NOTA DARI JAKARTA: Cabaran Keluarga Batik Melestarikan & Mempertahankan Warisan?
Anggaran Waktu Membaca:
JAKARTA: Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang dikenali orang asing jauh sebelum negara Indonesia terbentuk.
Sebahagian batik antik di tangan muzium dan kolektor peribadi berasal dari sebelum 1945, tahun Indonesia merdeka. Guratan motif dan nuansa warna pada setiap batik bukan hanya kreativitas (kreativiti) peribadi si pembatik, namun juga dibentuk jalannya kehidupan di masa itu.
Banyak nama pembatik legendaris mencuat dari sekian pusat batik di seantero Jawa. Karya-karya mereka diburu kurator dan kolektor, disebut di naskhah akademik dan majalah popular, dibahas dalam seminar dan lelang, dipamerkan di berbagai kesempatan.
Pekalongan terletak di pantai utara pulau Jawa, segaris dengan Cirebon, Lasem, Tuban dan Semarang. Selama ratusan tahun, kota-kota pesisiran ini dilabuhi beragam pedagang asing yang membawa seramik, tekstil, logam berharga dan komoditas (komoditi) lain untuk diperdagangkan terutama dengan rempah-rempah.
Percampuran pengaruh ini melahirkan bukan sahaja budaya unik tetapi juga batik yang menarik; warna biru seramik Cina, motif geometris Islam, motif buket (jambak) bunga Belanda.
Pekalongan berkembang menjadi salah satu pusat produksi (penghasilan) batik pesisiran yang digemari sampai ke Sumatra dan Selat Malaka. Museum Batik berdiri di pusat kota Pekalongan sampai hari ini, memberikan edukasi (pendidikan) terutama tentang batik Peranakan.
Banyak nama pembatik legendaris mencuat dari sekian pusat batik di seantero Jawa. Karya-karya mereka diburu kurator dan kolektor, disebut di naskhah akademik dan majalah popular, dibahas dalam seminar dan lelang, dipamerkan di berbagai kesempatan.
Pekalongan terletak di pantai utara pulau Jawa, segaris dengan Cirebon, Lasem, Tuban dan Semarang. Selama ratusan tahun, kota-kota pesisiran ini dilabuhi beragam pedagang asing yang membawa seramik, tekstil, logam berharga dan komoditas (komoditi) lain untuk diperdagangkan terutama dengan rempah-rempah.
Percampuran pengaruh ini melahirkan bukan sahaja budaya unik tetapi juga batik yang menarik; warna biru seramik Cina, motif geometris Islam, motif buket (jambak) bunga Belanda.
Pekalongan berkembang menjadi salah satu pusat produksi (penghasilan) batik pesisiran yang digemari sampai ke Sumatra dan Selat Malaka. Museum Batik berdiri di pusat kota Pekalongan sampai hari ini, memberikan edukasi (pendidikan) terutama tentang batik Peranakan.
Dari bursa batik Pekalongan lahir salah satunya keluarga Oeij dan Oey. Walau sama-sama keturunan Tionghoa (Cina) dengan nama yang mirip, kedua-dua keluarga ini tidak bertalian saudara. Tahun ini, warga Singapura dan Jakarta beruntung bisa menyaksikan cerita tiga generasi masing-masing keluarga pembatik kampiun ini.
Keluarga Oeij di Muzium Peranakan Singapura
Selama lebih setengah tahun, dua lantai Muzium Peranakan Singapura dipenuhi pameran batik antik Pekalongan. Bertajuk “Batik Nyonya”, pameran besar ini merujuk pada tiga generasi perempuan keluarga Oeij (ejaan Belanda untuk “Oey”) yang mengembangkan usaha batik tulis pada periode (tempoh) 1890-1980.
Memiliki leluhur dari Fujian, Oeij Soen King tinggal di Pintu Dalam, bahagian dari Pecinan di Pekalongan. Di rumah panjang Tionghoa ini bisnes batik dimulakan isterinya, Liem Long Eng, wanita Pekalongan yang dinikahinya pada akhir 1880-an. Nyonya Oeij Soen King (1871-1950) mengikuti pakem klasik untuk warna dan motif, sesekali membubuhkan sentuhan peribadi untuk langganan tertentu.
Pada saat yang sama, industri batik Pekalongan mula melayani pesanan dari luar pulau Jawa.
