto)
Isu Keselamatan

Keselamatan dalam berwisata amat penting, terutama saat berwisata laut di mana alam menjadi penguasa.

Alam tidak selalu bisa ditebak. Berbagai organisasi penyelaman yang kredibel (bertauliah) seperti PADI ada di Indonesia, ditambah baru-baru ini dengan Divers Alert Network (DAN).

Berpusat di Amerika Serikat, organisasi nirlaba (bukan untuk mengaut keuntungan) ini fokus mencegah kecelakaan scuba diving melalui pembinaan dan menangani kecelakaan melalui telefon hotline.

Di Deep & Extreme Indonesia 2022, pameran wisata dan olahraga laut terbesar di Indonesia, perwakilan lokal (wakil tempatan) dan penanggungjawab internasional DAN memaparkan rencana besar organisasi untuk menatar prosedur kecelakaan penyelaman di jaringan fasilitas (kemudahan) umum dan dive centre (pusat kegiatan menyelam) yang tersebar di seluruh Indonesia, selain menyiapkan talian hotline lokal (setempat).

Jadi, tuan dan puan, sudah siap menyelami merah biru lautan Indonesia?

Kami tunggu di antara kelompok ikan dan terumbu karang.

MENGENAI PENULIS:
Lynda Ibrahim adalah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/nk

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Iklan

Lebih banyak artikel Berita

Iklan