NOTA DARI JAKARTA: Karya Seniwati Indonesia Semakin Menyerlah Di Singapura
Anggaran Waktu Membaca:
Karya beberapa maestro (tokoh) Indonesia selalu dipamerkan di Galeri Nasional Singapura. (Gambar: Facebook/National Gallery Singapore)
JAKARTA: Apabila berbicara tentang seni dan budaya Indonesia, umumnya yang dikenali publik asing (warga asing) adalah seni dan budaya tradisional yang meninggalkan banyak jejak dalam arsitektur (seni bina), mode (fesyen), sampai furniture (perabot).
Namun di sisi lain, seni rupa moden Indonesia juga memiliki sejarah panjang yang telah menghasilkan karya berkualitas (bermutu) yang bukan sahaja dicari oleh kolektor peribadi, tetapi juga bagi koleksi muzium dunia. Lynda Ibrahim menyusuri sejarah ini.
Di sayap Asia Tenggara di Galeri Nasional Singapura misalnya, karya beberapa maestro (tokoh) Indonesia selalu terpajang (dipamerkan).
Dalam struktur sosial Indonesia yang cenderung patriarkis, seniman perempuan Indonesia memiliki perjuangan panjang tersendiri dalam mengukirkan karya.
Cukup membesarkan hati bahawa sekarang karya seniman perempuan Indonesia semakin dikenali. Bulan April, yang acap dijadikan peringatan pendidikan untuk perempuan Indonesia melalui Hari Kartini pada tanggal 21 April, seperti ditandai oleh pameran sejarah di Museum Nasional Indonesia tahun lalu, tahun ini pula dirayakan melalui pameran khusus seniman perempuan di Galeri Nasional Indonesia.
Pada saat yang sama, salah satu tokoh seniman perempuan Indonesia menjadi sebahagian daripada pameran khusus seniman perempuan Asia di Galeri Nasional Singapura.
Mari kita tengok satu persatu.
Namun di sisi lain, seni rupa moden Indonesia juga memiliki sejarah panjang yang telah menghasilkan karya berkualitas (bermutu) yang bukan sahaja dicari oleh kolektor peribadi, tetapi juga bagi koleksi muzium dunia. Lynda Ibrahim menyusuri sejarah ini.
Di sayap Asia Tenggara di Galeri Nasional Singapura misalnya, karya beberapa maestro (tokoh) Indonesia selalu terpajang (dipamerkan).
Dalam struktur sosial Indonesia yang cenderung patriarkis, seniman perempuan Indonesia memiliki perjuangan panjang tersendiri dalam mengukirkan karya.
Cukup membesarkan hati bahawa sekarang karya seniman perempuan Indonesia semakin dikenali. Bulan April, yang acap dijadikan peringatan pendidikan untuk perempuan Indonesia melalui Hari Kartini pada tanggal 21 April, seperti ditandai oleh pameran sejarah di Museum Nasional Indonesia tahun lalu, tahun ini pula dirayakan melalui pameran khusus seniman perempuan di Galeri Nasional Indonesia.
Pada saat yang sama, salah satu tokoh seniman perempuan Indonesia menjadi sebahagian daripada pameran khusus seniman perempuan Asia di Galeri Nasional Singapura.
Mari kita tengok satu persatu.
GALERI NASIONAL SINGAPURA
Bertajuk 'Fear No Power', lima seniman perempuan dari negara Asia Tenggara yang berbeza menunjukkan karya mereka antara 1960 - 2010, 5 dekad rentang sejarah yang penuh dengan perubahan.
Dalam kancah dunia Perang Dingin dan ledakan Internet terjadi, di setiap negara asal para seniman ini ada pergolakan tersendiri.
Disambut di pintu galeri dengan sebuah patung karya Dolorosa Sinaga dari Indonesia yang menggambarkan 5 perempuan saling menumpu dalam melawan tekanan, pengunjung akan melihat karya lain Dolorosa setelah memasuki galeri. Berkecimpung dalam bidang seni rupa sepanjang Orde Baru sampai Reformasi 1998 yang didorong keterbukaan Internet, Dolorosa mengamati bahawa perempuan Indonesia kerap terpinggir bahkan saat negara maju berderap.
Serangkaian patungnya memperlihatkan perempuan, baik sendiri atau sekawan, dalam pose (gaya) bertahan dalam tekanan atau lantang melawan.
Dolorosa juga menyajikan patung yang terinspirasi suku (native group) asalnya, Batak. Berakar di Sumatra Utara, suku Batak memiliki prinsip 'patrilineal' yang membungkus seluruh sendi kehidupan. Dolorosa mengambil peti mayat (sarcophagus) tradisional Batak sebagai inspirasi karyanya.
