Skip to main content

Iklan

Iklan

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: "Drapol" Indonesia Yang Lagi "Hot"

Anggaran Waktu Membaca:
NOTA DARI JAKARTA: "Drapol" Indonesia Yang Lagi "Hot"

Ketua Polis Negara Indonesia Listyo Sigit Prabowo bercakap di satu sidang media pada 9 Ogos 2022 mengenai kes pembunuhan yang membabitkan Ketua Inspektor Ferdy Sambor. (Gambar ihsan: Polis Negara Indonesia)

BERITAmediacorp: Penonton televisyen Indonesia mungkin punya selera yang sangat beragam (rencam) untuk terpaku pada layar kaca menonton tayangan favoritnya.

Pada masanya, drama seri (drama bersiri) dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, India, Turki, Amerika Latin, China, dan produksi (penerbitan) dalam negeri yang dikenali sebagai sinetron, pernah menjadi magnet (daya tarikan) yang membuat pemirsa (penonton) televisyen harus mengatur jadwal aktivitas (jadual kegiatan) sehari-harinya agar bisa berada di depan televisyen sesuai waktu tayangan drama favoritnya di televisyen.

Di era layanan televisyen dan 'video streaming' dan gelombang K-Pop, tayangan drama Korea atau drakor telah menjadi magnet (daya tarikan) terkini untuk menghabiskan waktu di depan layar kaca televisyen, telpon genggam (telefon bimbit), atau komputer, terutama di masa-masa pembatasan sosial dan mobilitas (kawalan pergerakan sosial) selama pandemik.

Sekarang, di pertengahan 2022 dan di era multimedia (berbilang media), drapol atau drama polis adalah jenis drama baru untuk konsumen media (liputan media) di Indonesia dan sudah selama sebulan terakhir menjadi topik bahasan utama di berbagai lini media (media utama) Indonesia dan terutamanya televisyen, dengan kekuatan audio visual yang dimilikinya.

Drama polis ini bukan sebuah cerita seri drama seri (drama bersiri) tentang kehidupan para pegawai polis dan sepak terjangnya (tingkah laku) yang mulia dalam memberantas (membanteras) kejahatan dan warga yang sangat terbantu dengan kehadiran mereka yang mengayomi (melindungi) dan melayani masyarakat.

Ini drapol yang hanya ada di Indonesia dan mungkin bisa membuat drama seri (drama bersiri) polis dan penegak hukum Amerika produksi Hollywood seperti "CSI" atau Crime Scene Investigation, "Castle", "Criminal Minds" menjadi kurang gregetnya (kurang hebat).

Perkenalkan drapol asli Indonesia, sebuah kisah nyata tentang seorang jendral (jeneral), isterinya, dan para ajudannya (pengawal peribadi) di Kepolisian Republik Indonesia, yang lebih dikenali dengan singkatan nama Polri, dengan deretan nama-nama pemeran atau tepatnya pelaku utama dengan segala aliasnya - seorang inspektur jenderal polis berbintang dua (inspektor jeneral polis dua bintang) berusia 49 tahun Ferdy Sambo alias Sambo alias FS dan isterinya, Putri Candrawathi alias Putri alias PC, serta dua ajudannya (pengawal peribadi) Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Yoshua alias Joshua alias Brigadir J, 27 tahun dan Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Eliezer alias Bharada E, 24 tahun.

Drapol ini hadir ke layar televisyen dan gawai (peranti bijak) warga Indonesia dengan segala plot cerita mengenai pembunuhan, dugaan pelecehan seksual (salah laku seksual), dugaan cinta segi entah berapa - segi tiga atau segi empat, yang dibumbui komentar seorang menteri senior (menteri kanan) bahawa motif pembunuhan sang ajudan (pengawal peribadi) atas perintah sang jendral (jeneral) - yang belum terungkap sampai saat ini - sifatnya mungkin "sensitif" dan "hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa".

Drapol ini pun membuat Presiden Indonesia, di tengah waktunya yang sangat sibuk mengunjungi berbagai pelosok negara kepulauan yang sangat luas ini untuk memastikan pembangunan infrastruktur yang sangat diperlukan negara ini berjalan baik dan pasokan pangan (rantaian bekalan) yang sedang susah di seluruh dunia tetap lancar masuk ke Indonesia - untuk berkomentar sampai empat kali untuk mengingatkan korps penegak hukum untuk bertindak sesuai namanya - menegakkan hukum (undang-undang), di dalam tubuh institusinya sendiri, kepada jenderalnya sendiri, yang menjabat (menyandang jawatan) sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Ketua Divisyen Pengawasan dan Keselamatan Polis Indonesia) di Markas Besar Polri.

