Skip to main content

Iklan

Iklan

Komentar

KOMENTAR: Ustaz Somad, media sosial dan tantangannya bagi S'pura

Anggaran Waktu Membaca:

BERITAmediacorp: Para pendiri negara Singapura sehingga pemimpin kini berpegang kepada prinsip ‘sebuah kerukunan antara kaum dan agama bukanlah hal yang semula jadi’. Ini ertinya, negara harus bekerja keras untuk menciptakan kerukunan antara kaum dan agama di Singapura sebagai syarat utama tercapainya kestabilan dan keamanan – sosial, politik dan ekonomi.

Pew Research Center di Washington DC menyebut bahwa Singapore adalah negara kota yang paling beragam di dunia dari aspek keagamaan. Tentu tidak mudah memastikan pemeluk berbagai agama ini dapat hidup berdampingan dengan damai di Singapura.

Ketika umat beragama itu berkonflik di daerah asal mereka, misalnya antara pemuluk agama di Palestin, mereka tidak harus membawa permusuhan ke Singapura.

Sebagai negara yang berdaulat, maka Singapura pun berhak memberi atau menolak masuk siapapun yang dianggap berpotensi mengganggu keharmonian hubungan antara pengikut agama dan kaum.

Maka dalam konteks di atas, penolakan Ustad Abdus Somad atau UAS - penceramah Indonesia yang mempunyai jutaan pengikut baik di media sosial maupun dunia nyata harus dinilai.

Menurut Kementerian Ehwal Dalam Negeri Singapura (MHA), sebahagian isi ceramah UAS di media sosial berpotensi memecah belah umat Singapura.

“Kami tidak akan membiarkan orang seperti Somad memiliki kesempatan dan mendapatkan pengikut tempatan atau terlibat dalam kegiatan yang mengancam keharmonian kaum kami” jelas Menteri K Shanmugam dalam pernyataan kepada dia.

Sudah semestinya setiap negara punya kepentingan untuk menjaga keharmonian kaum kerana hal itu salah satu syarat utama menjamin kestabilan negara.

Sebelum UAS, ada Mufti Ismail Menk dari Zimbabwe, Haslin Baharim dari Malaysia, Yusuf Estes dari Amerika dan lain-lain yang ditolak masuk Singapura dengan alasan yang serupa.

UAS
(Gambar: @ustadzabdulsomad_official/Instagram)

Namun, akankah dengan pelarangan masuk UAS ini ke Singapura, pesona UAS akan menguap di Singapura? Ataukah justru orang semakin ingin tahu sosok ustad kurus dan humoris ini dan bahkan kemudian bersimpati pada isi ceramahnya di media sosial? Apa yang mesti dilakukan Singapura dalam menyingkapi fenomena ini?

Kerohanian Bahasa Melayu dan Media Sosial

Untuk menjawab pertanyaan di atas, barangkali kita bisa melihat hubungan antara bahasa, dalam hal ini adalah bahasa Melayu dan kerohanian orang Melayu/Islam Singapura.

Orang sering lupa bahwa selain sebagai bahasa nasional Singapura, bahasa Melayu juga adalah bahasa kerohanian - setidak-tidaknya untuk generasi perintis Melayu/Islam Singapura.

Dengan erti kata lain, bahasa Melayu dipakai untuk belajar agama Islam. Ustaz menterjemahkan Al Quran, Hadis, doa-doa dan cerita sejarah Nabi Muhammad SAW dan lain-lain dengan bahasa Melayu. Dalam proses ini, bahasa Melayu berfungsi sebagai jembatan terwujudnya ikatan emosi seorang Muslim dengan agamanya.

Dalam beragama, ikatan emosi sangat penting. Bisa jadi orang faham sebuah bahasa tetapi tidak menangkap aspek emosi bahasa tersebut. Misalnya, Hiro (13) anak lelaki pertama saya yang lahir dan membesar di Melbourne, Australia. Dia faham ketika orang berbicara bahasa Indonesia.

