Skip to main content

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: Jimbaran: 20 Tahun Selepas Bom Bali

Anggaran Waktu Membaca:
NOTA DARI JAKARTA: Jimbaran: 20 Tahun Selepas Bom Bali

Jajaran kedai makanan laut, Pantai Muaya, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)

Diterbitkan : 04 Oct 2025 11:58AM Dikemas Kini : 04 Oct 2025 12:05PM
JAKARTA: Bali, pulau tujuan wisata utama di Indonesia, tidak selalu mulus dinamikanya.

Bencana alam seperti letusan Gunung Agung pada akhir 2017 atau banjir bandang seperti awal September lalu adalah sebahagian daripada kehidupan di Pulau Dewata. Bencana yang datangnya dari manusia juga pernah terjadi dalam bentuk bom bunuh diri; 12 Oktober 2002 di Kuta, 1 Oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran.

Setiap bencana terjadi di sudut mana pun di Bali, denyut wisata di seluruh Bali nyaris terhenti. Mengingat kehidupan di Bali amat tergantung kepada wisata, bencana berdampak ganda pada seluruh warga Bali.

Bom yang meledak pada Oktober 2002 dan 2005, kedua-duanya menelan korban lebih daripada 200 jiwa, dikenang banyak pelaku wisata (ejen pelancongan) Bali sebagai bencana yang membekas lama pada citra Bali dan kembalinya pelancong terutama pelancong asing.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah dan warga Bali untuk menarik kembali pelancong; di Ubud komunitas (masyarakat) pembaca buku memulakan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), sedang komunitas yoganya mengadakan Bali Spirit Festival (BSF).

Dalam perjalanannya, UWRF dan BSF telah tumbuh menjadi festival tahunan yang menarik banyak turis (pelancong) dan talenta (artis), terutama ke Ubud.

Bagaimana dengan kawasan yang menjadi sasaran bom pada awal 2000-an?
Kuta adalah salah satu kawasan pantai paling terkenal di Bali, sering masuk ke poster promosi Bali atau bahkan ke lagu pop. Ke utara, garis pantainya berlanjut melalui pantai-pantai Legian, Double Six, Seminyak, Kayu Aya, Petitenget, sampai ke Batu Belig.

Di sekitar pantai-pantai ini, terutama antara Kuta dan Petitenget, jalan-jalannya memiliki trotoar (sidewalk) yang cukup nyaman disusuri di antara penginapan dan tempat hiburan. Walau sempat sepi setelah insiden bom kedua, Kuta sudah lama kembali sebagai salah satu tujuan wisata utama di Bali.

Sore hari, baik pantai yang terbuka untuk umum atau berada di balik pagar hotel, selalu penuh pelancong berbaring di pasir menunggu turunnya matahari.

Jimbaran berada di sisi sebaliknya dari pantai Kuta. Setelah bandara internasional (lapangan terbang antarabangsa) I Gusti Ngurah Rai, garis pantainya membujur ke selatan melalui pantai-pantai Kedonganan, Muaya, sampai ke Bukit Jimbaran.

Berbeza dengan utara Kuta yang pantainya cenderung landai, garis pantai Jimbaran cukup berbukit. Tak jauh dari garis pantai, jalan utamanya meliuk menaik sampai ke Uluwatu, kawasan yang terkenal dengan pura Hindu yang asri di tepi tebing tinggi berbatu. Pantai Uluwatu juga dikenali sebagai pantai selancar air (surfing) setelah disorot dalam filem 'Morning of the Earth', filem klasik tentang selancar air yang diproduksi (dihasilkan) pada tahun 1971.

Daerah berbukit Jimbaran saat ini memiliki hotel, resort, spa dan pertokoan (kedai) mewah, selain pilihan terjangkau seperti toko cinderamata (kedai cenderamata) lokal (tempatan) dan kedai makanan laut (seafood) yang berjejer (berderet-deret) di pantai.

Dari jejeran kedai di pantai Muaya, misalnya, pelancong bisa menunggu senja turun sambil berjalan di pasir, berkuda, atau mengudap makanan laut sampai turun malam.

