NOTA DARI JAKARTA: Ekonomi Lesu Tapi Industri Fesyen Indonesia Terus Maju
Anggaran Waktu Membaca:
JAKARTA: Lesunya perekonomian Indonesia sejak pandemik melanda adalah salah satu fakta yang didiskusikan (dibincangkan) di berbagai forum akademik dan dikeluhkan ramai rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Selain deflasi dua bulan berturut-turut yang terjadi, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahawa tingkat pertumbuhan konsumsi rumahtangga kuartal I (suku pertama) 2025 sebesar 4.87% lebih rendah dari kuartal (suku) sebelumnya (4.91%) dan kuartal (suku) yang sama pada tahun 2024 (5.11%). Kontribusi konsumsi rumahtangga adalah sekitar 54%, amat bererti untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Dari Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (sebenar)(IPR) pada Agustus (Ogos) dan September tumbuh walau melambat (perlahan) berbanding bulan sebelumnya.
Tidak hairan, protes publik (bantahan awam) besar-besaran tahun ini juga dipacu oleh terpuruknya ekonomi dan menggilanya perilaku politisi (ahli politik).
Tidak hairan, protes publik (bantahan awam) besar-besaran tahun ini juga dipacu oleh terpuruknya ekonomi dan menggilanya perilaku politisi (ahli politik).
Dengan semua tekanan ini, rakyat tak punya pilihan kecuali menjalani kehidupan dengan segala cara, sebahagian masih berusaha mempertahankan gaya hidup tertentu.
Di sisi bisnes, produsen (penghasilan) dan pengusaha juga tetap bersiasat. Bagi mode (fesyen), kategori kebutuhan sekunder (peringkat kedua) atau bahkan tersier (tertiar). BPS mencatat pada 2024 beroperasi hampir 600,000 unit industri pakaian jadi (buatan tempatan) yang menyerap 1.2 hingga 2 juta tenaga kerja dengan nilai pasaran lebih AS$10 juta.
Menguatnya minat konsumen (konsumsi) terhadap merk (jenama) lokal (tempatan) Indonesia adalah sebuah harapan untuk menyeimbangkan potensi menurunnya eksport ke Amerika Syarikat, pasaran terbesar eksport pakaian jadi (buatan) Indonesia, akibat pemberlakuan (penguatkuasaan) bea ekspor (tarif) baharu.
Kementerian Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Kemenperin) menyebutkan bahawa pada triwulan II (suku kedua) 2025, industri mode (fesyen) berkontribusi (menyumbang) 7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) non-migas dengan trend positif, naik 1,6% berbanding periode (tempoh) sama pada 2024.
Mari melongok (meninjau) beberapa perhelatan mode (pesta fesyen) Indonesia tahun ini.
Festival Fesyen & Makanan Jakarta
Saat dimulai 21 tahun lalu di Mall Kelapa Gading (MKG), pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Utara, Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) dimaksudkan untuk mempromosikan penyewa tempat di MKG. Awalnya menargetkan (menyasarkan) publik (orang awam), JF3 acap diramaikan dengan parade (perbarisan) di jalan raya utama perumahan Kelapa Gading.
Dalam perjalanannya, JF3 meningkatkan kurasi peserta, lebih menyasarkan masyarakat mode, melibatkan mitra asing, dan meluaskan acara ke Summarecon Mall Serpong (SMS), pusat perbelanjaan di luar Jakarta yang juga dimiliki Summarecon Group.
Salah satu raksasa properti (hartanah) Indonesia, Summarecon memiliki perkantoran (bangunan pejabat), perumahan seperti Kelapa Gading, dan pusat perbelanjaan seperti MKG dan Samasta Lifestyle Village di Bali.
Menguatnya minat konsumen (konsumsi) terhadap merk (jenama) lokal (tempatan) Indonesia adalah sebuah harapan untuk menyeimbangkan potensi menurunnya eksport ke Amerika Syarikat, pasaran terbesar eksport pakaian jadi (buatan) Indonesia, akibat pemberlakuan (penguatkuasaan) bea ekspor (tarif) baharu.