Keluarga Oeij di Muzium Peranakan Singapura
Selama lebih setengah tahun, dua lantai Muzium Peranakan Singapura dipenuhi pameran batik antik Pekalongan. Bertajuk “Batik Nyonya”, pameran besar ini merujuk pada tiga generasi perempuan keluarga Oeij (ejaan Belanda untuk “Oey”) yang mengembangkan usaha batik tulis pada periode (tempoh) 1890-1980.
Memiliki leluhur dari Fujian, Oeij Soen King tinggal di Pintu Dalam, bahagian dari Pecinan di Pekalongan. Di rumah panjang Tionghoa ini bisnes batik dimulakan isterinya, Liem Long Eng, wanita Pekalongan yang dinikahinya pada akhir 1880-an. Nyonya Oeij Soen King (1871-1950) mengikuti pakem klasik untuk warna dan motif, sesekali membubuhkan sentuhan peribadi untuk langganan tertentu.
Pada saat yang sama, industri batik Pekalongan mula melayani pesanan dari luar pulau Jawa.
Sejalan dengan berjalannya bisnes batik keluarga, sang putera Oeij Kok Sing tumbuh dewasa. Pada tahun 1913 dia menikahi Kho Thing Nio, wanita generasi keenam dari keluarga Peranakan kaya di Solo yang luwes bergaul dengan keluarga kerajaan Mataram.
Ada dugaan bahawa pernikahan ini juga didasarkan pada pengembangan usaha kedua-dua keluarga.
Nyonya Oeij Kok Sing (1895-1966) giat membantu mertua perempuannya, Nyonya Oeij Soen King. Karyanya menggunakan buket bunga berwarna cerah dengan latar belakang motif kecil berulang, selalu ditandai tanggal pembuatan. Ia meneladani praktek (amalan)mertuanya untuk menciptakan kreasi eksklusif bagi pelanggan tertentu.
Pada akhir 1920-an, Nyonya Oeij Kok Sing praktis mengendalikan operasi usaha batik keluarga Oeij, selain menjalankan bisnes ubat herbal dan sarang burung.
Nyonya Oeij Kok Sing (1895-1966) giat membantu mertua perempuannya, Nyonya Oeij Soen King. Karyanya menggunakan buket bunga berwarna cerah dengan latar belakang motif kecil berulang, selalu ditandai tanggal pembuatan. Ia meneladani praktek (amalan)mertuanya untuk menciptakan kreasi eksklusif bagi pelanggan tertentu.
Pada akhir 1920-an, Nyonya Oeij Kok Sing praktis mengendalikan operasi usaha batik keluarga Oeij, selain menjalankan bisnes ubat herbal dan sarang burung.
Dari pernikahan mereka, lahirlah Oeij Djien Nio pada 1924 sebagai puteri bongsu. Akrab dipanggil Jane, dia terlibat dalam bisnes batik keluarga sejak kecil dan sepenuhnya mengambil alih kendali usaha setelah menikahi Liem Siok Hien pada 1947.
Gaya batiknya lebih terbuka pada perkembangan pasaran dan zaman, termasuk kerusuhan rasial (kaum) dan gejolak politik pada pertengahan 1960-an, sehingga lebih bernafaskan kontemporari. Rumah batik keluarga Oeij terselamat dari kerusuhan rasial kerana rakan bisnes mereka, Haji Chamid Jasin, berdiri di depan rumah dan menghalau perusuh, sebagaimana diceritakan puteranya dalam video yang diputar di muzium tersebut.
Pasca kerusuhan 1965-66, Pemerintah Indonesia menekan keturunan Tionghoa (Cina) mengubah nama menjadi keindonesiaan. Kerana keluarga suaminya mengubah nama keluarga menjadi Hendromartono, Jane lalu dikenali sebagai Jane Hendromartono. Jane terus mengembangkan bisnes batik Oeij, berkolaborasi dengan banyak pihak, sampai ia wafat pada 1988.
Pameran di Muzium Peranakan Singapura ini bisa terselenggarakan kerana ketiga-tiga puteri Jane terlibat dalam persiapannya dan mengisahkan sejarah keluarga dalam video yang bisa ditonton pengunjung muzium. Sayangnya, usaha batik Oeij terhenti setelah Jane Hendromartono tak ada lagi.