Beberapa belas minit sekali, langit Jimbaran dilintasi pesawat yang akan mendarat di atau baru berlepas dari bandara (lapangan terbang) hanya sekian kilometer ke utara.

Salah satu foto yang banyak diburu penggemar fotografi di sini adalah turun atau naiknya pesawat dengan latarbelakang langit merah-ungu khas waktu senja.
Related article image
Pelancong menyusuri Pantai Jimbaran, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Related article image
Jajaran kedai makanan laut, Pantai Muaya, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Related article image
Turun senja, Pantai Jimbaran, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Kedai makanan di pantai-pantai Jimbaran sendiri, walau tetap terjangkau harganya, semakin profesional. Satu dua kedai bahkan pernah mendapat penghargaan (anugerah) pariwisata. Selain makanan laut, umum kedai menyajikan sayuran dan lauk-pauk khas resipi Bali. Bagi penggemar minuman ramuan, bir dan anggur (wain) produksi Bali juga mudah ditemui di antara minuman import. Lapangan parkir (tempat letak kenderaan) tersedia bagi pelancong yang membawa kenderaan sendiri.
Related article image
Sajian makanan laut, Pantai Muaya, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Bagi pelancong yang lebih memilih privasi atau sajian mewah, Jimbaran memiliki hotel/resort, spa dan pusat perbelanjaan berkelas.

Saat pandemik, raksasa properti (gergasi hartanah) Summarecon membuka Samasta Lifestyle Village, pusat perbelanjaan 'semi-outdoor' yang dipenuhi toko cinderamata (kedai cenderamata), butik busana lokal terpilih, dan restoran termasuk Bebek Bengil dari Ubud yang legendaris. Beberapa kali dalam seminggu, tarian tradisional Bali digelar (dipersembahkan) di pelatarannya.

Bagi pelancong yang ingin berbelanja tanpa berdesakan di Pasar Sukawati atau menonton pertunjukan tarian klasik tanpa perlu pagi-pagi ke Batubulan, lokasi ini bisa jadi pilihan.
Related article image
Samasta Lifestyle Village, Jimbaran, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Ada hotel yang dilengkapi dua kolam renang termasuk di lantai teratas (rooftop), ada hotel yang menyasarkan turis Jepang (pelancong Jepun) dengan restoran sashimi dan staf berbahasa Jepang (Jepun), banyak hotel memiliki akses pantai tersendiri. Resort mewah Four Seasons misalnya, selain menghadap ke celukan pantai terjal yang indah, juga menjadi pilihan lokasi Dioriviera.
Related article image
Hotel dengan rooftop pool, Pantai Kedonganan, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Diselenggarakan oleh rumah mode (fesyen) Christian Dior, Dioriviera adalah butik sementara waktu (pop-up store) yang diintegrasikan dengan restoran yang didekor (dihiasi) dengan gaya pantai Riviera di selatan Perancis.

2025 menandai tahun ketiga Dioriviera bertempat di Four Seasons Jimbaran, di mana selain butik dan kafé lokasi utama, dekor khas Dioriviera juga menghiasi beberapa sudut popular resort bertaraf lima bintang ini. Selama Ogos kelmarin, terpantau Dioriviera Bali diminati pengunjung dari berbagai negara, sebahagian bukan tetamu Four Seasons namun sengaja datang untuk menikmati Dioriviera.
Related article image
Turun senja, Pantai Bukit Jimbaran, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Related article image
Dioriviera Jimbaran Bali, Ogos 2025. (Gambar: Lynda Ibrahim)
20 tahun sejak rangkaian pengeboman, Jimbaran bukan sahaja telah bangkit tapi juga lebih berkembang. Infrastruktur seperti trotoar (sidewalk) yang nyaman memang belum sebaik Kuta dan sekitarnya, dan jalan utama sekitar Jimbaran sering dirundung macet (kesesakan) kerana sedikitnya rute alternatif (laluan alternatif), namun secara umum Jimbaran menawarkan pilihan wisata yang cukup berwarna dan, yang lebih penting, semakin jauh dari insiden menggoncang yang meninggalkan trauma.

MENGENAI PENULIS
Related article image
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Video Pilihan

Lebih banyak artikel Berita