NOTA DARI JAKARTA: Dari Jalur Perdagangan ke Batik Peranakan
Batik pesisiran dan kebaya encim di pameran Pasang Surut di Bali pada Juli 2023. (Gambar: Lynda Ibrahim)
Artinya saat itu agama Buddha telah datang dari India, tentunya melalui jalur pelayaran. Sekitar empat abad kemudian, Islam masuk ke Nusantara melalui salah satunya pedagang Gujarat.
Jalur pelayaran dan perdagangan antarabangsa ini bukan saja membawa agama ke gugusan kepulauan khatulistiwa yang sekarang bernama Indonesia, tapi juga budaya seperti tekstil, muzik dan makanan. Kerana kapal dagang berlabuh di pesisir, wajar pengaruh asing banyak ditemui dalam budaya pesisiran. Cina, Arab dan India meninggalkan jejaknya pada batik pesisiran, dengan Cina relatif meninggalkan jejak terluas.
Selain disebut batik pesisiran, kategori ini juga sering disebut batik peranakan untuk menandai pembuatnya yang kebanyakan keturunan Melayu dengan pedagang asing yang datang berniaga.
Pesisir Pulau Jawa terdiri daripada Utara dan Selatan. Walau pesisir Utara (Betawi, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Tuban) lebih sering disebut dalam percakapan batik pesisiran, bukan bererti pesisir Selatan (Garut, Tasikmalaya) tak menawarkan pilihan menawan.
Kedua-dua pesisir kental dipengaruhi budaya Cina sehingga banyak pembatik terkenalnya peranakan Tionghua (Cina), seperti Oey Soe Tjoen di Pekalongan dan Tan Tjeng Tong di Garut-Tasikmalaya.
Sempat dianggap tidak seserius batik Surakarta dan Yogyakarta yang bersumber filosofi keraton Jawa.
Motif yang umum dijumpai adalah kupu-kupu, naga, burung merak, burung hong (phoenix), bunga teratai (lotus), bunga krisan (chrysanthemum) dan bunga peony. Cairnya persebaran budaya peranakan sekian abad kadang menggeser (menyerlahkan) erti motif antara puak peranakan, namun garis besar (perbezaan ketara) bisa ditemukan.
Butterflies and Phoenixes: Chinese Inspirations in Indonesian Textile Arts yang disusun pakar tekstil tradisional Judi Achjadi dan Asmoro Damais adalah salah satu rujukan bagus dalam memahami batik peranakan.
Menurut kajian yang disebut di atas, kupu-kupu dianggap perlambang (melambangkan) umur panjang dan bila disandingkan dengan bunga, ia melambangkan harmoni antara pria dan wanita. Dari pembicaraan dengan pembatik keturunan Tionghua (Cina) di pesisir Utara, saya mendapati bahawa bagi mereka kupu-kupu melambangkan kehidupan yang panjang yang selalu menjadi lebih baik.
Saat bertemu pembatik di Tasikmalaya, saya diceritakan bahawa merak adalah lambang kegembiraan dan ia sering dibatikkan dalam motif merak ngibing (merak menari), sedang pembatik Pekalongan bercerita tentang burung hong sebagai simbol kegigihan.
Baru-baru ini komunitas (masyarakat) batik Jakarta menyaksikan peluncuran (pelancaran) Batik Saparinah - batik bertemakan burung hong untuk menggambarkan tegarnya Saparinah Sadli, aktivis dan ketua pertama Komisi Nasional Perempuan Indonesia, dalam memperjuangkan kesetaraan gender (jantina) di Indonesia.
Pada awal 2015, Marks & Spencer dari Britain memakai motif megamendung dalam bentuk cetak untuk koleksi musim panasnya.
Sejarah sedih seperti penjajahan pun meninggalkan jejak pada batik.
Pada zaman penjajahan Belanda, beberapa pembatik Belanda bermukim di sekitar Pekalongan, Surakarta dan Yogyakarta.
