NOTA DARI JAKARTA: Dari #IndonesiaGelap ke #KaburAjaDulu
Penuntut Indonesia melaungkan slogan semasa tunjuk perasaan berkait kecekapan belanjawan dan dasar lain oleh Pesiden Prabowo Subianto, di Jakarta, Indonesia, Jumaat, 21 Feb 2025. (Gambar: AP Photo/Achmad Ibrahim)
Sayangnya, Indonesia tidak bangkit secepat itu untuk berlari kembali.
Segera setelah pandemik melanda, datang pula tahun politik menjelang Pemilihan Presiden pada Februari 2024. Masa jabatan Joko Widodo berakhir setelah dua periode (penggal) sesuai konstitusi (perlembagaan), dan besar kemungkinan terjadi pergantian konstelasi (pembaharuan) politik.
Seperti umumnya pada tahun politik Indonesia, sentimen cenderung rendah kerana potensi pergantian pemimpin dan arah kebijakannya. Individu menahan konsumsi (perbelanjaan), pengusaha menunda investasi (pelaburan). Akibatnya, ekonomi jalan di tempat.
Harapan agar ekonomi lekas bangkit setelah Presiden baharu dipilih tidak terkabul kerana pemerintahan baharu ini memerintahkan pemangkasan dan pengetatan anggaran besar-besaran demi program andalan, baik yang dicanangkan saat kampanye (kempen pilihan raya) seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah seluruh Indonesia sampai program baharu seperti pembentukan badan investasi Danantara. Akhirnya, ekonomi makin tersendat.
Tagar (tanda pagar) #IndonesiaGelap mencuat pada pertengahan Februari 2025; disuarakan oleh demonstrasi (tunjuk perasaan) besar-besaran mahasiswa di beberapa kota besar Indonesia dan viral (tular) di media sosial. Diterjemahkan bebas ke dalam Bahasa Inggeris sebagai “Bleak Indonesia”, tanda pagar ini merujuk kepada perasaan rakyat terhadap situasi negara.
Saat itu, pemerintahan Prabowo-Gibran menginjak hari ke-100, tonggak yang biasanya dipakai sebagai evaluasi kinerja (prestasi).
Untuk adilinya, kesulitan ekonomi sudah terjadi pada tahun-tahun terakhir era Jokowi, begitu juga dengan kekecewaan terhadap akrobat politik untuk memuluskan jalan putera Jokowi sebagai wakil (naib) presiden Prabowo dan manuver (percaturan) lain untuk “memanjangkan” kekuasaan Jokowi.
Apa contohnya? Memangkas anggaran penting pembangunan, demi MBG yang belum diuji cuba. Menyerukan efisiensi anggaran, namun membentuk kabinet 100 anggota dan mengangkat pesohor tanpa kredibilitas (kredibiliti) sebagai pembantu khusus di kementerian-kementerian.
Beberapa akaun popular menambahkan isu seperti kecilnya gaji guru dan bobroknya (teruknya) layanan terhadap publik (orang awam) ke daftar kekecewaan rakyat di balik tanda pagar #IndonesiaGelap yang viral (tular).
Di jalan raya, protes (bantahan) yang digelar rasmi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mula diikuti peserta seperti ibu-ibu yang mengeluhkan inflasi harga.
Pada April, saat protes (tunjuk perasaan) mahasiswa sudah mereda, Prabowo kembali cuba membantah naratif ini, dan pada akhir Jun lalu petinggi (pegawai kanan) Tentera Nasional Indonesia (TNI) mengumumkan akan melacak (memberkas) pelopor tagar (tanda pagar) #IndonesiaGelap dan petisyen penolakan kembalinya militer (tentera) dan polisi (polis) menyandang jawatan dalam jabatan sipil (perkhidmatan awam).
Terlepas semua bantahan Pemerintah di media, realiti di lapangan menunjukkan “Indonesia Gelap” tetap terungkapkan dalam unggahan (catatan) media sosial dan percakapan seharian. Ini bererti, keresahan rakyat Indonesia terhadap situasi negaranya adalah sesuatu yang sahih dan nyata, mungkin berpanjangan bila tidak ada perbaikan besar.
Bersamaan dengan mencuatnya #IndonesiaGelap dalam kalangan rakyat Indonesia, tanda pagar #KaburAjaDulu muncul dan juga cepat menjalar. Secara harafiah bererti “melarikan diri saja dahulu”, tanda pagar ini dipakai dalam percakapan tentang peluang kerja dan hidup di mancanegara (luar negara), sekecil apa pun, yang dianggap masih lebih baik ketimbang (berbanding) keadaan di Indonesia.
