Skip to main content

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: Gengsi Belum Mati, Hanya Berganti

Anggaran Waktu Membaca:
NOTA DARI JAKARTA: Gengsi Belum Mati, Hanya Berganti

Irresistible Bazaar, Grand Indonesia, Jun 2024. (Gambar: Lynda Ibrahim)

New: You can now listen to articles.

This audio is generated by an AI tool.

Diterbitkan : 23 Jul 2024 12:14AM Dikemas Kini : 23 Jul 2024 12:17AM

JAKARTA: Posisi (kedudukan) Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnes Indonesia telah melahirkan demografi pekerja formal berpendidikan dan berketerampilan tinggi (white collar workers) terbesar di Indonesia.

Pasar modal, pelabuhan tersibuk, pasar grosir (borong) terbesar dan persentase (peratusan) ekspatriat tertinggi di Indonesia semua ada di Jakarta. Kesemua ini menyebabkan harga tanah dan biaya hidup Jakarta tertinggi di Indonesia, dengan Upah (gaji) Minimum Regional (daerah) kedua tertinggi (Rp5.1 juta perbulan (setiap bulan), setara S$423).

Pekerja pemula (entry level) atau madya (middle management) harus berhemat di Jakarta demi menabung atau membeli hunian. Jaringan transportasi umum Jakarta mulai membaik namun jauh dari sempurna sehingga ada kebutuhan kendaraan pribadi (kenderaan peribadi) juga.

Salah satu fenomena yang semakin terlihat adalah membawa makanan dari rumah ke tempat kerja. Sampai beberapa tahun lalu pekerja kantoran (pejabat) Jakarta selalu memadati pujasera (foodcourt) di sekitar perkantoran. Apalagi pekerja pria, ada faktor gengsi (gaya) membawa tromol makanan (bekas makanan) yang sering diasosiasikan (dikaitkan) dengan anak sekolah atau kalangan ekonomi lemah.

Namun meningginya biaya hidup ditambah kesedaran menu sihat telah menggeser pola pikir (pemikiran). Di media sosial bertebar unggahan “bekal suami”, menu makan siang yang disiapkan isteri untuk dibawa suami ke kantor, kadang lengkap dengan resepnya (resipinya).
Related article image
Unggahan bekal makanan suami ke tempat kerja. (Gambar: X)
Jadi, kelas menengah Jakarta mulai memakai transportasi umum (pengangkutan awam) dan membawa makanan dari rumah ke tempat kerja, sesuatu yang sebelumnya diasosiasikan (dikaitkan) dengan orang tidak mampu. Apakah ini bererti gengsi telah mati?

Tidak, hanya bentuknya yang berganti.

Sibuknya kehidupan urban (moden) ditambah macetnya (kesesakan) Jakarta membuat warganya jarang menjamu tamu di rumah, namun berkumpul di tempat publik (awam). Kesuksesan finansial (kejayaan kewangan) yang dahulu bisa diperlihatkan dari isi rumah, sekarang terbatas pada benda yang melekat pada tubuh seseorang.

Fenomena ini sejalan dengan penjelasan The Cult of the Luxury Brand: Inside Asia’s Love Affair with Luxury (2015). Dalam buku itu, Radha Chadha dan Paul Husband menjabarkan (menerangkan) bahawa status dalam konstruksi sosial (kompak sosial) masyarakat Asia dibentuk oleh benda yang dianggap mewah oleh orang di sekitar.

Semakin mewah benda yang seseorang kenakan, semakin naik statusnya, bahkan bisa berganti kelompok sosial bila dianggap “setara”.
 
Related article image
Buku karya Radha Chaudha dan Paul Husband. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Kehausan memakai benda yang dianggap mewah mendorong konsumerisme sedemikian rupa sehingga, walau dibebani pajak (cukai) import tinggi dan rendahnya nilai tukar Rupiah, butik barang mewah dunia berjejer (berderet-deret) di Jakarta. Jumlahnya bahkan melampaui Helsinki, ibu kota negara berpendapatan per kapita 10 kali lipat Indonesia.

Bagaimana kelas menengah yang sulit membeli barang mewah namun ingin mengejar status? Dahulu, barang palsu banyak dicari, sampai ada strata (bermacam) kategorinya seperti KW1, KW2, atau KW Super (KW kependekan dari “kwalitas”) (kualiti).

Sekarang, kelas menengah lebih teredukasi (terpelajar) dan pilihannya adalah pasar sekunder. Walau butik barang mewah bekas (preloved) sudah lama ada di Indonesia, sekarang menjamur seiring meningkatnya jumlah kelas menengah dan munculnya media sosial. Penjual 'preloved luxury' ini umumnya mengandalkan Instagram, TikTok dan WhatsApp Group. Yang bermodal besar sampai membangun aplikasi untuk jual beli.

Beberapa tahun lalu peluang ini ditangkap (dimanfaatkan) pengusaha yang mengumpulkan para penjual 'preloved luxury' dalam bazar besar. Pindah dari satu mall (pusat beli-belah) ke mall lainnya di Jakarta, bazar ini sekarang diikuti penjual 'preloved luxury' dari luar Jakarta dan didatangi komunitas (masyarakat) ekspatriat.

Tas, sepatu, ikat pinggang (tali pinggang), topi, sampai jam tangan mewah bekas ditawarkan dalam beragam kondisi, kelengkapan dan harga.
Setelah pandemik melanda, bisnes ini dijaring lebih jauh oleh manajemen (pihak pengurusan) sebuah trade center (pusat perdagangan) di tengah Jakarta. Sekarang selantai penuh gedungnya dipenuhi toko (peniaga) 'preloved luxury' dengan dekor rapi, staf jeli dan kemudahan transaksi memakai kartu (kad) kredit. Di lokasi berbeza, dua perusahaan Jepang (Jepun) yang mengkhususkan diri membeli 'preloved luxury' juga hadir di Jakarta - menjadi bukti semakin berkembang pasarannya.

Kontradiktif? Ya. Apakah ini fenomena sesaat atau berprospek bisnes jangka panjang?

Selama ketempangan ekonomi masih tinggi dan erti status masih besar, pasar sekunder barang mewah akan selalu punya tempat di Jakarta, bahkan Indonesia.

Saat ini, pasar itu tumbuh berkembang di antara kaum menengah Jakarta yang terayun-ayun di antara pendulum tekanan hidup dan gaya hidup. Hidup boleh pontang-panting, namun gengsi tak akan mati.
 

MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.

Sumber : BERITA Mediacorp/at
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Video Pilihan

Lebih banyak artikel Berita