Kementerian Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Kemenperin) menyebutkan bahawa pada triwulan II (suku kedua) 2025, industri mode (fesyen) berkontribusi (menyumbang) 7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) non-migas dengan trend positif, naik 1,6% berbanding periode (tempoh) sama pada 2024.
Mari melongok (meninjau) beberapa perhelatan mode (pesta fesyen) Indonesia tahun ini.
Festival Fesyen & Makanan Jakarta
Saat dimulai 21 tahun lalu di Mall Kelapa Gading (MKG), pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Utara, Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) dimaksudkan untuk mempromosikan penyewa tempat di MKG. Awalnya menargetkan (menyasarkan) publik (orang awam), JF3 acap diramaikan dengan parade (perbarisan) di jalan raya utama perumahan Kelapa Gading.
Dalam perjalanannya, JF3 meningkatkan kurasi peserta, lebih menyasarkan masyarakat mode, melibatkan mitra asing, dan meluaskan acara ke Summarecon Mall Serpong (SMS), pusat perbelanjaan di luar Jakarta yang juga dimiliki Summarecon Group.
Salah satu raksasa properti (hartanah) Indonesia, Summarecon memiliki perkantoran (bangunan pejabat), perumahan seperti Kelapa Gading, dan pusat perbelanjaan seperti MKG dan Samasta Lifestyle Village di Bali.
Beberapa tahun ini, JF3 bekerjasama dengan Kedutaan Perancis dalam membina program Pintu Incubator yang bertujuan membawa bakat mode (pereka fesyen) Indonesia ke pasar dunia dengan penekanan pada warisan tradisi dan metode berkesinambungan (sustainability).
Bakat yang terpilih mendapat bimbingan dari pakar mode dan bisnes dari Indonesia dan Perancis.
Tahun ini, Pintu Incubator menyajikan CLV, Denim It Up, Dya Sejiwa, Lil Public. MIMO by Rizkya Batik dan Nona Rona. Keenam-enam jenama (brand) Indonesia ini bekerjasama dengan tiga desainer (pereka) muda Perancis, iaitu Mathilde Reneaux, Pierre Panget dan Bjorn Backes.
Deretan koleksi yang digelar akhir Julai lalu terlihat segar, urban (moden), tanpa melupakan akar keindonesiannya. Sebagai contoh, MIMO memakai batik tulis berwarna biru-hijau untuk busana santai ibu menyusui.
Bakat yang terpilih mendapat bimbingan dari pakar mode dan bisnes dari Indonesia dan Perancis.
Tahun ini, Pintu Incubator menyajikan CLV, Denim It Up, Dya Sejiwa, Lil Public. MIMO by Rizkya Batik dan Nona Rona. Keenam-enam jenama (brand) Indonesia ini bekerjasama dengan tiga desainer (pereka) muda Perancis, iaitu Mathilde Reneaux, Pierre Panget dan Bjorn Backes.
Deretan koleksi yang digelar akhir Julai lalu terlihat segar, urban (moden), tanpa melupakan akar keindonesiannya. Sebagai contoh, MIMO memakai batik tulis berwarna biru-hijau untuk busana santai ibu menyusui.
Apakah Pintu Incubator akan melahirkan raksasa mode (fesyen)baru, belum ada yang pasti tahu.
Program serupa di khazanah mode Indonesia mengalami naik turun.
Namun terlihat jelas dedikasi JF3 untuk menjalankannya sebagai program andalan dan mengingat kekuatan finansial (kewangan) di balik Summarecon, program ini memiliki harapan untuk berjalan panjang.
Plaza Indonesia Fashion Week
Digagaskan sekitar sedekad sebelum pandemik, Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) memberi cukup ruang kepada desainer (pereka) Indonesia sejak awal. Tak lama setelahnya, pekan mode khusus busana pria, Plaza Indonesia Men’s Fashion Week (PIMFW) dimulai.
Program serupa di khazanah mode Indonesia mengalami naik turun.
Namun terlihat jelas dedikasi JF3 untuk menjalankannya sebagai program andalan dan mengingat kekuatan finansial (kewangan) di balik Summarecon, program ini memiliki harapan untuk berjalan panjang.
