NOTA DARI JAKARTA: Melihat Bintang Dan Menikmati Seni Di Jakarta
Anggaran Waktu Membaca:
JAKARTA: Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah salah satu institusi Pemerintah Jakarta yang luas dikenali warga Jakarta, terutama untuk seni dan budaya.
Planetarium, satu daripada tiga fasilitas (kemudahan) serupa di Indonesia, membuka pintunya setahun setelah TIM dibuka.
Pengunjung bisa mempelajari dasar astronomi melalui pameran statik tentang antariksa (outer space) sebelum menonton filem edukasi (pendidikan) di teater. Selama puluhan tahun, kunjungan ke Planetarium masuk dalam agenda karya wisata mayoritas (majoriti) sekolah di Jakarta.
Institut Kesenian Jakarta, salah satu sekolah seni terbaik Indonesia, dibuka pada tahun kedua TIM berjalan. Beberapa komunitas (masyarakat) juga sempat berumah di sana, seperti cabang Jakarta dari Lembaga Pusat Kebudayaan Bali Saraswati yang sampai 1990-an melatih penari-penari handal di pelataran TIM.
Acara seni besar Indonesia seperti Jakarta Biennale, Indonesian Dance Festival dan Pidato Kebudayaan DKJ rutin digelar di TIM. Berbagai teater lokal (tempatan) acap mempertunjukkan karyanya, termasuk produksi sarat kritik politik oleh Teater Koma sepanjang Orde Baru. Salah satu penampilan publik terakhir penyair legendaris WS Rendra, di mana dia berdiri sekian jam membacakan puisi kritik sosialnya, ditunaikan di TIM juga.
Kiprah Panjang TIM
Didirikan pada 1968, pusat seni ini menyandang nama besar Ismail Marzuki, komposer Indonesia yang menciptakan lagu-lagu kebangsaan pada tahun-tahun awal kemerdekaan. Dikelola Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), selain segenap gedung pertunjukan TIM juga rumah bagi kalangan seni di Jakarta. Luasnya yang sekitar 5.5 hektar memungkinkan berdirinya banyak bangunan dan taman.Planetarium, satu daripada tiga fasilitas (kemudahan) serupa di Indonesia, membuka pintunya setahun setelah TIM dibuka.
Pengunjung bisa mempelajari dasar astronomi melalui pameran statik tentang antariksa (outer space) sebelum menonton filem edukasi (pendidikan) di teater. Selama puluhan tahun, kunjungan ke Planetarium masuk dalam agenda karya wisata mayoritas (majoriti) sekolah di Jakarta.
Institut Kesenian Jakarta, salah satu sekolah seni terbaik Indonesia, dibuka pada tahun kedua TIM berjalan. Beberapa komunitas (masyarakat) juga sempat berumah di sana, seperti cabang Jakarta dari Lembaga Pusat Kebudayaan Bali Saraswati yang sampai 1990-an melatih penari-penari handal di pelataran TIM.
Acara seni besar Indonesia seperti Jakarta Biennale, Indonesian Dance Festival dan Pidato Kebudayaan DKJ rutin digelar di TIM. Berbagai teater lokal (tempatan) acap mempertunjukkan karyanya, termasuk produksi sarat kritik politik oleh Teater Koma sepanjang Orde Baru. Salah satu penampilan publik terakhir penyair legendaris WS Rendra, di mana dia berdiri sekian jam membacakan puisi kritik sosialnya, ditunaikan di TIM juga.
Kelompok seni asing pun hilir mudik berkiprah (mengadakan kegiatan). Beberapa grup (kumpulan) balet Rusia pernah berpentas di Graha Bhakti Budaya, sedang kelompok perkusi (kumpulan genderang) STOMP dari Amerika Syarikat menggemparkan lantai Teater Jakarta pada tahun 2014.
The Japan Foundation berkali-kali membawa seniman Jepun dalam program kerjasama.
The Japan Foundation berkali-kali membawa seniman Jepun dalam program kerjasama.
Gedung pertunjukan seperti Teater Jakarta dan Graha Bhakti Budaya sekarang selayaknya panggung internasional (antarabangsa), berbagai selasar (serambi) untuk pameran dan diskusi (perbincangan) juga didirikan. Pameran 100 tahun batik Oey Soe Tjoen tahun lalu digelar (diadakan) di dua lantai salah satu bangunan baharunya.
Menjelang akhir tahun, Graha Bhakti Budaya yang baru direnovasi (diubah elok) mempertunjukkan muzikal sejarah tentang Malahayati, laksamana perempuan Aceh yang melawan kolonialis Eropah pada abad ke-16.