Gaya batiknya lebih terbuka pada perkembangan pasaran dan zaman, termasuk kerusuhan rasial (kaum) dan gejolak politik pada pertengahan 1960-an, sehingga lebih bernafaskan kontemporari. Rumah batik keluarga Oeij terselamat dari kerusuhan rasial kerana rakan bisnes mereka, Haji Chamid Jasin, berdiri di depan rumah dan menghalau perusuh, sebagaimana diceritakan puteranya dalam video yang diputar di muzium tersebut.
Pasca kerusuhan 1965-66, Pemerintah Indonesia menekan keturunan Tionghoa (Cina) mengubah nama menjadi keindonesiaan. Kerana keluarga suaminya mengubah nama keluarga menjadi Hendromartono, Jane lalu dikenali sebagai Jane Hendromartono. Jane terus mengembangkan bisnes batik Oeij, berkolaborasi dengan banyak pihak, sampai ia wafat pada 1988.
Pameran di Muzium Peranakan Singapura ini bisa terselenggarakan kerana ketiga-tiga puteri Jane terlibat dalam persiapannya dan mengisahkan sejarah keluarga dalam video yang bisa ditonton pengunjung muzium. Sayangnya, usaha batik Oeij terhenti setelah Jane Hendromartono tak ada lagi.
Keluarga Oey di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Penggemar batik serius pasti mengenali nama Oey Soe Tjoen, pembatik legendaris dari Pekalongan sejak masa kolonial Belanda. Helaian karyanya yang asli berada di brankas (vault) muzium dan kolektor serius, batik tiruannya kerap beredar antara penjual batik antik dengan harga selangit. Tahun ini, persis seabad berlangsungnya usaha keluarga, cucunya mengadakan pameran retrospektif di salah satu pusat seni paling bergengsi (diiktiraf) di Jakarta.
Mendirikan usaha batiknya pada tahun 1925 di kawasan Kedungwuni di Pekalongan, pasangan Oey Soe Tjoen dan Kwee Tjoen Giok Nio (Kwee Nettie) bahu-membahu membesarkan usaha keluarga ini. Sesuai dengan norma saat itu, batik yang mereka produksi (hasilkan) semuanya adalah batik tulis halus.
Terinspirasi motif buketan (jambak bunga) dari pembatik Belanda yang berdiam di Pekalongan seperti Eliza van Zuylen, batik Oey cenderung menjaga latar belakang polos agar bunga lebih menonjol. Awalnya memakai bunga tulip dan mawar khas Eropah, lambat laun batik Oey mengambil bunga khas budaya Tionghoa seperti seruni dan teratai.
Melayani pesanan khusus Bupati Pekalongan pada tahun 1935, Oey Soe Tjoen membahagi dua batik dalam motif bunga mawar dan burung merak, sehingga sehelai batik bisa dikenakan bolak-balik seperti dua helai yang berbeza. Kreativitas (daya kreativiti) ini dikenal luas sampai sekarang sebagai batik pagi-sore.
Penggemar batik serius pasti mengenali nama Oey Soe Tjoen, pembatik legendaris dari Pekalongan sejak masa kolonial Belanda. Helaian karyanya yang asli berada di brankas (vault) muzium dan kolektor serius, batik tiruannya kerap beredar antara penjual batik antik dengan harga selangit. Tahun ini, persis seabad berlangsungnya usaha keluarga, cucunya mengadakan pameran retrospektif di salah satu pusat seni paling bergengsi (diiktiraf) di Jakarta.
Mendirikan usaha batiknya pada tahun 1925 di kawasan Kedungwuni di Pekalongan, pasangan Oey Soe Tjoen dan Kwee Tjoen Giok Nio (Kwee Nettie) bahu-membahu membesarkan usaha keluarga ini. Sesuai dengan norma saat itu, batik yang mereka produksi (hasilkan) semuanya adalah batik tulis halus.
Terinspirasi motif buketan (jambak bunga) dari pembatik Belanda yang berdiam di Pekalongan seperti Eliza van Zuylen, batik Oey cenderung menjaga latar belakang polos agar bunga lebih menonjol. Awalnya memakai bunga tulip dan mawar khas Eropah, lambat laun batik Oey mengambil bunga khas budaya Tionghoa seperti seruni dan teratai.
Melayani pesanan khusus Bupati Pekalongan pada tahun 1935, Oey Soe Tjoen membahagi dua batik dalam motif bunga mawar dan burung merak, sehingga sehelai batik bisa dikenakan bolak-balik seperti dua helai yang berbeza. Kreativitas (daya kreativiti) ini dikenal luas sampai sekarang sebagai batik pagi-sore.