Plaza Indonesia Fashion Week
Digagaskan sekitar sedekad sebelum pandemik, Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) memberi cukup ruang kepada desainer (pereka) Indonesia sejak awal. Tak lama setelahnya, pekan mode khusus busana pria, Plaza Indonesia Men’s Fashion Week (PIMFW) dimulai.
Kurasi acaranya terus membaik sehingga selalu sukses menarik kalangan mode (pereka fesyen) untuk hadir, mungkin juga terbantu lokasinya di pusat Jakarta yang mudah dicapai.
Tahun ini, perhelatan (acara gah) di Plaza Indonesia dibuka oleh filem layar lebar. Bertajuk “Pulang” dan diproduksi (dihasilkan) Sejauh Mata Memandang, label pakaian popular yang mengedepankan isu lingkungan (alam sekitar). Selama 30 minit penonton mengikuti pengembaraan seorang gadis ke alam terbuka, bangunan tua, dan pemukiman.
Di antara keheningannya berendam di sungai, bermain dengan haiwan atau membeli jamu, beberapa simbol perusakan lingkungan (kemusnahan alam sekitar) oleh sampah mode (sisa fesyen) terlihat di sudut lensa.
Alur ceritanya tidak segamblang filem komersial, namun sinematografinya indah.
Terlepas dari kemampuan penonton menangkap narasi (penceritaan) “Pulang”, penting dicatat penggunaan filem untuk membuka acara mode (fesyen) besar ini. Sebuah tonikum penyegar dari bentuk catwalk show atau pameran statik, dua hal yang umum ditemui di Indonesia. Menarik untuk mengamati apakah Plaza Indonesia, yang diberkati dengan fasilitas (kemudahan) lengkap dan lokasi strategik, tahun depan akan mengembangkan format ini atau menawarkan bentuk lain.
Tahun ini, perhelatan (acara gah) di Plaza Indonesia dibuka oleh filem layar lebar. Bertajuk “Pulang” dan diproduksi (dihasilkan) Sejauh Mata Memandang, label pakaian popular yang mengedepankan isu lingkungan (alam sekitar). Selama 30 minit penonton mengikuti pengembaraan seorang gadis ke alam terbuka, bangunan tua, dan pemukiman.
Di antara keheningannya berendam di sungai, bermain dengan haiwan atau membeli jamu, beberapa simbol perusakan lingkungan (kemusnahan alam sekitar) oleh sampah mode (sisa fesyen) terlihat di sudut lensa.
Alur ceritanya tidak segamblang filem komersial, namun sinematografinya indah.
Terlepas dari kemampuan penonton menangkap narasi (penceritaan) “Pulang”, penting dicatat penggunaan filem untuk membuka acara mode (fesyen) besar ini. Sebuah tonikum penyegar dari bentuk catwalk show atau pameran statik, dua hal yang umum ditemui di Indonesia. Menarik untuk mengamati apakah Plaza Indonesia, yang diberkati dengan fasilitas (kemudahan) lengkap dan lokasi strategik, tahun depan akan mengembangkan format ini atau menawarkan bentuk lain.
Jakarta Fashion Week
Perhelatan mode (pesta fesyen) Indonesia yang sejak awal berikhtiar mengikuti bentuk pekan mode (bandar fesyen) dunia, Jakarta Fashion Week (JFW) telah melampaui berbagai dinamika dalam 18 tahun perjalanannya, termasuk pergantian lokasi dan perombakan organisasi.
Sekarang dijalankan oleh GCM Group dan bertempat di lokasi keempatnya, JFW hadir dengan agenda tetap seperti pilihan kontemporari urban dan persembahan dari bakat daerah, selain suguhan baru berupa busana pengantin.
Pemerintah propinsi (wilayah) Kalimantan Tengah berkolaborasi dengan desainer (pereka fesyen) Ayu Dyah Andari menghadirkan koleksi busana santun (modest fashion) formal bernafaskan ukiran tradisional Kalimantan.