Di sisi lain galeri, instalasi video wawancara dengan Dolorosa memperlihatkan bahawa lebih daripada pematung legendaris (legenda), dia juga pemimpin komunitas (masyarakat) yang sering menggalang berbagai seniman di rumahnya untuk diskusi (perbincangan) mendalam tentang situasi Indonesia.
Kilas balik pengalamannya sebagai Dekan dari Institut Kesenian Jakarta juga turut diceritakan. Bagi orang Indonesia seperti saya, wawancara itu adalah lensa seni menarik tentang suhu sosial-politik Indonesia. Bagi pengunjung awam, rangkaian instalasi ini adalah jendela kecil ke tatasosial kehidupan di Indonesia yang dijalani para perempuan.
Bertajuk 'Fear No Power', lima seniman perempuan dari negara Asia Tenggara yang berbeza menunjukkan karya mereka antara 1960 - 2010, 5 dekad rentang sejarah yang penuh dengan perubahan.
Dalam kancah dunia Perang Dingin dan ledakan Internet terjadi, di setiap negara asal para seniman ini ada pergolakan tersendiri.
Disambut di pintu galeri dengan sebuah patung karya Dolorosa Sinaga dari Indonesia yang menggambarkan 5 perempuan saling menumpu dalam melawan tekanan, pengunjung akan melihat karya lain Dolorosa setelah memasuki galeri. Berkecimpung dalam bidang seni rupa sepanjang Orde Baru sampai Reformasi 1998 yang didorong keterbukaan Internet, Dolorosa mengamati bahawa perempuan Indonesia kerap terpinggir bahkan saat negara maju berderap.
Serangkaian patungnya memperlihatkan perempuan, baik sendiri atau sekawan, dalam pose (gaya) bertahan dalam tekanan atau lantang melawan.
Dolorosa juga menyajikan patung yang terinspirasi suku (native group) asalnya, Batak. Berakar di Sumatra Utara, suku Batak memiliki prinsip 'patrilineal' yang membungkus seluruh sendi kehidupan. Dolorosa mengambil peti mayat (sarcophagus) tradisional Batak sebagai inspirasi karyanya.
Di sisi lain galeri, instalasi video wawancara dengan Dolorosa memperlihatkan bahawa lebih daripada pematung legendaris (legenda), dia juga pemimpin komunitas (masyarakat) yang sering menggalang berbagai seniman di rumahnya untuk diskusi (perbincangan) mendalam tentang situasi Indonesia.
Kilas balik pengalamannya sebagai Dekan dari Institut Kesenian Jakarta juga turut diceritakan. Bagi orang Indonesia seperti saya, wawancara itu adalah lensa seni menarik tentang suhu sosial-politik Indonesia. Bagi pengunjung awam, rangkaian instalasi ini adalah jendela kecil ke tatasosial kehidupan di Indonesia yang dijalani para perempuan.
GALERI NASIONAL INDONESIA
Berada di kompleks gedung kolonial di seberang stesen kereta api Gambir, Galeri Nasional Indonesia sudah puluhan tahun memperkenalkan berbagai karya seni rupa berkualitas (bermutu) dari Indonesia, termasuk saat karya-karya terbaik Raden Saleh dipamerkan bersamaan untuk pertama kalinya di Indonesia pada 2012.
"Indonesian Women Artists on the Map" digelar (diadakan) untuk kali ke-4 pada April ini, di mana 12 seniman perempuan berbagai generasi menampilkan karya yang bermuara dari konsep 'situated knowledge', sebuah kondisi yang khas ditemui dalam perumusan ilmu pengetahuan.
Dimotori Carla Bianpoen, kritikus (pengkritik) seni piawai yang telah menerbitkan literatur tentang seniman perempuan Indonesia, tim (pasukan) kurator bekerjasama dengan Galeri Cemara 6 yang didirikan oleh Almarhumah Toeti Heraty Roosseno, filsuf (pemikir) dan akademisi (ahli akademik) terkemuka Indonesia yang peduli terhadap isu perempuan.
Ada beberapa karya yang menarik perhatian saya.
Citra Sasmita, seniman dari Bali yang pernah melakukan residensi dengan NTU Centre for Contemporary Art di Singapura beberapa tahun lalu dan menghasilkan perenungan tentang peranan perempuan Bali dalam kerangka adat Bali yang amat patriarkis, kembali menggunakan medium berbasis (bersandarkan) alam untuk menceritakan sisi kehidupan perempuan Indonesia.
Berada di kompleks gedung kolonial di seberang stesen kereta api Gambir, Galeri Nasional Indonesia sudah puluhan tahun memperkenalkan berbagai karya seni rupa berkualitas (bermutu) dari Indonesia, termasuk saat karya-karya terbaik Raden Saleh dipamerkan bersamaan untuk pertama kalinya di Indonesia pada 2012.
