Skip to main content

Iklan

Iklan

Komentar

Bahasa Melayu & Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Anggaran Waktu Membaca:

BERITAmediacorp: “Ah, comel kali budak ni!”

Saya, saat itu masih kecil, ibu saya dan sesama anggota delegasi Indonesia, terperanjat. Wanita Malaysia yang duduk di samping ibu saya di sebuah acara internasional itu tersenyum santai menunjuk saya. Saya hanya bermain dengan kucing lewat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun-- mengapa disebut comel? Lalu siapa pula yang budak?


Setelah ibu saya dengan diplomatis mencoba mengusut, ternyata yang dimaksud wanita Malaysia itu betapa imutnya saya sebagai anak kecil. “What a cute child,” dalam bahasa Inggris.

Walau dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia budak berarti anak-anak dalam bahasa nasional Indonesia budak umum dipakai untuk orang yang dipekerjakan paksa tanpa dibayar, atau slave dalam bahasa Inggris. Diperbudak, being enslaved. Perbudakan, slavery.

Comel sering dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan mulut besar atau iseng, atau bahkan gerutuan tak berkesudahan. Cenderung berarti peyoratif, seperti dalam cetusan, “Comel betul mulutnya, semua hal dikomentari!”

Setelah diterangkan dengan hati-hati oleh ibu saya, wanita Malaysia itu baru paham mengapa kami sempat terkejut.

Tertawalah kami bersama. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada kucing yang saya ajak main. “Geram kali lihat kucing itu!’ serunya.

Kali ini, saya dan ibu saya tidak kaget.

Ayah saya berasal dari Aceh dan dari saudara-saudara beliau kami tahu bahwa “geram” diartikan “gemas”, walau dalam bahasa Indonesia yang umum lebih sering dipakai untuk menggambarkan emosi atas suatu peristiwa negatif, misalnya “Geram hati tukang kebun saat melihat tanamannya diinjak anak nakal.”

Tapi anggota delegasi Indonesia yang duduk bersama kami tetap terkesiap.

“Kenapa harus geram ya sama kucing lewat,” bisiknya pada ibu saya. Balas berbisik, ibu saya berusaha menjelaskan.

SERUPA TAPI TAK SAMA

Kisah masa kecil saya ini kerap terjadi saat orang Indonesia berinteraksi dengan penutur Bahasa Melayu, baik di Malaysia maupun Singapura.

Mengapa?

Karena perbedaan antara Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia tidak sekadar pasal ejaan seperti berbeza vs berbeda, sihat vs sehat, atau kuih vs kue.

Banyak sekali kata yang sama namun berbeda arti, seperti pejabat yang berarti kantor (office) dalam Bahasa Melayu namun berarti orang yang menjabat (official) dalam Bahasa Indonesia.

Ada juga benda yang sama persis namun disebut amat berbeda, seperti kuih ketayap (Bahasa Melayu) vs dadar gulung (Bahasa Indonesia).

Ada yang menjadi bahan candaan, ada juga yang berbuah kesalah-pahaman merugikan.
 

kuih

Seorang ekspat Indonesia yang baru bermukim di Singapura diundang pesta.

“Jemput datang,” ucap si pengundang.

Pada hari yang dimaksud, sang ekspat menunggu seharian, tapi tak seorang pun datang. Ungkapan undangan informal dalam Bahasa Melayu itu secara harafiah dalam Bahasa Indonesia berarti seseorang akan datang untuk menjemput (to fetch).

Batal lah sang pendatang ikut berpesta.

Salah satu kolega Indonesia saya yang sedang dalam kunjungan kerja di Malaysia pernah terlambat mengejar penerbangan karena saat menanyakan mobil jemputan, jawaban sepotong yang diterimanya adalah “Kereta masih pusing-pusing.”

Dalam bahasa Indonesia, kereta adalah sebutan spesifik untuk keretaapi (train), sedangkan pusing berarti sakit kepala.

Dalam kebingungannya, kolega saya mengira disuruh menunggu di stasiun kereta. Alhasil, bukan saja tersesat, ia pun terlambat naik pesawat untuk menghadiri rapat di kota berikutnya dan akhirnya benar-benar sakit kepala.

Benar bahwa akar Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu Pasar, namun dalam perjalanannya telah berkembang dan jauh berubah.

Dicanangkan sebagai bahasa persatuan kepulauan jajahan Belanda sejak Kongres Pemuda 1928, 17 tahun sebelum kepulauan ini merdeka menjadi Indonesia, Bahasa Indonesia lalu menyerap bahasa daerah dari ratusan sukubangsa di seantero Indonesia dan juga bahasa asing seperti Belanda, Portugis, Cina, Arab dan Sansekerta.