Oey Soe Tjoen dan Kwee Nettie berdisiplin dalam mencapai kualitas (mutu) pembatikan dan pewarnaan terbaik, tidak segan membuang helai batik yang cuma bercela setitik.
Mereka juga mula meninggalkan latar belakang polos dan mengisinya dengan berbagai motif kecil halus. Kualitas tinggi ini terlihat dari karya mereka yang dipamerkan, yang walaupun telah berusia seabad, tetap indah dan cemerlang. Era keemasan pasangan ini kurang lebih semasa dengan Nyonya Oeij Kok Sing, generasi kedua keluarga Oeij di atas.
Tak selalu beruntung, rumah batik pasangan ini ikut dijarah saat pendudukan Jepang (Jepun) pada tahun 1942, di mana hanya batik yang terendam dalam ember pewarnaan yang selamat dari penjarahan.
Mereka juga mula meninggalkan latar belakang polos dan mengisinya dengan berbagai motif kecil halus. Kualitas tinggi ini terlihat dari karya mereka yang dipamerkan, yang walaupun telah berusia seabad, tetap indah dan cemerlang. Era keemasan pasangan ini kurang lebih semasa dengan Nyonya Oeij Kok Sing, generasi kedua keluarga Oeij di atas.
Tak selalu beruntung, rumah batik pasangan ini ikut dijarah saat pendudukan Jepang (Jepun) pada tahun 1942, di mana hanya batik yang terendam dalam ember pewarnaan yang selamat dari penjarahan.
Anak ketiga pasangan ini, Oey Kam Long, menikahi Lie Tjien Nio dan mula mengambil alih usaha batik keluarga pada 1976. Sesuai dengan tekanan Pemerintah Indonesia untuk mengganti nama Tionghoa, pasangan ini lalu dikenali sebagai Muljadi Widjaja dan Istiati Setiono.
Berbeza dengan generasi pertama Oey yang menikmati kejayaan batik tulis, generasi kedua Oey harus menghadapi inovasi teknologi berupa tekstil cetak bercorak batik (printed batik) yang jauh lebih murah dan cepat diproduksi (dihasilkan) kerana berdasarkan teknik cetak mesin.
Salah satu keputusan bisnes berat yang harus diambil pasangan ini adalah berhenti memakai cuwiri (motif kecil halus) kerana banyak ditiru oleh tekstil cetak bercorak batik.
Berbeza dengan generasi pertama Oey yang menikmati kejayaan batik tulis, generasi kedua Oey harus menghadapi inovasi teknologi berupa tekstil cetak bercorak batik (printed batik) yang jauh lebih murah dan cepat diproduksi (dihasilkan) kerana berdasarkan teknik cetak mesin.
Salah satu keputusan bisnes berat yang harus diambil pasangan ini adalah berhenti memakai cuwiri (motif kecil halus) kerana banyak ditiru oleh tekstil cetak bercorak batik.
Dalam perjalanan pernikahannya, pasangan ini dikurniakan seorang puteri, Oey Kiem Lian (Widianti Widjaja), yang kemudian menjadi pewaris bisnes. Dari sisi ini, Widianti Widjaja mirip dengan Jane Hendromartono, cucu perempuan yang menjadi generasi ketiga usaha batik keluarga yang dimulakan oleh kakek-nenek mereka.
Sempat tidak yakin dengan keterampilan membatiknya, perlahan Widianti Widjaja mula mengembangkan motif dan warna di luar tradisi keluarga Oey sambil mempertahankan standard tinggi kualitas (mutu) pengerjaan.
Kepercayaan diri Widianti semakin menebal saat seorang turis Jepang (pelancong Jepun) datang membawa batik motif hokokai khas era pendudukan Jepang, yang walaupun semasa dengan kehidupan kakek Widianti namun tak pernah dipakai oleh keluarga Oey, dan meminta Widianti membuatkannya. Begitu puas sang turis (pelancong) dengan hasilnya, ia segera memesan sekian helai lagi.
