Skip to main content

Komentar

NOTA DARI JAKARTA: Dari Jalur Perdagangan ke Batik Peranakan

Anggaran Waktu Membaca:
NOTA DARI JAKARTA: Dari Jalur Perdagangan ke Batik Peranakan

Batik pesisiran dan kebaya encim di pameran Pasang Surut di Bali pada Juli 2023. (Gambar: Lynda Ibrahim)

Diterbitkan : 05 Oct 2023 06:48PM
JAKARTA: Nusantara telah dilalui jalur pelayaran antarabangsa lebih dari satu milenia. Pada abad kelapan, Dinasti Sailendra telah berkuasa di Jawa Tengah dan mendirikan Borobudur, kuil Buddha terbesar di dunia sampai sekarang.

Artinya saat itu agama Buddha telah datang dari India, tentunya melalui jalur pelayaran. Sekitar empat abad kemudian, Islam masuk ke Nusantara melalui salah satunya pedagang Gujarat.

Jalur pelayaran dan perdagangan antarabangsa ini bukan saja membawa agama ke gugusan kepulauan khatulistiwa yang sekarang bernama Indonesia, tapi juga budaya seperti tekstil, muzik dan makanan. Kerana kapal dagang berlabuh di pesisir, wajar pengaruh asing banyak ditemui dalam budaya pesisiran. Cina, Arab dan India meninggalkan jejaknya pada batik pesisiran, dengan Cina relatif meninggalkan jejak terluas.

Selain disebut batik pesisiran, kategori ini juga sering disebut batik peranakan untuk menandai pembuatnya yang kebanyakan keturunan Melayu dengan pedagang asing yang datang berniaga.

Pesisir Pulau Jawa terdiri daripada Utara dan Selatan. Walau pesisir Utara (Betawi, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Tuban) lebih sering disebut dalam percakapan batik pesisiran, bukan bererti pesisir Selatan (Garut, Tasikmalaya) tak menawarkan pilihan menawan.

Kedua-dua pesisir kental dipengaruhi budaya Cina sehingga banyak pembatik terkenalnya peranakan Tionghua (Cina), seperti Oey Soe Tjoen di Pekalongan dan Tan Tjeng Tong di Garut-Tasikmalaya.

Sempat dianggap tidak seserius batik Surakarta dan Yogyakarta yang bersumber filosofi keraton Jawa.
Batik pesisiran sebenarnya juga berdasarkan filosofi tertentu, bukan sekadar motif tanpa erti. Di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, batik pesisiran malah lebih popular, terutama dalam kalangan generasi muda, yang mungkin kerana secara visual lebih meriah.
Batik antik karya Tan Tjeng Tong (kadang disebut batik Centongan), koleksi Hartono Sumarsono. (Sumber: Batik Garutan, Hartono Sumarsono dan Helen Ishwara, 2016.)

MOTIF DAN ERTI

Motif yang umum dijumpai adalah kupu-kupu, naga, burung merak, burung hong (phoenix), bunga teratai (lotus), bunga krisan (chrysanthemum) dan bunga peony. Cairnya persebaran budaya peranakan sekian abad kadang menggeser (menyerlahkan) erti motif antara puak peranakan, namun garis besar (perbezaan ketara) bisa ditemukan.

Butterflies and Phoenixes: Chinese Inspirations in Indonesian Textile Arts yang disusun pakar tekstil tradisional Judi Achjadi dan Asmoro Damais adalah salah satu rujukan bagus dalam memahami batik peranakan.

Menurut kajian yang disebut di atas, kupu-kupu dianggap perlambang (melambangkan) umur panjang dan bila disandingkan dengan bunga, ia melambangkan harmoni antara pria dan wanita. Dari pembicaraan dengan pembatik keturunan Tionghua (Cina) di pesisir Utara, saya mendapati bahawa bagi mereka kupu-kupu melambangkan kehidupan yang panjang yang selalu menjadi lebih baik.
Batik bermotif kupu-kupu dan bunga koleksi Hartono Sumarsono, diskusi publik di Museum Tekstil Jakarta, Oktober 2019. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)

Masih menurut kajian di atas, burung hong melambangkan keberhasilan dan keberuntungan luar biasa selain beberapa karakter mulia lainnya, dan simbolisasinya kadang berwujud burung Garuda dan burung merak dalam khazanah batik Indonesia.