Suatu saat saya ajak Hiro untuk solat Idul Fitri di Kedutaan Indonesia di Singapura. Penceramah waktu itu dari Indonesia. Ketika penceramah bicara tentang pentingnya silaturahmi dengan orang tua, sang penceramah itu menangis haru.

Hiro heran dan kemudian dia berbisik kepada saya dengan bahasa Inggris. “Why is he so dramatic Daddy?” Saat itulah saya sadar: “memang benar Hiro faham bahasa Indonesia. Tetapi dia tidak menangkap emosi spiritual dari penceramah Indonesia itu. Ia telah berfikir dan merasa dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia lagi”.

UAS
(Gambar: @ustadzabdulsomad_official/Instagram)

Maka ketika ada sosok penceramah seperti UAS yang mahir berbicara dengan langgam Melayu Riau di YouTube, kerohanian bahasa Melayu itu seolah-olah muncul kembali.

Apalagi, cara penyampaian ceramah UAS selalu dibungkus dengan cerita-cerita jenaka yang menghibur jamaah.

Barangkali, didorong rasa ingin tahu tentang Islam dari penceramah Indonesia yang lebih sederhana, santai dan mudah difahami inilah masyarakat Melayu/Islam Singapura akan tetap mendengarkan ceramah UAS di YouTube.

Dalam kajian terorisme, ada sosok Anwar Al Awlaki. Dia salah satu tokoh Al Qaeda dari Amerika keturunan Yaman. Sehingga ia sangat fasih berbicara bahasa Inggris dan Arab. Melalui internet, ia berhasil merekrut banyak orang berbicara bahasa Arab dan Inggris bergabung ke Al Qaeda dari seluruh dunia, termasuk dari Singapura dan pekerja hijrahan dari Bangladesh yang bekerja di Singapura.

Tentu UAS bukanlah teroris seperti Anwar Al Awkali. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kemampuan bahasa dan internet membuat kedua-dua sosok ini mampu menarik perhatian orang di luar batas negara/bangsa.

Dari Penceramah Ke Pendulang Suara Politik

Di Indonesia, UAS dikenal sebagai tokoh agama dari kalangan NU (Nahdhatul Ulama) Sumatra yang bermadzab Syafii. Bahkan dari jalur ibu, sanad keturunannya bersambung dengan Syiakh Silau Laut 1, seorang ulama sufi asal Minangkabau.

UAS dikenal sebagai sosok yang tegas dan tidak jarang pula berbicara politik yang sedang panas ketika itu. Misalnya saat ramai demonstrasi 212 sebagai bentuk protes kasus Ahok, Gabenor Jakarta yang dinilai menista agama Islam.

UAS tidak hadir dalam demonstrasi tersebut. Tetapi UAS sangatlah mendukung aksi tersebut sebagai bentuk “syiar Islam”. Di sinilah, pandangan “Islam politik” UAS terbaca.

UAS
Ustadz Abdul Somad. (Gambar: Ustadz Abdul Somad/Facebook)

Dengan media sosial, UAS memiliki banyak pengikut yang militan- tidak hanya di Indonesia. Tetapi dari Malaysia, Brunei dan mungkin dari Singapura juga. Mereka mendatangi banyak pengajian UAS, mendengar kajian melalui Channel YouTube, menyunting serta menyebarkan ceramah UAS secara meluas.

Hari ini, sosok UAS tidak lagi hanya sebagai “penceramah kampung” dari Riau, tetapi ia sudah menjadi ustaz popular yang mampu menggerakkan ribuan massa setelah masuknya Habib Riziek Syihab ke dalam penjara.

Kemampuan UAS menarik massa ini telah dilirik ahli politik seperti dari Partai Keadilan Sejahtera, PKS. Ahli politik ini akan bertarung dalam Pilihanraya Presiden Indonesia 2024. Mereka akan berhati-hati menyikapi kasus ditolaknya UAS masuk ke Singapura ini.