Pesanan dari Jerman khusus motif cuwiri bukan sekadar membuat Widianti menggali sejarah produksi batik Oey, namun juga mendorongnya untuk merambah ke motif baharu yang terinspirasi cerita rakyat, budaya popular dan bahkan suratan Injil. Tetap menjunjung tinggi kualitas namun peduli terhadap limbah, Widianti memakai batik sisa produksi sebagai busana wayang yang dijual sebagai dekorasi (hiasan) rumah. Seperti yang ia sampaikan dalam “Keteguhan Hati Merawat Warisan”, pameran perayaan 100 tahun berlangsungnya batik Oey Soe Tjoen, seiring waktu batik menjadi medium (wadah) untuk menyampaikan pengalaman dan identitinya sebagai perempuan penerus tradisi.
Sempat tidak yakin dengan keterampilan membatiknya, perlahan Widianti Widjaja mula mengembangkan motif dan warna di luar tradisi keluarga Oey sambil mempertahankan standard tinggi kualitas (mutu) pengerjaan.
Kepercayaan diri Widianti semakin menebal saat seorang turis Jepang (pelancong Jepun) datang membawa batik motif hokokai khas era pendudukan Jepang, yang walaupun semasa dengan kehidupan kakek Widianti namun tak pernah dipakai oleh keluarga Oey, dan meminta Widianti membuatkannya. Begitu puas sang turis (pelancong) dengan hasilnya, ia segera memesan sekian helai lagi.
Pesanan dari Jerman khusus motif cuwiri bukan sekadar membuat Widianti menggali sejarah produksi batik Oey, namun juga mendorongnya untuk merambah ke motif baharu yang terinspirasi cerita rakyat, budaya popular dan bahkan suratan Injil. Tetap menjunjung tinggi kualitas namun peduli terhadap limbah, Widianti memakai batik sisa produksi sebagai busana wayang yang dijual sebagai dekorasi (hiasan) rumah. Seperti yang ia sampaikan dalam “Keteguhan Hati Merawat Warisan”, pameran perayaan 100 tahun berlangsungnya batik Oey Soe Tjoen, seiring waktu batik menjadi medium (wadah) untuk menyampaikan pengalaman dan identitinya sebagai perempuan penerus tradisi.
Keberlangsungan Keluarga Pembatik
Tidak perlu diperdebatkan kualitas batik keluarga Oeij dan Oey. Karya-karya tiga generasi kedua-dua keluarga berkualitas muzium, saksi ketangguhan melewati iklim bisnes, selera sosial dan gejolak politik yang naik dan turun.
Namun tidak bisa dipungkiri bahawa banyak faktor lain yang mempengaruhi keberlangsungan bisnes keluarga setelah beberapa generasi.
Pada keluarga Oeij, terlepas semua dobrakan bisnes dan dedikasi peribadi Jane Hendromartono, usaha batik tamat tak lama setelah Jane wafat. Ketiga-tiga puterinya, walau dalam video terlihat semangat menceritakan perjalanan bisnes leluhur, pada akhirnya bukan penerus. Keluarga besar Oeij masih menyimpan cukup banyak batik antik produksi tiga generasi, namun sampai pameran berakhir tidak tercetus keberadaan generasi keempat untuk melanjutkan tradisi.
Widianti Widjaja, yang ramah menyambut pengunjung setiap hari sepanjang pameran di TIM Jakarta, tidak berani berspekulasi mengenai penerus usaha. Sekilas menatap fotonya dengan sang suami, Oey Ien King (Setyo Purwanto), dia menyampaikan bahawa belum terlihat minat dari anak-anaknya menjadi generasi keempat pembatik Oey. Lebih muda satu generasi dibanding Jane, Widianti berpendidikan formal Akuntansi (perakaunan dan sempat bekerja profesional sebelum berkecimpung dalam bisnes batik keluarga.
Memang tidak adil memaksakan minat dan keterampilan hanya kerana garis darah. Setiap orang berhak menggeluti ilmu dan mengejar karier sesuai impiannya.
Pada saat yang sama, karya kriya (seni) Indonesia cenderung sangat personal, dipenuhi inspirasi dan teknik peribadi yang jarang dibuka di luar keluarga. Di satu sisi, hasilnya kerap fenomenal. Di sisi lain, rentan dengan perjalanan zaman. Banyak teknik tenun, pencelupan warna batik, atau metode (kaedah) ukiran yang hilang kerana pemegang terakhir ilmunya menolak mengajarkannya selain kepada keturunan langsung.
Bila mengacu pada dunia kriya dan artisan di luar negeri, banyak usaha bertahan lebih seabad kerana kepemilikannya berpindah tangan ke pihak yang memiliki keinginan dan kapasitas (keupayaan) untuk meneruskannya.