"Indonesian Women Artists on the Map" digelar (diadakan) untuk kali ke-4 pada April ini, di mana 12 seniman perempuan berbagai generasi menampilkan karya yang bermuara dari konsep 'situated knowledge', sebuah kondisi yang khas ditemui dalam perumusan ilmu pengetahuan.
Dimotori Carla Bianpoen, kritikus (pengkritik) seni piawai yang telah menerbitkan literatur tentang seniman perempuan Indonesia, tim (pasukan) kurator bekerjasama dengan Galeri Cemara 6 yang didirikan oleh Almarhumah Toeti Heraty Roosseno, filsuf (pemikir) dan akademisi (ahli akademik) terkemuka Indonesia yang peduli terhadap isu perempuan.
Ada beberapa karya yang menarik perhatian saya.
Citra Sasmita, seniman dari Bali yang pernah melakukan residensi dengan NTU Centre for Contemporary Art di Singapura beberapa tahun lalu dan menghasilkan perenungan tentang peranan perempuan Bali dalam kerangka adat Bali yang amat patriarkis, kembali menggunakan medium berbasis (bersandarkan) alam untuk menceritakan sisi kehidupan perempuan Indonesia.
Bekerjasama dengan studio tekstil Cinta Bumi Artisan, Citra menggunakan ranta (tekstil serat kayu tradisional) dari Lembah Bada, Sulawesi Tengah. Sebelum penjajah kolonial membawa tekstil moden berserta propaganda tertentu, ranta adalah pilihan utama masyarakat Lembah Bada.
Dalam instalasinya, Citra cuba menggambarkan peranan perempuan Lembah Bada dalam keterampilan menciptakan ranta, sebuah rangkaian kegiatan yang dahulunya menyatukan masyarakat dalam menghasilkan sehelai kain yang bernilai spiritual.
Dalam instalasinya, Citra cuba menggambarkan peranan perempuan Lembah Bada dalam keterampilan menciptakan ranta, sebuah rangkaian kegiatan yang dahulunya menyatukan masyarakat dalam menghasilkan sehelai kain yang bernilai spiritual.
Ve Dhanito, yang memulakan karier sebagai fotografer (jurugambar), mengambil elemen kehidupan moden seperti media sosial, sinar ultraviolet dan kaca untuk menggambarkan fenomena pandangan bias, pesanan tersembunyi dan beban pemikiran.
Dengan kaca cembung dan cekung yang digerakkan di atas foto (gambar), Ve menggambarkan bias dan salah faham yang bisa terjadi saat kita melihat potret kehidupan orang lain, seperti yang kerap terjadi kerana media sosial.
Dalam instalasi yang berbeza, dengan senter (tumpuan) khusus pengunjung bisa menemui pesanan-pesanan tersembunyi di sebalik foto raksasa.
Memakai medium dua sisi yang diselipi lembar visual, yang mengingatkan saya akan teknologi 'slide projector' zaman dahulu, di instalasi lain Ve mengilustrasikan beraneka fikiran di kepala yang seketika turun ke punggung sebagai beban.
Dengan kaca cembung dan cekung yang digerakkan di atas foto (gambar), Ve menggambarkan bias dan salah faham yang bisa terjadi saat kita melihat potret kehidupan orang lain, seperti yang kerap terjadi kerana media sosial.
Dalam instalasi yang berbeza, dengan senter (tumpuan) khusus pengunjung bisa menemui pesanan-pesanan tersembunyi di sebalik foto raksasa.
Memakai medium dua sisi yang diselipi lembar visual, yang mengingatkan saya akan teknologi 'slide projector' zaman dahulu, di instalasi lain Ve mengilustrasikan beraneka fikiran di kepala yang seketika turun ke punggung sebagai beban.
Bangsal terakhir pameran dipenuhi dengan sederet karya Almarhumah Astari Rasjid. Pertama kali diperkenalkan ke publik (orang ramai) sebagai isteri eksekutif perminyakan ternama, Astari yang berlatarbelakangkan sastera dan seni sempat diragukan saat awal berkarya.
Selalu mengambil inspirasi daripada kehidupan perempuan, karya-karya awalnya pernah disinisi sebagai karya sosialita (sosialit), namun Astari terus berkembang. Panel lukisan panjang dan replika tas mewah menggambarkan kehidupan bermandi material, sementara wayang raksasa dan video ritual berhulu pada suku asli Astari, iaitu Jawa.
Menyaksikan Astari melantunkan tembang Jawa dengan layar video bersela menampilkan penari tradisional dalam panggung bertiang ukir antik, saya diingatkan bahawa perempuan yang diberkati privilege (kesitimewaan) di Indonesia pun tetap punya tantangan tersendiri.
Selalu mengambil inspirasi daripada kehidupan perempuan, karya-karya awalnya pernah disinisi sebagai karya sosialita (sosialit), namun Astari terus berkembang. Panel lukisan panjang dan replika tas mewah menggambarkan kehidupan bermandi material, sementara wayang raksasa dan video ritual berhulu pada suku asli Astari, iaitu Jawa.
