NOTA DARI JAKARTA: Kes Nadiem Makarim & Reaksi Rakyat, Golongan Profesional Indonesia
Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Indonesia dan pengasas bersama syarikat khidmat tempahan kenderaan Gojek, tiba bersama isterinya, Franka Franklin, di mahkamah bagi keputusan kes rasuah berkaitan perolehan komputer riba Google Chromebook. (Gambar: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Peradilan (perbicaraan) yang berlangsung hampir setahun ini menarik perhatian dan cukup membelah pendapat publik (orang ramai), terutama setelah mengetahui vonis (keputusan mahkamah) lengkapnya berupa 10 tahun penjara, denda Rp 1 miliar (S$72,208.46) dan keharusan mengganti kerugian negara sebesar Rp 809,59 miliar (S$57.8 juta). Lynda Ibrahim menyelongkar kes yang menarik perhatian ramai ini.
SIAPA NADIEM MAKARIM?
Dilahirkan di Singapura bulan ini 42 tahun lalu, Nadiem menjalani pendidikan dasar di Indonesia sebelum menamatkan Master of Business Administration (Sarjana Pentadbiran Perniagaan) di Harvard Business School, Amerika Syarikat.
Sempat bekerja di McKinsey, Nadiem lalu ikut mendirikan dan membesarkan Zalora Indonesia sebelum pada 2011 merintis Gojek, aplikasi ride-hailing (khidmat kenderaan sewa privet) yang sampai sekarang tercatat sebagai perusahaan rintisan (start up) terbesar di Indonesia.
Pada tahun 2016, Gojek memperoleh pendanaan AS$550 juta (S$711.1 juta) dari konsortium internasional (antarabangsa) yang dibentuk dari jajaran investor (pelabur) terkemuka. Nama Nadiem semakin melambung di Indonesia kerana Gojek bukan sahaja mendigitalisasi layanan ojek (tumpangan motor), tetapi juga menyediakan jasa pembelian makanan, penghantaran barang dan beberapa jasa lainnya.
Banyak pekerjaan jasa yang tadinya ditawarkan secara peribadi, sehingga kadangkala menciptakan ketidakpastian untuk pelanggan, oleh Gojek difasilitasi (diuruskan) secara transparan (langsung) melalui aplikasi.
Saat Jokowi terpilih kembali sebagai Presiden pada 2019, Nadiem diangkat sebagai Mendikbudristek. Berbeza dengan banyak anggota kabinet dari partai politik, Nadiem adalah sedikit dari kalangan teknokrat profesional, seperti juga Menteri Kewangan legendaris Sri Mulyani Indrawati.
Harapan membuncah bahawa Nadiem bisa mengangkat standar (tahap) pendidikan formal dan menciptakan generasi kompetitif di dunia. Usia mudanya mendulang panggilan kesayangan “Mas Menteri” dari publik (orang ramai).
Jokowi sendiri acap (kerap) memuji Nadiem dan bahkan, dalam sebuah acara besar yang rakamannya bisa diakses sampai sekarang, menginstruksikan (mengarahkan) Nadiem menaikkan anggaran agar tak bisa dipotong Pemerintah periode (penggal) berikutnya.
Apakah semuanya mulus bagi Menteri Nadiem? Tidak juga. Kurikulumnya yang menitikberatkan pola belajar mandiri, pengurangan tugas di rumah (homework) dan penghapusan ujian nasional ramai dikritisi (dikritik) guru, dosen (ahli akademik) dan ahli pendidikan sebagai efektif sebatas anak keluarga mapan dengan orang tua terpelajar dan guru di sekolah berfasilitasi (dengan kemudahan) lengkap.
Saat pandemik melanda pada 2020 dan proses belajar-mengajar dipaksa beralih jarak jauh (secara online), Nadiem mengaku baru tahu bahawa tidak semua sekolah di Indonesia memiliki akses internet.
Terlepas kritik objektif dari dunia pendidikan terhadap program belajarnya dan skema penggajian dosen, Nadiem mengakhiri masa tugasnya dengan reputasi relatif baik di mata publik.
SEKILAS KASUS KORUPSI KOMPUTER
Setahun setelah Nadiem meninggalkan kabinet, kasus korupsi (kes rasuah) pengadaan (pemerolehan) komputer Chromebook terkuak. Dari dipanggil sebagai saksi, statusnya kemudian dinaikkan sebagai tersangka (suspek). Inti dari dakwaan jaksa (mahkamah) adalah Nadiem sejak awal menginstruksikan (mengarahkan) pemilihan Chromebook, sedangkan tersedia kajian Kemendikbud sebelumnya yang memilih Windows sebagai pilihan terbaik nasional terutama untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang memiliki tantangan infrastruktur dan ekonomi.