Pagelaran dibuka dengan tarian Dayak yang lincah bersemangat, seirama dengan semaraknya motif dan warna koleksi yang dibawakan dengan anggun oleh, salah satunya model senior (peragawati mapan) Kimmy Jayanti yang pernah merajai JFW.
Perhelatan mode (pesta fesyen) Indonesia yang sejak awal berikhtiar mengikuti bentuk pekan mode (bandar fesyen) dunia, Jakarta Fashion Week (JFW) telah melampaui berbagai dinamika dalam 18 tahun perjalanannya, termasuk pergantian lokasi dan perombakan organisasi.
Sekarang dijalankan oleh GCM Group dan bertempat di lokasi keempatnya, JFW hadir dengan agenda tetap seperti pilihan kontemporari urban dan persembahan dari bakat daerah, selain suguhan baru berupa busana pengantin.
Pemerintah propinsi (wilayah) Kalimantan Tengah berkolaborasi dengan desainer (pereka fesyen) Ayu Dyah Andari menghadirkan koleksi busana santun (modest fashion) formal bernafaskan ukiran tradisional Kalimantan.
Pagelaran dibuka dengan tarian Dayak yang lincah bersemangat, seirama dengan semaraknya motif dan warna koleksi yang dibawakan dengan anggun oleh, salah satunya model senior (peragawati mapan) Kimmy Jayanti yang pernah merajai JFW.
Kembali ke JFW adalah Biasa yang berjangkar di Bali. Dikenali sebagai jenama yang menyasarkan turis (pelancong) dengan gaya 'resort wear', beberapa lembar busana yang ditampilkan kali ini terlihat lebih terstruktur dan bisa dipakai secara formal. Pendekatan ini berpotensi menggaet (memikat) kaum urban yang butuh busana dalam dunia pekerjaan, bukan sebatas liburan.
Selalu dipadati pagelarannya oleh konsumen (pengguna) setia dalam balutan warna oranye dan hitam khas Biasa, sebahagian masyarakat ekspatriat, menarik membayangkan kian berwarnanya hadirin bila Biasa sukses memperlebar pangsa pasarnya.
Selalu dipadati pagelarannya oleh konsumen (pengguna) setia dalam balutan warna oranye dan hitam khas Biasa, sebahagian masyarakat ekspatriat, menarik membayangkan kian berwarnanya hadirin bila Biasa sukses memperlebar pangsa pasarnya.
Busana pengantin memiliki celuk pasar tertentu, dan jarang ditampilkan dalam JFW secara khusus. Tahun ini, Didi Budiardjo dan Rama Dauhan menggelar koleksi cantik bernuansa putih dan perak di bawah kilatan lampu runway JFW.
Terinspirasi salah satunya oleh garis rekaan Frank Lloyd Webber dan era Art Deco, deretan gaun pengantin Didi Budiardjo terstruktur namun tetap luwes (menarik), dalam warna putih cangkang telur sampai keperakan, digayuti bunga dengan enamel dan mutiara. Sutra dan renda berdansa, pinggang terbentuk sementara garis tungkai mengintip dari balik bahan halus berbayang.
Pengantin versi Didi Budiardjo adalah wanita yang percaya diri dan tak sungkan mempertegas lekuk (bentuk tubuh) kewanitaannya, bak perempuan dari kota yang begitu dicintai desainernya, Paris.
Terinspirasi salah satunya oleh garis rekaan Frank Lloyd Webber dan era Art Deco, deretan gaun pengantin Didi Budiardjo terstruktur namun tetap luwes (menarik), dalam warna putih cangkang telur sampai keperakan, digayuti bunga dengan enamel dan mutiara. Sutra dan renda berdansa, pinggang terbentuk sementara garis tungkai mengintip dari balik bahan halus berbayang.
Pengantin versi Didi Budiardjo adalah wanita yang percaya diri dan tak sungkan mempertegas lekuk (bentuk tubuh) kewanitaannya, bak perempuan dari kota yang begitu dicintai desainernya, Paris.
Terinspirasi gaun pengantin almarhumah ibunya, koleksi Rama Dauhan dibangunkan oleh sisa potongan kain pesanan klien sampai stok yang diwariskan sahabatnya, desainer aksesori yang baru wafat.