Menyaksikan Astari melantunkan tembang Jawa dengan layar video bersela menampilkan penari tradisional dalam panggung bertiang ukir antik, saya diingatkan bahawa perempuan yang diberkati privilege (kesitimewaan) di Indonesia pun tetap punya tantangan tersendiri.
ART JAKARTA GARDENS
Sejatinya Art Jakarta adalah art fair (pesta seni) wadah penjualan komersial karya seni, berbeza dengan institusi seperti muzium yang biasanya juga mengembangkan tugas edukasi (pendidikan) dan menampilkan karya konseptual. Art Jakarta Gardens adalah ajang baharu setengah outdoor (pameran luar) yang dimulakan saat pandemik COVID-19 melanda dan sekarang bertumbuh sebagai wadah bagi karya seniman muda atau yang berukuran kecil, terpisah daripada pameran tahunan Art Jakarta yang jauh lebih besar.
Sejatinya Art Jakarta adalah art fair (pesta seni) wadah penjualan komersial karya seni, berbeza dengan institusi seperti muzium yang biasanya juga mengembangkan tugas edukasi (pendidikan) dan menampilkan karya konseptual. Art Jakarta Gardens adalah ajang baharu setengah outdoor (pameran luar) yang dimulakan saat pandemik COVID-19 melanda dan sekarang bertumbuh sebagai wadah bagi karya seniman muda atau yang berukuran kecil, terpisah daripada pameran tahunan Art Jakarta yang jauh lebih besar.
Tahun ini, beberapa karya menarik ditawarkan seniman muda perempuan.
Ruth “Utay” Marbun yang berbekal pendidikan desain di Singapura dan mode (fesyen) di Inggris (Britain) awalnya dikenali publik melalui guratan ilustrasinya yang sibuk dan berwarna.
Sempat bekerjasama dengan seorang desainer mode (pereka fesyen) untuk mencipta koleksi semusim, Utay terus berkembang melalui medium kanvas dan cat.
Visualnya sering terasa seperti celotehan, sedang keberdayaan perempuan adalah salah satu tema yang sering digarap. Tahun ini Utay menghasilkan karya dengan tema keberadaan yang tidak terlihat.
Ruth “Utay” Marbun yang berbekal pendidikan desain di Singapura dan mode (fesyen) di Inggris (Britain) awalnya dikenali publik melalui guratan ilustrasinya yang sibuk dan berwarna.
Sempat bekerjasama dengan seorang desainer mode (pereka fesyen) untuk mencipta koleksi semusim, Utay terus berkembang melalui medium kanvas dan cat.
Visualnya sering terasa seperti celotehan, sedang keberdayaan perempuan adalah salah satu tema yang sering digarap. Tahun ini Utay menghasilkan karya dengan tema keberadaan yang tidak terlihat.
Cecil Mariani, yang namanya sempat mencuat di Twitter Indonesia lebih sedekad lalu saat menggalang dana untuk pendidikan Masters of Fine Art (Sarjana Seni Halus) di New York, banyak mengambil isu etnik Tionghoa (kaum Cina) dalam karyanya beberapa saat ini.
Senafas dengan karyanya di salah satu galeri di Yogya tahun lalu, Cecil menampilkan observasinya (pengamatannya) tentang identiti Tionghoa yang lama dipaparkan oleh penguasa Indonesia dan sekarang terbangun ulang, salah satunya kerana kampanye (kempennya) halus yang dilakukan Republik Rakyat China, namun terasa sebagai pertunjukan tanpa kaitan dari asal usul identiti Tionghoa Indonesia sebenarnya.
Sebuah pengamatan dalam semesta yang sama dengan pengamatan saya yang dituangkan dalam tulisan saat Tahun Baharu Cina yang lalu.
Senafas dengan karyanya di salah satu galeri di Yogya tahun lalu, Cecil menampilkan observasinya (pengamatannya) tentang identiti Tionghoa yang lama dipaparkan oleh penguasa Indonesia dan sekarang terbangun ulang, salah satunya kerana kampanye (kempennya) halus yang dilakukan Republik Rakyat China, namun terasa sebagai pertunjukan tanpa kaitan dari asal usul identiti Tionghoa Indonesia sebenarnya.
Sebuah pengamatan dalam semesta yang sama dengan pengamatan saya yang dituangkan dalam tulisan saat Tahun Baharu Cina yang lalu.
Enam karya antara Jakarta dan Singapura, dipersembahkan oleh seniman perempuan lintas generasi dan latar belakang, adalah sebuah potret kecil daripada jumlah dan kemampuan berkarya para seniman perempuan Indonesia yang semoga semakin ditangkap sorotan dunia.
MENGENAI PENULIS
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.