Saat bertemu pembatik di Tasikmalaya, saya diceritakan bahawa merak adalah lambang kegembiraan dan ia sering dibatikkan dalam motif merak ngibing (merak menari), sedang pembatik Pekalongan bercerita tentang burung hong sebagai simbol kegigihan.

Baru-baru ini komunitas (masyarakat) batik Jakarta menyaksikan peluncuran (pelancaran) Batik Saparinah - batik bertemakan burung hong untuk menggambarkan tegarnya Saparinah Sadli, aktivis dan ketua pertama Komisi Nasional Perempuan Indonesia, dalam memperjuangkan kesetaraan gender (jantina) di Indonesia.
Batik-batik bermotif burung hong, Pameran Batik Saparinah di Jakarta, Mei 2023. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)

Untuk motif bunga, menarik sekali bahawa kajian di atas mengulas bagaimana secara bertahap motif bunga teratai (ada di Indonesia), krisan (mirip dengan bunga teratai) dan peony (tidak ada di Indonesia) melebur menjadi sebuah motif bunga khas batik peranakan Indonesia. Elemen alam lain yang paling dikenali pada batik peranakan adalah awan-awan raksasa (megamendung) dari Cirebon.

Pada awal 2015, Marks & Spencer dari Britain memakai motif megamendung dalam bentuk cetak untuk koleksi musim panasnya.
Blus Marks and Spencer bermotif cetak batik megamendung. (Sumber: Kampanye Marks and Spencer, Jan 2015)

Persebaran budaya Arab dan agama Islam kerap beriringan di Indonesia; dengan motif batik Basurek menjadi salah satu warisannya. Dikaji khusus oleh periset (penyelidik) tekstil tradisional Benny Gratha, batik yang sarat kaligrafi Arab ini disebut bersumber daripada surat-surat al-Quran, hanya dipakai di acara-acara khidmat, dan pantang dikenakan di bawah pinggang.
Batik Basurek. (Sumber: Inspirasi Islam Pada Batik, Benny Gratha, 2020)

Jejak pedagang India, etnik yang sudah berabad-abad memperkenalkan tekstil asing ke Nusantara dan sebaliknya, bisa dilihat pada motif jlamprang yang mirip dengan motif chintz yang umum ditemui pada kain patola.

Sejarah sedih seperti penjajahan pun meninggalkan jejak pada batik.
Pada zaman penjajahan Belanda, beberapa pembatik Belanda bermukim di sekitar Pekalongan, Surakarta dan Yogyakarta.

Karya mereka umum disebut Batik Belanda dan motif-motifnya terinspirasi (mendapat inspirasi) daripada kehidupan di Eropah. Buket (jambangan) bunga dan warna pastel, perlambang (lambang) musim semi (musim luruh) dan musim panas yang pasti terasa tak pernah berakhir di Nusantara, banyak dipakai.

Motif sosok Eropah, baik sipil (orang awam) mahupun serdadu (anggota tentera), acap timbul. Terinspirasi warna porselen (porselin) yang saat itu digandrungi orang kaya di Eropah, motif Batik Belanda juga kerap bervariasi biru-putih.

Pekalongan lalu dikenali sebagai penghasil batik berwarna biru terpopular di Jawa. Sampai hari ini, Batik Belanda antik karya Eliza van Zuylen, Carolina von Franquemont dan L. Matzelaar banyak di koleksi muzium dan diburu kolektor (pengumpul) batik serius.
Batik karya Eliza van Zuylen. (Sumber: Batik Belanda 1840-1940, Harmen C Veldhuisen, 1993)

Pada masa penjajahan Jepang (Jepun), tekstil dan bahan baku jarang diperolehi, sehingga pembatik membuat dua motif dalam selembar kain, dikenali sebagai motif pagi-sore kerana dapat dibalikkan untuk pemakaian pagi dan sore (petang) sebagai dua busana yang berbeza.

Pembatik juga memasukkan unsur baru seperti bunga Sakura dan kipas kertas untuk menarik minat beli penjajah Jepang (Jepun). Motif baru ini kemudian dikenali sebagai motif Jawa Baru atau Hokokai.

Apakah batik pesisiran sepenuhnya terceraikan dari batik di pusat kerajaan Jawa seperti Surakarta/Solo dan Yogyakarta?

