Skip to main content

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: Karya fesyen dan kain tradisional yang membumi dari Indonesia

Anggaran Waktu Membaca:
NOTA DARI JAKARTA: Karya fesyen dan kain tradisional yang membumi dari Indonesia

Pilihan mode dan wastra Indonesia untuk 2024.

Diterbitkan : 11 Feb 2024 10:51PM

JAKARTA: Di tengah-tengah bahang suasana menjelang Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden di Indonesia, kehidupan terus berjalan.

Bisnes kreatif seperti mode dan wastra (kain tradisional), yang menghidupi ratusan ribu pekerja terutama di sektor informal, terus menelurkan koleksi untuk pasar domestik dan mancanegara (luar negara).

Ada pula yang mempamerkan karya artistiknya di muzium dunia. Salah satu persepsi salah tentang dunia mode Indonesia adalah bahawa desainnya konvensional dan bahannya terpaku pada kain tradisional. Benar Indonesia diberkahi kekayaan wastra yang membanggakan seperti batik, tenun dan jumputan, namun penterjemahannya dalam desain pakaian jadi selalu kontemporer (kontemporari).

Malah sebenarnya masih lebih banyak desainer (pereka) Indonesia yang bekerja dengan tekstil bukan wastra. Demografi Indonesia, di mana hampir 60% penduduk berusia tidak lebih daripada 30 tahun dan hampir setengah berdomisili urban (menetap di bandar), menuntun desainer Indonesia dalam menawarkan koleksi mereka.

Mari melihat beberapa pilihan mode dan wastra Indonesia untuk 2024.

Bentuk Kontemporari

Saat Bumi dilanda pandemik dan manusia lebih banyak beraktivitas (menjalankan kegiatan) dari rumah, siluet mode secara global berubah menjadi lebih longgar dengan material lebih nyaman. Pada saat yang sama, kecaman kerosakan Bumi yang dilakukan industri mode dunia makin kencang disuarakan, menekan desainer untuk makin mencari pilihan tekstil dan proses produksi yang ramah lingkungan.

Hal-hal yang sama juga terjadi di dunia mode Indonesia yang walaupun belum menjadi industri, cenderung mengikuti percakapan mode dunia dan bergerak dinamis. Jajaran jenama yang menggelar koleksinya di Jakarta Fashion Week (JFW) 2024 menawarkan hal yang sama, gaya membumi yang diciptakan melalui proses yang ramah Bumi (mesra alam sekitar).

Cotton Ink dan 3 Mongkis, dua jenama pakaian santai dengan harga terjangkau yang mudah dijumpai di pusat perbelanjaan ternama Indonesia, menawarkan berbagai atasan dan bawahan yang, tergantung perpaduannya, bisa dipakai bekerja.

Pagelarannya (pertunjukan fesyen) riuh dipenuhi pelanggan setia berusia 20 hingga 30-an tahun, bukti bahawa jenama-jenama lokal (tempatan) ini tidak kalah bersaing dengan jenama asing yang juga memadati pusat perbelanjaan di Indonesia.
 

1
Cotton Ink.
2
Mongkis. 

Sean Sheila, salah satu jenama Indonesia yang telah melanglang buana ke beberapa pekan mode dunia (kota fesyen dunia) termasuk Paris Fashion Week, mengolah nilon dari sampah laut dan memadukannya dengan katun pohon bambu untuk koleksi terbarunya. Kepedulian jenama ini terhadap isu-isu sosial lain dilakukan melalui pemberdayaan perempuan dengan disabilitas (wanita kurang upaya) di studio kerjanya di Purbalingga, Jawa Tengah dan pemilihan model lintas usia dalam pagelarannya (pertunjukan fesyen).

3
Sean Sheila. 

Byo, jenama aksesoris yang selama ini bekerja dengan bahan PVC, kali ini mengolah kulit bekas dan kain sisa untuk koleksi terbarunya demi mengurangi limbah dari bisnes mode dan aksesoris Indonesia.

Kreasinya (karyanya) segar, bergaya, dan membuktikan materi (bahan) untuk produk baru tidak harus selalu diproduksi baru.

Byo. 