Mungkin wafatnya sahabat dan kedua orang tua Rama yang waktunya berdekatan dalam setahun ini membuat koleksi ini terasa intim.
Rapuh dan transparannya sebahagian bahan, lekuk simetri, lipatan membuncah, semua terasa seperti puisi duka yang perlahan mengurai menjadi penerimaan. Gaun pengantin Rama bermanik-manik kontemporari, penuh dengan emosi.
Mungkin wafatnya sahabat dan kedua orang tua Rama yang waktunya berdekatan dalam setahun ini membuat koleksi ini terasa intim.
Rapuh dan transparannya sebahagian bahan, lekuk simetri, lipatan membuncah, semua terasa seperti puisi duka yang perlahan mengurai menjadi penerimaan. Gaun pengantin Rama bermanik-manik kontemporari, penuh dengan emosi.
Setiap tahun, JFW ditutup dengan Dewi Fashion Knight, di mana beberapa desainer terpilih menggelar gebrakan terkininya. Tahun ini, dua desainer layak diberi sorotan.
Auguste Soesastro, dengan latar belakang pendidikan arsitektur (seni bina) dan 'haute couture', terkenal dengan desainnya yang berkomposisi seimbang dan terstruktur. Merujuk pada pameran “Port Cities: Multicultural Emporius of Asia, 1500-1900” di Muzium Tamadun Asia pada tahun 2016, di mana pengaruh India, Cina dan Sriwijaya berkelindan pada teknik tekstil seperti songket dan batik pesisiran.
Dalam koleksinya kali ini, ia menterjemahkan ulang busana bersumber tekstil tradisional Indonesia saat kota-kotanya masih jadi pelabuhan perdagangan dunia, memakai lensa keindonesiaan tanpa apropriasi budaya (cultural appropriation) seabad lalu saat nilai-nilai Timur menjadi eksotisme baru dunia Barat.
Koleksinya serius, dibangunkan dari helai-helai pakaian berpotongan klasik yang bisa berdiri sendiri.
Auguste Soesastro, dengan latar belakang pendidikan arsitektur (seni bina) dan 'haute couture', terkenal dengan desainnya yang berkomposisi seimbang dan terstruktur. Merujuk pada pameran “Port Cities: Multicultural Emporius of Asia, 1500-1900” di Muzium Tamadun Asia pada tahun 2016, di mana pengaruh India, Cina dan Sriwijaya berkelindan pada teknik tekstil seperti songket dan batik pesisiran.
Dalam koleksinya kali ini, ia menterjemahkan ulang busana bersumber tekstil tradisional Indonesia saat kota-kotanya masih jadi pelabuhan perdagangan dunia, memakai lensa keindonesiaan tanpa apropriasi budaya (cultural appropriation) seabad lalu saat nilai-nilai Timur menjadi eksotisme baru dunia Barat.
Koleksinya serius, dibangunkan dari helai-helai pakaian berpotongan klasik yang bisa berdiri sendiri.
Toton Januar, satu-satunya desainer Indonesia yang pernah menang Woomark Prize Asia, beberapa tahun ini serius mengolah kembali busana tradisional Indonesia.
Koleksinya untuk JFW fokus pada Swarnadwipa, nama lama Sumatra dalam bahasa Sansekerta (Sanskrit) yang bererti pulau emas. Membalut modelnya dalam baju kurung dan kebaya panjang yang diterjemahkan secara moden dengan elemen keemasan dan sentuhan militer (seragam tentera), sesuai pembacaan sang desainer akan situasi Indonesia di masa datang.
Tameng dari paperclay bermotif biru-putih bak puisi protes tersendiri dari Toton, desainer mode (pereka fesyen) peduli gejolak sosial yang membaur dalam massa pro-demokrasi di depan gedung parlimen tahun lalu.
Tameng dari paperclay bermotif biru-putih bak puisi protes tersendiri dari Toton, desainer mode (pereka fesyen) peduli gejolak sosial yang membaur dalam massa pro-demokrasi di depan gedung parlimen tahun lalu.
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
LAPORAN BERKAITAN:
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.