Ramai warganet Indonesia, mayoritas (majoriti) Gen Y dan Gen Z yang berusia produktif, menceritakan kesulitan mencari pekerjaan di dalam negeri dan peluang bekerja di negara lain. Menimpali dengan semangat, sebahagian diaspora Indonesia di mancanegara (luar negara) memberi saranan mencari pekerjaan atau realiti hidup di negara tersebut.
Kerap diserukan bersamaan dengan tanda pagar sebelumnya, tanda pagar ini mudah ditemui di Twitter/X, Instagram, TikTok dan Threads sampai saat ini.
Sentimen ini bukannya tidak berdasar. Seretnya perekonomian diperburuk dengan hilangnya kepercayaan pelaku bisnes dan investor (pelabur), terlihat dari ambruknya (kemerosotannya) nilai tukar Rupiah dan pasar modal pada Februari lalu. 60% daripada 280 juta populasi (penduduk) Indonesia berusia bawah 30 tahun, tapi lapangan pekerjaan sedikit sedangkan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melejit.
Bahkan Badan Pusat Statistik sendiri memaparkan menyusutnya kelas menengah (pertengahan), bantalan pertumbuhan ekonomi, dari 57.3 juta (21.5% populasi) pada 2019 menjadi 47.8 juta (17.1% populasi) pada 2014.
Ramadan dan Idul Fitri, yang biasanya ditandai kegembiraan, tahun ini terasa berat di pundak kerana surutnya daya beli masyarakat.
Lagi-lagi, reaksi awal Pemerintah adalah penyangkalan. Seketika setelah tanda pagar muncul, Ebenezer Gerungan (Wakil Menteri Ketenagakerjaan) (Naib Menteri Tenaga Kerja) mempersilakan rakyat untuk kabur ke luar negeri tanpa perlu pernah kembali, reaksi arogan (angkuh) yang kian membuat rakyat meradang.
Namun lucunya, di akhir Jun kelmarin, Abdul Kadir Karding (Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia) justeru menyarankan warga Indonesia untuk mencari kerja ke mancanegara (luar negara) agar membantu menurunkan angka pengangguran. #KaburAjaDulu makin gencar beredar di media sosial dan percakapan kerana memang ini realiti pahit yang dihadapi kebanyakan rakyat.
Pada bulan Agustus (Ogos) juga Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan angka terbaharu yang menunjukkan pertumbuhan GDP kuartal (suku) kedua sebesar 5.25% bila dihitung dari kuartal (suku) sama tahun sebelumnya (Q2 2025, berbanding setahun lalu), lebih tinggi dari prediksi (ramalan) 4.8% seperti pertumbuhan GDP di kuartal (suku) sebelumnya (Q1 2025, berbanding setahun lalu).
Namun angka ini dengan segera diragukan kesahihannya oleh ekonom (ahli ekonomi), penganalisis dan asosiasi (persatuan) pengusaha, yang semua mencatat pergerakan sebaliknya.
The Center of Economic and Law Studies (CELIOS), salah satu lembaga riset (penyelidikan) terkemuka Indonesia, bahkan sampai menyurati Divisyen Statistik Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNSD) tentang kejanggalan angka ini dan meminta audit independent (bebas) terhadap angka terbaharu BPS.
Banyak orang Singapura, dan bahkan pejabat Indonesia sendiri, yang mengira perekonomian Indonesia baik-baik sahaja kerana setiap konsert di Singapura, tumpah ruah penonton dari Indonesia. Setiap akhir pekan (hujung minggu), pusat beli-belah di Orchard dipenuhi pengunjung dari Indonesia.
Tapi janganlah pemandangan ini mengaburkan statistik; 1% daripada 280 juta populasi Indonesia adalah 2.8 juta manusia, setengah populasi (penduduk) Singapura, cukup untuk meramaikan pusat perbelanjaan dan konsert apa pun di negara-negara jiran.
Tapi ketimpangan (perbandingan) sosial di Indonesia yang cukup tajam bererti mayoritas (majoriti) rakyat Indonesia hidup berkebalikan dengan 1 hingga 2% yang sering terlihat di Singapura, dan demografi besar ini yang sekarang semakin sulit menemukan pekerjaan dan memperbaiki kehidupan.
Alih-alih bersikap mengelak, Pemerintah Indonesia harus segera mengatasi kompleksnya permasalahan ini, sebelum situasi makin berkembang menjadi bola liar kemelut sosial.
MENGENAI PENULIS
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.