Tidak. Motif Dua Negeri dan Tiga Negeri lahir dari lancarnya hubungan dagang di Jawa. Warna biru dikerjakan di Pekalongan dan warna kecoklatan (sogan) diselesaikan di Surakarta atau Yogyakarta untuk membentuk Dua Negeri.

Bila ditambah warna merah pekat darah ayam (abang getih pithik) dari Lasem, disebut batik Tiga Negeri. Saat ini batik Tiga Negeri cukup diproduksi (dihasilkan) di satu lokasi saja.
Batik Tiga Negeri koleksi Fayrina Kadaroesman, pameran publik, Novermber 2019. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)

PAMERAN

Di kalangan kolektor (pengumpul) batik cukup banyak yang menekuni batik pesisiran, beberapa bahkan menggelar pameran atau menerbitkan katalog agar koleksinya bisa dinikmati publik (orang ramai).

Pameran terkini yang mengkhususkan batik pesisiran dilakukan oleh Pithecanthropus, sebuah jaringan tokoh ritel (runcit) di Bali yang mengangkat warisan tradisional Indonesia sebagai inspirasi produk moden. Di lantai kedua rumah panggung antik yang dipindahkan dari Palembang dan dibangun-ulang di kawasan Ketewel di Bali, puluhan batik pesisiran antik koleksi pendiri (pejuang seni batik) Pithecanthropus digelar dengan indah, dipadupadankan dengan atasan kebaya yang sama antiknya.
Batik pesisiran dan kebaya encim, pameran Pasang Surut di Bali, Juli 2023. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)

Bukan hanya dalam bentuk kain panjang, koleksi mencakupi kain sarung, celana pria, selendang penggendong bayi dan taplak pengalas altar sembahyang (tok wi).

Batik antik yang dipajang datang dari berbagai kota pesisiran Jawa, sebahagian telah cukup rapuh walaupun keindahannya masih bertahan. Berbagai motif yang dibahas di atas bisa ditemui di setiap sudut ruangan, pengunjung bermata jeli (mata yang awas) bahkan bisa mengenali sehelai karya Eliza van Zuylen di koridor utama.

Digelar di antara perabot antik dan perangkat wayang potehi yang digemari etnik Tionghua (Cina) pada masanya, pengunjung tidak merasa seolah-olah memasuki ruang pameran tetapi berkunjung ke rumah keluarga peranakan kaya zaman dahulu.
Selendang batik untuk menggendong bayi dan perangkat wayang Potehi, pameran Pasang Surut di Bali, Juli 2023. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)
(Dari kiri) Kebaya encim, kain tokwi, kain pesisiran bermotif serdadu, kain pesisiran bermotif bunga), pameran Pasang Surut di Bali, Juli 2023. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)

Dilengkapi dengan keterangan bertulis yang memadai, dan disertai acara diskusi publik (perbincangan terbuka) dengan pemerhati batik pesisiran, pameran ini cukup mengedukasi (mendidik) pengunjung yang baru mempelajari batik dan memanjakan mata bagi penggemar batik yang sudah berwawasan.
Kain batik pesisiran pagi-sore bermotif jlamprang dan parang, pameran Pasang Surut di Bali, Juli 2023. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)
Seprai batik pesisiran bermotif burung hong, pameran Pasang Surut di Bali, Juli 2023. (Dokumentasi: Lynda Ibrahim)

Dengan semakin kosmopolitannya kehidupan Indonesia, mampukah batik pesisiran bertahan?

Seperti semua unsur budaya yang ada, eksistensi (kewujudannya) tergantung kepada relevansi. Batik dalam bentuk kain klasik mungkin lebih terbatas pemakaiannya, namun sebagai tekstil pakaian moden dapat bertahan baik sejauh ini di Indonesia.

Di kalangan Tionghua (masyarakat Cina) yang selama ini cenderung berpakaian kebarat-baratan, akhir-akhir ini, terutama saat Tahun Baru Cina, terlihat ketertarikan kembali mengenakan batik pesisiran bersama kebaya atau sebagai bahan cheongsam.

Trend seperti ini yang membuat Hari Batik, yang jatuh setiap 2 Oktober di Indonesia, terasa penuh harapan kembali.

Selamat Hari Batik dari Indonesia!


MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim adalah penulis dari Jakarta.

Sumber : BERITA Mediacorp/aq
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Video Pilihan

Lebih banyak artikel Berita