Sepertinya peribahasa 'third time's the charm' tidak berlaku dalam hal ini, dan berhasil di 'fourth time's the charm'.

TARIK PERHATIAN RAMAI & LIPUTAN MELUAS MEDIA

Drapol ini mula menarik perhatian publik (orang ramai) dan media ketika ada kecurigaan keluarga atas kematian Yoshua yang berpangkat Brigadir (pangkat rendah) dan bertugas sebagai ajudan (pengawal peribadi) dan supir (pemandu) untuk Putri.

Pada 9 Julai, ketika di Jakarta, Putri melaporkan ke polis dugaan pelecehan seksual (salah laku seksual) yang dilakukan Yoshua terhadapnya, peti mati (keranda) berisi jenazah Yoshua tiba di rumah orang tuanya di Jambi. Keluarga almarhum tidak terima ketika jasad anak kebanggaan tiba disertai perintah seorang jenderal polisi (jeneral polis) bahawa keluarga tidak boleh membuka peti (keranda) untuk melihat jasad Yoshua terakhir kalinya.
Keluarga menolak patuh pada perintah ((enggan mematuhi arahan) tersebut dan akhirnya menemukan sejumlah luka yang janggal di jasad Yoshua ketika esok harinya mereka membuka peti (keranda) jenazah dan pakaiannya. Yoshua dimakamkan (disemadikan) pada 11 Julai tanpa upacara kedinasan (rasmi) dari polis.

Di hari yang sama di Jakarta, polis mengumumkan kasus (kes) ini terjadi dan ini membuatnya semakin aneh kerana pembunuhan terjadi pada 8 Julai. Versi awal yang diumumkan polis - dan belakangan diketahui dan diakui oleh Sambo bahawa dia yang merancangnya - adalah bahawa Yoshua terlibat dalam baku tembak (kejadian berbalas tembakan) dengan Eliezer di rumah dinas (kediaman rasmi) Sambo di Jakarta Selatan setelah Yoshua diduga (dituduh) melakukan pelecehan seksual (salah laku seksual) terhadap Putri.

Saat itu, Putri dan Yoshua belum lama tiba di rumah setelah melakukan perjalanan darat dengan mobil dari Magelang, Jawa Tengah. Pada saat dugaan pelecehan seksual terjadi, Sambo sedang tidak ada di rumah. Polis mengatakan Eliezer, yang pangkatnya sebagai Bhayangkara Dua atau Bharada adalah terendah di kepolisian, menembak Yoshua hingga terbunuh kerana membela diri sebagai reaksi (tindak balas) terhadap tembakan yang dimulai oleh Yoshua. Kejadian versi polis inilah yang membuat drapol ini mendapat judul "polis tembak polis" dari publik (orang ramai).

Sebelum ditarik ke Jakarta dan ditugaskan sebagai ajudan (pengawal peribadi) Sambo dan isterinya, Yoshua pernah bertugas di kepolisian Jambi sebagai penembak jitu, sehingga klaim polis (polis mendakwa) terjadi tembak-menembak dalam ruang tertutup di sebuah rumah sampai mengakibatkan Yoshua meninggal menjadi semakin aneh.

Di hari-hari berikutnya, konsumen media (pengikut media) Indonesia disuguhi (disajikan) berbagai visual yang membuat drapol ini semakin berbumbu (menarik). Pada 13 Julai, Sambo tertangkap dalam video klip memeluk dan menangis dalam pelukan kepala polis Jakarta Inspektur Jenderal Fadil Imran ketika Fadil berkunjung ke kantor (pejabat) Sambo. Di klip itu terlihat Fadil menepuk pundak (bahu), mengelus kepala dan mencium kening Sambo. Berikutnya polis mengaku tidak menemukan CCTV di sekitar rumah Sambo kerana sedang diganti akibat rosak dua minggu sebelumnya.

HUBUNGAN SULIT ANTARA PENGAWAL PERIBADI & ISTERI TERTUDUH

'Fast forward' ke 18 Julai ketika polis mengumumkan Sambo, bersama seorang jenderal bintang satu (jeneral satu bintang) yang melarang keluarga Hutabarat membuka peti mati (keranda) Yoshua dan seorang perwira menengah (pegawai pertengahan) kepala polis (ketua polis) Jakarta Selatan dinonaktifkan (digantung kerja) dari jabatan mereka, dan 27 Julai ketika jenazah Yoshua diekshumasi (digali) untuk otopsi (dibedah siasat) kedua kalinya, dan dimakamkan kembali dengan upacara kedinasan (rasmi), sementara dari hari ke hari, peristiwa ini dibumbui dengan rumor (khabar angin) adanya hubungan spesial (hubungan sulit) antara Putri dan Yoshua dan hubungan spesial antara Sambo dengan seorang polis wanita junior (pegawai polis wanita berpangkat rendah).