Pentingnya Narasi Alternatif

Singapura adalah negara kota yang plural dan serius melawan ‘hate speech, exclusivist dan segregationist ideas’.

Oleh itu, dalam lingkaran pimpinan politik Melayu/Islam Singapura jelas telah ada kesepakatan bahwa tidak ada tempat bagi pemikiran UAS yang berpotensi memecah belah kaum dan agama di Singapura.

Kesedaran ditingkat kepimpinan tentu tidaklah cukup. Perlu dilakukan “grass-root awareness campaign” atau “pendidikan kepada masyarakat akar rumput” kepada masyarakat Melayu/Islam akan pentingnya “kontekstualisasi” dari apa yang disampaikan para penceramah YouTube di Indonesia.

YouTube sebagai bagian bentuk dari teknologi informasi memang membantu masyarakat mencari apa yang hanya mereka ingin tahu. Ini memudahkan namun membuat mereka terpaku eksklusif terutama didukung dengan algoritma yang ada.

Penting juga MUIS sebagai badan Islam tertinggi di Singapura, membantu masyarakat untuk mampu kontekstualisasi ceramah ustaz sosmed (sosial media) Indonesia.

Selain UAS, ada juga UAH atau Ustadz Adi Hidayat yang juga punya pasukan penerbit di Akhyar TV atau Quantum Akhyar Institute sejak tahun 2013. UAH juga tak jarang mengundang kontroversi. Salah satunya ia mengatakan bahwa “sebaik apapun non-Muslim tidak akan masuk surga”.

Ada pula ustad dari aliran Salafi seperti Ustaz Khalid Basalamah yang pernah mengatakan bahwa wayang kulit haram dan lagu kebangsaan Indonesia Raya juga tak perlu dinyanyikan.

Sedangkan sosok Ustaz Hanan Attaki seringkali dijuluki “ustadz milenial”. Dakwahnya diselingi oleh retorika ala-ala anak muda dan menggunakan istilah hits yang populer. Lulusan Al Azhar Mesir ini merupakan pendiri gerakan Pemuda Hijrah.

Tentu ia juga tidak lepas dari kontroversi. Hanan Attaki pernah menyebutkan bahwa wanita sholehah memiliki berat badan 55 kg seperti halnya Aisyah RA.

Perpindahan kekuasaan agama ke media sosial membuka peluang kepada penceramah dengan ideologi tertentu menyebarkan fahaman keagamaannya. Padahal seseorang akan bisa kredibel dalam menginterpretasikan hal tertentu setelah mempelajari secara komprehensif dan menekuni secara terus menerus terutama untuk agama.

Namun hal itu dipatahkan oleh media sosial. Peran sanad yang digunakan untuk menemukan kesahihan ajaran agama tidak diambil kira.

Dengan adanya gempuran ustaz media sosial dari Indonesia di atas, Muslim Singapura harus tetap “percaya diri” dengan menjadi Muslim minoriti dalam sebuah negara berbilang budaya yang sekular seperti Singapura ini.

Terus menunjukkan “ahlakul karimah” atau “budi pekerti” yang baik kepada sesama Muslim ataupun pemeluk agama ataupun orang tidak beragama sekalianpun adalah salah satu caranya.

Bukankah Al Quran telah mengingatkan: “Lakum dinukum waliyadin” – Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

(Gambar: Laman Universiti Monash)

MENGENAI PENULIS:
Dr Noor Huda Ismail adalah Zamil Pelawat di Sekolah Pengajian Antarabangsa S. Rajaratnam (RSIS). Beliau pakar dalam kajian radikalisasi dan pengganasan.

Sumber : BERITA Mediacorp/nk

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Iklan

Lebih banyak artikel Berita

Iklan

Aa