Namun yang terkini menyedut pengunjung, menciptakan antrian (beratur panjang) panjang berliku, adalah Planetarium. Selama proses revitalisasi TIM berlangsung, Planetarium Jakarta ditutup sekian tahun. Walaupun belum diremajakan sepenuhnya, baru di sesi pertunjukan, namun pembukaan pada masa libur akhir tahun dan tiket gratis (percuma) untuk anak sekolah lekas menjadikannya pilihan hiburan edukatif (didik hibur) murah-meriah. Penjualan tiket di tempat atau daring (online) selalu ludes (habis dijual), sehingga sempat menimbulkan tuduhan di media sosial tentang adanya calo (pihak ketiga). Antrian (beratur panjang) untuk tiket bermula sejak pagi, sebahagian gagal mendapatkan tiket walau sudah berjam-jam mengantri (beratur).
Berlokasi di Teater Bintang di lantai atas, dalam ruang berkubah berkerusi setengah rebahan (reclined) berwarna merah, selama 45 minit tayangan disajikan. Dalam teknologi visual 3 dimensi yang mengulik sensasi dan diiringi naratif, penonton dibawa mengenali Bumi, planet-planet lain dalam tatasurya ini, Galaksi Bimasakti (Milky Way), dan alam semesta yang bisa diketahui.
Senada dengan filem edukasi (pendidikan) yang pernah ditayangkan sebelumnya, filem baharu ini terasa lebih moden dan informatif dalam penyajiannya.
Berlokasi di Teater Bintang di lantai atas, dalam ruang berkubah berkerusi setengah rebahan (reclined) berwarna merah, selama 45 minit tayangan disajikan. Dalam teknologi visual 3 dimensi yang mengulik sensasi dan diiringi naratif, penonton dibawa mengenali Bumi, planet-planet lain dalam tatasurya ini, Galaksi Bimasakti (Milky Way), dan alam semesta yang bisa diketahui.
Senada dengan filem edukasi (pendidikan) yang pernah ditayangkan sebelumnya, filem baharu ini terasa lebih moden dan informatif dalam penyajiannya.
Beruntung bisa mendapatkan tiketnya pada pertengahan Januari, saya merasakan emosi tersendiri. Pertama kali datang ke TIM untuk berlatih menari Bali di LPKB Saraswati pada 1980-an, mengunjungi Planetarium saat bersekolah dasar dan rutin menghadiri acara-acara di TIM melalui naik turun kondisinya, saya senang sekali melihat TIM kembali menjadi salah satu tujuan utama warga Jakarta.
Walaupun anak muda yang datang ke pameran seni kerap hanya berfoto tanpa membaca keterangan yang menyertai karya. Walaupun pelajar yang merakam video TikTok di bawah pilar (tiang) utama yang berilustrasi sosok Raden Saleh dan Ismail Marzuki gagap saat ditanya tentang kedua-dua tokoh besar ini. Walau puluhan anak terlalu kecil dibawa orang tuanya ke Planetarium karena gratis (masuk percuma), dan akhirnya berisik sepanjang penayangan kerana belum mengerti.
Pendidikan formal Indonesia yang menghasilkan keabaian pada esensi (kepentingan) seni dan sains adalah persoalan pelik tersendiri, dan tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu institusi, namun senang melihat bahawa dalam beberapa tahun terakhir TIM bertahap bangkit dan mencuba menjawab tantangan ini.
Walaupun anak muda yang datang ke pameran seni kerap hanya berfoto tanpa membaca keterangan yang menyertai karya. Walaupun pelajar yang merakam video TikTok di bawah pilar (tiang) utama yang berilustrasi sosok Raden Saleh dan Ismail Marzuki gagap saat ditanya tentang kedua-dua tokoh besar ini. Walau puluhan anak terlalu kecil dibawa orang tuanya ke Planetarium karena gratis (masuk percuma), dan akhirnya berisik sepanjang penayangan kerana belum mengerti.
Pendidikan formal Indonesia yang menghasilkan keabaian pada esensi (kepentingan) seni dan sains adalah persoalan pelik tersendiri, dan tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu institusi, namun senang melihat bahawa dalam beberapa tahun terakhir TIM bertahap bangkit dan mencuba menjawab tantangan ini.
Semoga DKJ dan pemerintah propinsi (wilayah) Jakarta tidak lekas berpuas diri, tetap melanjutkan revitalisasi TIM. Planetarium pun baru sebahagiannya diperbaiki.
Berbagai elemen fasilitas (kemudahan), seperti lapisan karet (pokok-pokok) di jalan setapak yang kerap menjerat hak sepatu, perlu diperbaiki dan dirawat terus. Parkir liar (tempat letak kenderaan haram) di depan TIM yang terjadi kerana budaya berkendara (berkenderaan) Jakarta yang masih kental, harus dicarikan jalan keluar.
Selamat bersinar kembali, Taman Ismail Marzuki!
MENGENAI PENULIS
Berbagai elemen fasilitas (kemudahan), seperti lapisan karet (pokok-pokok) di jalan setapak yang kerap menjerat hak sepatu, perlu diperbaiki dan dirawat terus. Parkir liar (tempat letak kenderaan haram) di depan TIM yang terjadi kerana budaya berkendara (berkenderaan) Jakarta yang masih kental, harus dicarikan jalan keluar.
Selamat bersinar kembali, Taman Ismail Marzuki!
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.