Seperti difahami, Chromebook butuh akses internet untuk beroperasi. Jaksa menuduh Nadiem menerima kompensasi (pampasan) dari Google, yang berinvestasi (melabur) dalam Gojek sejak sebelum Nadiem diangkat sebagai Menteri, walau Nadiem sendiri mundur dari struktur Gojek saat menerima tugas sebagai Menteri.
Salah satu staf khusus Nadiem yang dibawa dari dunia teknologi juga ditetapkan tersangka (didakwa) dan dipidana (dibicarakan), sedangkan seorang staf khusus lainnya sempat melarikan diri ke lua rnegeri dan buron (diburu) sampai sekarang.
APA IMPAK PADA PUBLIK INDONESIA?
Sejak awal kasus (kes), polemik pecah di publik. Secara umum, masyarakat terkejut sosok seperti Nadiem tersangkut pasal korupsi. Pengendara Gojek terlihat menghadiri sidang, bersandingan dengan kalangan intelektual dan elit Jakarta, memberikan dukungan moral. Di lain pihak, cukup banyak pelaku dunia pendidikan yang tetap mengkritisi (mengkritik) pemakaian (penggunaan) Chromebook sebagai contoh nyata kebijakan Nadiem yang tidak membumi, tanpa lantas menuduh terjadinya korupsi.
Yang mengkhuatirkan bagi saya adalah dampak (kesan) jangka panjang bagi kalangan urban profesional (karyawan), demografi yang jauh lebih kecil berbanding pekerja formal namun kerana terdidik tinggi diharapkan bisa berkontribusi (menyumbang) kepada usaha memajukan Indonesia dengan memasuki ranah Pemerintahan sipil (awam).
Demografi urban profesional tidak melihat insentif Nadiem untuk melakukan korupsi. Kenal reputasi Nadiem sebelumnya sebagai visioner (berwawasan) teknologi di Indonesia, mereka faham Nadiem bisa makin berkibar secara profesional dan finansial (kewangan) tanpa harus masuk Pemerintahan. Mereka menilai kebijakan Nadiem bertujuan meningkatkan kualitas (mutu) sumber daya manusia Indonesia.
Mereka bisa menganalisa data persidangan dan menunjukkan bahawa yang dianggap jaksa (mahkamah) sebagai kenaikan pesat harta Nadiem bisa dihubungkan dengan valuasi (nilai) saham Gojek yang masih dimiliki Nadiem. Sebagai catatan, merger (penggabungan) Gojek dengan aplikasi belanja popular Tokopedia pada 2021 dan meluncurkan (melancarkan) IPO pada 2025.
Terbaca rasa takut sekarang di kaum profesional dan terpelajar Indonesia, apalagi yang masih muda, untuk berbakti dalam Pemerintahan.
Sebahagian mereka tahu bahawa bukan sahaja Nadiem, isterinya pun dari keluarga tertentu. Franka Franklin adalah cucu bintang filem top Indriati Iskak dan Makki Perdanakusuma, adik pahlawan nasional Halim Perdanakusuma yang diabadikan sebagai nama salah satu bandara (lapangan terbang) di Jakarta.
Mereka belum lupa bahawa Tom Lembong, mantan investment banker (tokoh perbankan) berkaliber tinggi yang lalu bertugas sebagai Menteri Perdagangan di era Jokowi dan terjun ke politik pada Pemilu (Pilihan Raya Umum) 2024, juga disidang tahun lalu atas kebijakannya sebagai Menteri.
Korupsi dan kualitas (mutu) kerja Pemerintah Indonesia sering dikeluhkan rakyatnya. Masuknya teknokrat dalam kabinet selalu disambut baik, terutama sejak Reformasi 1998. Gaji pegawai Pemerintah Indonesia tertinggal dari swasta, sehingga teknokrat yang mahu pindah bekerja di Pemerintah dianggap berbakti dan berjiwa nasionalis.
Sri Mulyani Indrawati dan sederet teknokrat mumpuni lainnya pernah berkarya sebagai Menteri Kewangan. Ignatius Jonan ditarik dari industri kewangan untuk mereformasi perkeretaapian (sistem kereta api) Indonesia sebelum ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan, sebagaimana Budi G Sadikin sekarang bertugas sebagai Menteri Kesihatan.
Tom Lembong akhirnya diselamatkan grasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Nadiem Makarim menyatakan akan tetap berjuang banding. Namun, dalam kalangan urban profesional (karyawan muda), alarm (amaran) kewaspadaan telah nyaring menyala sementara semangat menyeberang ke sektor Pemerintahan bertahap meredam.
MENGENAI PENULIS
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.