Majoriti rumah mode (fesyen) Eropah sekarang bahkan dimiliki pemodal usaha (venture capitalist) dan berganti pemimpin kreatif secara rutin, berkibar secara bisnes walau kadang dikritik sudah jauh dari nafas desain pendirinya. Model korporasi profesional ini rasanya adalah satu-satunya jalan keluar logik keberlangsungan usaha kriya (seni) legendaris Indonesia, walau mungkin tidak mudah diterima.
Bisnes batik keluarga Oeij berlangsung sekitar seabad, sedang batik keluarga Oey menginjak seabad dengan pewaris yang saat ini masih sihat dan bersemangat. Namun, akan terwujudkah mimpi pencinta batik Pekalongan bahawa setidak-tidaknya batik Oey Soe Tjoen bisa dilanjutkan generasi baru?
Kita hanya bisa menunggu.
Tidak perlu diperdebatkan kualitas batik keluarga Oeij dan Oey. Karya-karya tiga generasi kedua-dua keluarga berkualitas muzium, saksi ketangguhan melewati iklim bisnes, selera sosial dan gejolak politik yang naik dan turun.
Namun tidak bisa dipungkiri bahawa banyak faktor lain yang mempengaruhi keberlangsungan bisnes keluarga setelah beberapa generasi.
Pada keluarga Oeij, terlepas semua dobrakan bisnes dan dedikasi peribadi Jane Hendromartono, usaha batik tamat tak lama setelah Jane wafat. Ketiga-tiga puterinya, walau dalam video terlihat semangat menceritakan perjalanan bisnes leluhur, pada akhirnya bukan penerus. Keluarga besar Oeij masih menyimpan cukup banyak batik antik produksi tiga generasi, namun sampai pameran berakhir tidak tercetus keberadaan generasi keempat untuk melanjutkan tradisi.
Widianti Widjaja, yang ramah menyambut pengunjung setiap hari sepanjang pameran di TIM Jakarta, tidak berani berspekulasi mengenai penerus usaha. Sekilas menatap fotonya dengan sang suami, Oey Ien King (Setyo Purwanto), dia menyampaikan bahawa belum terlihat minat dari anak-anaknya menjadi generasi keempat pembatik Oey. Lebih muda satu generasi dibanding Jane, Widianti berpendidikan formal Akuntansi (perakaunan dan sempat bekerja profesional sebelum berkecimpung dalam bisnes batik keluarga.
Memang tidak adil memaksakan minat dan keterampilan hanya kerana garis darah. Setiap orang berhak menggeluti ilmu dan mengejar karier sesuai impiannya.
Pada saat yang sama, karya kriya (seni) Indonesia cenderung sangat personal, dipenuhi inspirasi dan teknik peribadi yang jarang dibuka di luar keluarga. Di satu sisi, hasilnya kerap fenomenal. Di sisi lain, rentan dengan perjalanan zaman. Banyak teknik tenun, pencelupan warna batik, atau metode (kaedah) ukiran yang hilang kerana pemegang terakhir ilmunya menolak mengajarkannya selain kepada keturunan langsung.
Bila mengacu pada dunia kriya dan artisan di luar negeri, banyak usaha bertahan lebih seabad kerana kepemilikannya berpindah tangan ke pihak yang memiliki keinginan dan kapasitas (keupayaan) untuk meneruskannya.
Majoriti rumah mode (fesyen) Eropah sekarang bahkan dimiliki pemodal usaha (venture capitalist) dan berganti pemimpin kreatif secara rutin, berkibar secara bisnes walau kadang dikritik sudah jauh dari nafas desain pendirinya. Model korporasi profesional ini rasanya adalah satu-satunya jalan keluar logik keberlangsungan usaha kriya (seni) legendaris Indonesia, walau mungkin tidak mudah diterima.
Bisnes batik keluarga Oeij berlangsung sekitar seabad, sedang batik keluarga Oey menginjak seabad dengan pewaris yang saat ini masih sihat dan bersemangat. Namun, akan terwujudkah mimpi pencinta batik Pekalongan bahawa setidak-tidaknya batik Oey Soe Tjoen bisa dilanjutkan generasi baru?
Kita hanya bisa menunggu.
MENGENAI PENULIS
Lynda Ibrahim ialah penulis dari Jakarta.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.