Karya mereka umum disebut Batik Belanda dan motif-motifnya terinspirasi (mendapat inspirasi) daripada kehidupan di Eropah. Buket (jambangan) bunga dan warna pastel, perlambang (lambang) musim semi (musim luruh) dan musim panas yang pasti terasa tak pernah berakhir di Nusantara, banyak dipakai.
Motif sosok Eropah, baik sipil (orang awam) mahupun serdadu (anggota tentera), acap timbul. Terinspirasi warna porselen (porselin) yang saat itu digandrungi orang kaya di Eropah, motif Batik Belanda juga kerap bervariasi biru-putih.
Pekalongan lalu dikenali sebagai penghasil batik berwarna biru terpopular di Jawa. Sampai hari ini, Batik Belanda antik karya Eliza van Zuylen, Carolina von Franquemont dan L. Matzelaar banyak di koleksi muzium dan diburu kolektor (pengumpul) batik serius.
Pembatik juga memasukkan unsur baru seperti bunga Sakura dan kipas kertas untuk menarik minat beli penjajah Jepang (Jepun). Motif baru ini kemudian dikenali sebagai motif Jawa Baru atau Hokokai.
Apakah batik pesisiran sepenuhnya terceraikan dari batik di pusat kerajaan Jawa seperti Surakarta/Solo dan Yogyakarta?
Tidak. Motif Dua Negeri dan Tiga Negeri lahir dari lancarnya hubungan dagang di Jawa. Warna biru dikerjakan di Pekalongan dan warna kecoklatan (sogan) diselesaikan di Surakarta atau Yogyakarta untuk membentuk Dua Negeri.
Bila ditambah warna merah pekat darah ayam (abang getih pithik) dari Lasem, disebut batik Tiga Negeri. Saat ini batik Tiga Negeri cukup diproduksi (dihasilkan) di satu lokasi saja.
Di kalangan kolektor (pengumpul) batik cukup banyak yang menekuni batik pesisiran, beberapa bahkan menggelar pameran atau menerbitkan katalog agar koleksinya bisa dinikmati publik (orang ramai).
Pameran terkini yang mengkhususkan batik pesisiran dilakukan oleh Pithecanthropus, sebuah jaringan tokoh ritel (runcit) di Bali yang mengangkat warisan tradisional Indonesia sebagai inspirasi produk moden. Di lantai kedua rumah panggung antik yang dipindahkan dari Palembang dan dibangun-ulang di kawasan Ketewel di Bali, puluhan batik pesisiran antik koleksi pendiri (pejuang seni batik) Pithecanthropus digelar dengan indah, dipadupadankan dengan atasan kebaya yang sama antiknya.
Batik antik yang dipajang datang dari berbagai kota pesisiran Jawa, sebahagian telah cukup rapuh walaupun keindahannya masih bertahan. Berbagai motif yang dibahas di atas bisa ditemui di setiap sudut ruangan, pengunjung bermata jeli (mata yang awas) bahkan bisa mengenali sehelai karya Eliza van Zuylen di koridor utama.
Digelar di antara perabot antik dan perangkat wayang potehi yang digemari etnik Tionghua (Cina) pada masanya, pengunjung tidak merasa seolah-olah memasuki ruang pameran tetapi berkunjung ke rumah keluarga peranakan kaya zaman dahulu.
Dengan semakin kosmopolitannya kehidupan Indonesia, mampukah batik pesisiran bertahan?
Seperti semua unsur budaya yang ada, eksistensi (kewujudannya) tergantung kepada relevansi. Batik dalam bentuk kain klasik mungkin lebih terbatas pemakaiannya, namun sebagai tekstil pakaian moden dapat bertahan baik sejauh ini di Indonesia.
Di kalangan Tionghua (masyarakat Cina) yang selama ini cenderung berpakaian kebarat-baratan, akhir-akhir ini, terutama saat Tahun Baru Cina, terlihat ketertarikan kembali mengenakan batik pesisiran bersama kebaya atau sebagai bahan cheongsam.
Trend seperti ini yang membuat Hari Batik, yang jatuh setiap 2 Oktober di Indonesia, terasa penuh harapan kembali.
Selamat Hari Batik dari Indonesia!
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim adalah penulis dari Jakarta.
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.