Di awal Agustus (Ogos), Eliezer, setelah ditetapkan sebagai tersangka pelaku (tertuduh) pembunuhan Yoshua, menulis surat dengan tulisan tangan kepada orang tua Yoshua melalui pengacaranya (peguamnya) dan meminta maaf kepada mereka.

Di saat ini, dalam tahanan di markas besar polis, Eliezer disebut telah membuka kotak Pandora (membuka rahsia) dengan mengakui bahawa dirinya menembak Yoshua atas perintah Sambo dan polis sudah menahan Sambo.

Putri, yang sampai sekarang belum dimintakan keterangannya, terakam oleh media mencoba menjenguk Sambo ke lokasi tahanan namun tidak berhasil masuk.

Dia sempat berbicara kepada media dengan muka sembab menyatakan kepercayaannya dan cinta yang tulus kepada suaminya menambah suasana dramatis dalam drapol ini.

Gong pertama yang menunjukkan polis benar menegakkan hukum bagi jenderalnya sendiri adalah pada 9 Agustus (Ogos), ketika pemirsa (penonton) televisyen Indonesia kembali disuguhi (disajikan) dengan drama yang ditampilkan dalam tayangan langsung 'breaking news' di berbagai stasiun (stesen) televisyen dari lokasi rumah Sambo yang diberi garis polis dan dijaga ketat oleh pasukan Brigade Mobil dan sejumlah kenderaan taktis.

Beberapa personel (kakitangan) menggunakan rompi (jaket) bertuliskan Inafis - Indonesia Automatic Fingerprint System - terlihat masuk ke halaman rumah Sambo. Sejumlah jurnalis (wartawan)mengingat kembali terakhir kali melihat pengerahan pasukan polis seperti itu saat meliput (membuat liputan) polis menggerebek (menyerbu) terduga pelaku terorisme kelas berat (disyaki pengganas tegar) beberapa tahun lalu.

ketua polis indonesia prabowo
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Gambar: Polis Negara Indonesia)


Drama hari itu diakhiri dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo, didampingi sejumlah jenderal, mengumumkan pada sore (petang) harinya, "tim (pasukan) khusus telah menetapkan saudara FS sebagai tersangka (tertuduh)".

Sambo dituduh melakukan pembunuhan berencana (terancang) dengan ancaman hukuman mati. Listyo juga mengatakan tim (pasukan) khusus yang dibentuknya untuk menangani kasus (kes) ini tidak menemui adanya peristiwa tembak-menembak seperti versi yang diumumkan sebelumnya.

Hingga saat ini, polis telah menetapkan empat tersangka (tertuduh) iaitu Sambo, Eliezer, ajudan (pengawal peribadi) Sambo, Ricky Rizal, dan supir (pemandu) serta asisten (pembantu) rumah tangga Kuwat Ma'ruf dan ada 31 personel (kakitangan) termasuk tiga jenderal, 12 perwira menengah (pegawai pertengahan) dan puluhan personel (kakitangan) lainnya yang diduga (dituduh) melanggar kode etik (kod etika) kerana terlibat dalam upaya penutupan (percubaan untuk merahsiakan) pembunuhan Yoshua.

Di jagat (laman) Twitter Indonesia, sudah lama ada tagar (tanda pagar) #1hari1oknum kerana cerita mengenai oknum sipil (rakyat biasa), militer (tentera) dan polis di Indonesia selalu saja ada. Namun pengumuman Kapolri 9 Agustus (Ogos) itu langsung memborong tagar (dibanjiri dengan tanda pagar) untuk sebulan menjadi #1hari31oknum.

Menyusuli pengumuman Kapolri, Sambo telah mengaku perbuatannya yang menyuruh Eliezer membunuh Yoshua dan merancang skenario (senario) awal. Polis mencabut laporan Putri mengenai dugaan pelecehan seksual (tuduhan salah laku seksual) kerana tidak menemui unsur pidana (bukti niat jahat). Muncul pula berita bahawa Sambo diduga (dituduh) menawarkan uang (wang) dalam jumlah besar kepada komplotannya (rakan subahat) bila skenario (senario) kematian Yoshua yang disusunnya diterima dan ditetapkan oleh polis.

Drapol ini semakin panas. Nantikan episod-episod berikutnya.

MENGENAI PENULIS:
Ismira Lutfia Tisnadibrata adalah penulis dari Jakarta.

Sumber : BERITA Mediacorp/fz

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Iklan

Lebih banyak artikel Berita

Iklan

Aa