Fesyen Berasaskan Kain Tradisional

Masih dari ajang JFW 2024, pemain baru Studio Jeje mengolah tenun Nusa Tenggara Timur menjadi koleksi pakaian pesta semi-formal (cocktail wear) bersiluet ringan, dikombinasikan (digabungkan) dengan payet (hiasan) dan aplikasi yang berselera muda.

5
Studio Jeje.

Didiet Maulana, desainer (pereka) yang kerap mengolah tenun ikat (ikat handwoven), hadir di JFW tahun ini dengan koleksi bergaya yang bisa dikategorikan sebagai 'resort wear'. Lini kebayanya, yang khusus melayani pesanan peribadi (custom order) dan diminati artis dan pejabat tinggi (pegawai tinggi) Indonesia, termasuk salah satu narasumber (sumber maklumat) Indonesia yang ditampilkan dalam dokumenter (dokumentari) Kebaya Gaya Nusantara yang diproduksi (diterbitkan) oleh Mediacorp pada tahun 2023.

6
Didiet Maulana.

Jenny Yohana Kansil kembali ke akar budaya ibundanya, suku Batak di Sumatera Utara, untuk koleksi terbarunya yang menggunakan ulos, tenun khas Batak yang sarat falsafah dan pemakaiannya terikat adat istiadat.

Ulos termasuk wastra Indonesia yang belum sering disentuh desainer (pereka) Indonesia, sehingga selalu menyenangkan melihat desainer seperti Jenny mengolahnya sebagai busana kontemporer (kontemporari).

Memiliki akses kepada industri mode Italia (fesyen Itali) melalui sekolah mode (sekolah pereka fesyen) Instituto di Moda Burgo yang dikepalainya di Indonesia, Jenny berencana (berhasrat) membawa koleksi ulosnya ke Emerging Talent Runway di Milan Fashion Week tahun ini.

7
Jenny Yohana Kansil.

Fesyen Sebagai Suguhan Seni

Edward “Edo” Hutabarat sama sekali bukan nama baru di blantika mode (perniagaan dunia fesyen) Indonesia. Koleksinya sudah melintang di berbagai 'catwalk', media massa dan pusat perbelanjaan Indonesia sejak dekad 1980-an.

Pengetahuan luas Edo tentang busana daerah juga telah dituangkan ke beberapa literatur yang sampai sekarang masih diburu komunitas (masyarakat) penggiat wastra.

Sejak November 2023 sampai Januari 2024 lalu, koleksi tenun kolaborasi Edo dengan penenun Nusa Tenggara, juga ulos dan songket dengan penenun Sumatera, dipamerkan di Muzium Louvre dalam program bertajuk L’Indonesia au Carrousel du Louvre.

Untuk memperkaya narasi (tema pameran)bagi pengunjung Muzium Louvre, Edo juga menyertakan kain-kainnya yang sebesar selimut ini dengan siri fotografi dari daerah-daerah penghasil tenun di Indonesia.

Pameran ini didukung Pemerintah Indonesia sebagai sebahagian daripada edukasi (pendidikan) tentang budaya Indonesia di kancah internasional (persada antarabangsa).

8
Edward Hutabarat.

Di kancah nasional (peringkat dalam negeri)pun, edukasi tenun terus berlangsung. Cita Tenun Indonesia, yayasan yang juga sudah bertahun-tahun memberdayakan penenun Indonesia dan memperkenalkannya kepada konsumen urban (pengguna bandar), kali ini juga memilih jalur pameran seni untuk membuka 2024.

Bertempat di D’Gallerie, salah satu galeri seni di Jakarta yang acap mengikuti pameran seni internasional (antarabangsa), CTI berkolaborasi dengan seniman visual Hendra Kusuma untuk mengolah kain-kain sisa tenun menjadi instalasi seni.

Menggunakan latar belakangnya sebagai fotografer profesional (jurugambar profesional), Hendra membangunkan instalasi seni yang memikat mata, mudah dinikmati, sambil tentunya, mengurangi derasnya limbah tekstil ke perut Bumi.

9
CTI.

MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim adalah penulis dari Jakarta.

Sumber : BERITA Mediacorp/aq
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Video Pilihan

Lebih banyak artikel Berita