Saat ini, di Kamus Bahasa Indonesia, kosakata dari Bahasa Melayu dan berbagai dialeknya berjumlah 352, sementara kosakata dari bahasa daerah Indonesia sendiri lebih dari 3,600, sepuluh kali lipatnya.

Contoh jejak Bahasa Melayu dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia adalah budak yang juga berarti anak dalam bahasa daerah Sunda (propinsi Jawa Barat) dan Palembang (propinsi Sumatera Selatan) atau dari pengalaman saya hidup di Manado (propinsi Sulawesi Utara) saat remaja, penggunaan kata engku dan encik untuk memanggil guru pria dan wanita.

Namun selain itu, ratusan bahasa daerah di Indonesia punya kosakata yang datang dari budaya masing-masing atau serapan dari bahasa asing.

Berbagai bahasa daerah di propinsi-propinsi di Indonesia Tengah dan Timur menyerap Bahasa Belanda, contohnya kata maar (tetapi) dalam bahasa pengantar di Manado. Contoh kecil keragaman bahasa daerah di Indonesia bisa dilihat dari tiga nama berbeda untuk camilan yang sama; boh rumrum (Aceh), onde-onde (Minang), klepon (Jawa).

Lebih seru lagi, onde-onde, bagi banyak daerah lain di Indonesia, adalah sebutan untuk sebuah camilan yang berbeda lagi.

 

onde2

KERAGAMAN INDONESIA MENCAKUP BAHASA

Sakit kepala? Well, selamat datang di Indonesia.

Memang sebegitu berbeda-bedanya sukubangsa di Indonesia baik dari tatacara, busana adat, kuliner, sampai bahasa.

Bila busana adat bisa dipertahankan beda, Indonesia butuh bahasa pengantar agar senegara bisa berkomunikasi.

Kedua orangtua saya berasal dari dua sukubangsa yang bahasa daerahnya amat berbeda, sehingga Bahasa Indonesia memang menjadi pengantar di rumah kami, sebagaimana di banyak rumahtangga lain yang berasal dari perkawinan antar suku.

Itu juga mengapa bahasa nasional penyatu ini kemudian berkembang begitu jauh dari akar Bahasa Melayu sampai animasi Upin-Ipin memerlukan subtitle untuk ditayangkan di sini, karena cukup banyak anak Indonesia yang akan bingung mengikuti cerita sepenuhnya dalam Bahasa Melayu seperti yang masih dituturkan di Malaysia.
 

buku

Ada alasan sahih mengapa slogan Malaysia Boleh diterjemahkan menjadi Malaysia Bisa dalam Bahasa Indonesia, karena dalam Bahasa Indonesia “boleh” berarti kemungkinan atau keterijinan (“may” dalam Bahasa Inggris) sedangkan “bisa” mendefinisikan kemampuan (“can” dalam Bahasa Inggris).

Can I burn the house? Technically you can, if you have the tools. May I burn the house? No, don’t be an arsonist.

Dan sesungguhnya, di luar unsur politis, apalagi dalam perdebatan di media sosial yang terbatas ruang dan konteks, perbedaan antara Bahasa Indonesia masa kini dan Bahasa Melayu umum disadari para penutur keduanya yang sering berinteraksi.

Sepanjang karir korporat saya, Bahasa Inggris adalah pilihan berkomunikasi resmi dengan ekspat Malaysia atau Singapura demi menghindari kesalahpahaman.

Saya pun kerap berpindah ke Bahasa Inggris dengan langganan penjual kain saya di Arab Street, seorang pria Melayu, saat percakapan mulai besifat teknis, demi kejelasan.

Bahkan di sepanjang tulisan ini saya harus menggunakan contoh dalam Bahasa inggris untuk mengilustrasikan maksud dan bahwa tulisan ini akan diedit dahulu oleh redaktur ke Bahasa Melayu sebelum ditayangkan.

Dan semua ini, sesungguhnya, bukan hal buruk. Alih-alih bersikukuh bahwa kedua bahasa masih persis sama, jauh lebih baik mengakui dan merayakan bahwa keduanya telah berkembang cukup luas sehingga jembatan penerjemah kerap dibutuhkan.

Bukankah itu yang sejatinya diajarkan oleh evolusi alam selama ini bahwa yang beradaptasi adalah yang bertahan saat masa berganti?

Melestarikan tidak selalu dengan kaku berdiri, kadang karena luwes menari.

Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia, riwayatmu kini.

MENGENAI PENULIS:
Lynda Ibrahim adalah penulis yang berpangkalan di Jakarta.

Sumber : BERITA Mediacorp/fa

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Iklan

Lebih banyak artikel Berita

Iklan

Aa