Skip to main content

Komentar

ALAM MELAYU: Alam Mengamanah, Manusia Mengolah

Anggaran Waktu Membaca:
ALAM MELAYU: Alam Mengamanah, Manusia Mengolah

Peradaban sering dikaitkan dengan pembangunan pusat bandar yang terancang, industri dan pasaran yang pesat, serta kemudahan sosial yang lengkap tersusun. (Gambar hiasan: Canva)

New: You can now listen to articles.

This audio is generated by an AI tool.

Diterbitkan : 28 Jun 2026 11:17PM Dikemas Kini : 28 Jun 2026 11:27PM
SINGAPURA: Dari semasa ke semasa kita mendengar perbincangan tentang peradaban, yang sering dikaitkan ialah terbangunnya pusat bandar yang terancang, industri dan pasaran yang pesat, serta kemudahan sosial yang lengkap tersusun.

Ilmu, teknologi dan kerja terpadu dengan sempurna menghasilkan budaya dan peradaban yang canggih dan maju. Dr Azhar Ibrahim Alwee menelusuri peradaban ini.
Related article image
Peradaban berkembang seiring dengan kemajuan bandar, industri, pasaran dan institusi sosial. (Gambar fail: CNA)
Di saat kita ghairah membicarakan peradaban, seperkara yang jarang dikaitkan dengannya ialah pelestarian alam sekitar atau apa yang disebut sebagai ekologi.

Menjaga & Memakmurkan Tanah Air

Di belahan Nusantara, tempat tinggal kediaman, tanah kelahiran dan negeri tempat bernaung disebut sebagai Tanah Air. Ini bukan setakat geografi yang mengandungi isi alamnya, seperti hutan, gunung, bukit, dataran, sungai, tasik dan laut. Sebutan ini juga seolah sakral, kerana dalam tanah air, segala kehidupan tertampung. Ia mesti bersih, seimbang, damai dan menyejukkan.

Sehingga ada bidalan adat yang menyifatkan pemukiman manusia sebagai sesuatu yang sempurna apabila terdapat “Masjid Makmur, Pasaran Ramai, Sungai Bersih". Begitu juga terpancar dalam ungkapan lama Melayu yang menitipkan anjuran bagaimana untuk membangunkan kampung halaman. Disebut begini:

“Yang disebut adat di kampung,
adat dijaga lembaga dijunjung,
rumah beratur dusun dikungkung,
halaman luas ladang bersambung,
suak dan sungai sama dilindung,
hutan dipelihara hidup bersambung,
di sana tempat anak cucu berlindung.”

“Adat membuat kampung halaman
rumah jangan sembarangan
halaman jangan asal-asalan
kebun jangan ditelantarkan
ladang jangan ditinggalkan
Sungai jangan dikeringkan
Suak jangan disia-siakan
Hutan belantara jangan dibinasakan
Di sana tuah ditegakkan
Di sana maruah dikekalkan”
Kurangkan Artikel
Sungai mestilah bersih jangan sampai: “Kalau keruh air di hulu, Keruhnya sampai ke kuala.”
Related article image
Sebuah kampung nelayan di Jawa, Indonesia. (Gambar hiasan: Canva)
Rimba yang menampung pelbagai haiwan dan tumbuhan mesti dilindungi. Ia dibahagikan kepada “Rimba Kepungan Sialang”, “Rimba Larangan,” dengan masing-masing diperuntukkan dalam adat apa yang boleh dipakai dan diambil dari hutan.

Umumnya, manusia dianjurkan agar akrab dengan persekitarannya:

Tahu menebas memegang adat
Tahu menebang memegang amanat
Tahu berladang menurut undang
Tahu berkebun mengikut kanun

Tahu menjaga laut dan hutan
Tahu menjaga kayu dan kayan
Tahu menjaga binatang hutan
Tebasnya tidak menghabiskan
Tebangnya tidak memusnahkan
Bakarnya tidak membinasakan

Tahu menjaga laut dan selat
Tahu menjaga rimba yang lebat
Tahu menjaga tanah ulayat
Tahu menjaga semut dan ulat
Tahu menjaga togok dan belat

Beramu tidak merusak kayu
Berotan tidak merusak hutan
Bergetah tidak merusak rimba
Berumah tidak merusak tanah
Berkampung tidak merusak gunung
Berladang tidak merusak padang.”
Kurangkan Artikel
Cita Alam Pendiri Negara

Menarik diperhatikan bagaimana keseimbangan alam sekitar sejak dari awal mendapat perhatian daripada para pendiri negara-bangsa.
Related article image
Presiden pertama Indonesia, Soekarno. (Gambar: Wikipedia)
Presiden Soekarno pernah menyebut kalimat yang sangat sakti isinya: “Aku menjadikan sungai sebagai kawanku.”

Pernah dalam sebuah pidato, Presiden Indonesia yang pertama ini mengatakan sebegini puitis:

“Engkau tahu apakah Indonesia? Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah ini. Indonesia adalah langit yang biru dan tenang itu. Indonesia adalah mega putih yang lamban itu. Indonesia adalah udara yang hangat ini. Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu memukul-mukul ke pantai di cahaya senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergerak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.”
Related article image
Mantan Naib Presiden Indonesia, Mohammad Hatta. (Gambar: Facebook/D Batak)
Mantan Naib Presiden Indonesia, Mohammad Hatta, pernah dalam satu pidato yang disampaikan pada 1950, mengingatkan peri penting menjaga hutan simpanan yang disebutnya sebagai “kapital nasional” bangsa Indonesia:

“Betapa banyaknya hutan-hutan kita yang sebenarnya menyimpan kapital nasional kita. Hutan itu tidak boleh ditebang, ia harus dipelihara, karena itulah kapital nasional kita. Siapa yang hendak membuat ladang, haruslah bertanya dulu kepada dinas kehutanan mana yang boleh ditanami menjadi ladang, mana yang tidak. Karena apabila kayu yang ada di gunung itu habis ditebang, maka air tidak bisa ditahan mengalir ke laut yang lambat laun akan menjadikan tanah-tanah kita menjadi tandus. Humus yang ada di kulit tanah habis dihanyutkan oleh air yang menyebabkan terjadinya gunung-gunung tandus.”

Wacana Hijau Mesti Menjangkau

Dengan suhu dunia semakin meninggi, pengeluaran karbon yang meningkat, zon hutan simpanan yang semakin mengecil, paras laut semakin meningkat, kesepakatan global sangat diperlukan.

Di sinilah diperlukan pendidikan ekologi, baik secara formal, mahupun di ruang awam, mesti digerakkan. Literasi persekitaran ini juga boleh digerakkan oleh kelompok sastera, budaya dan seni.

Membangunkan wacana yang konsisten dapat memberi orang awam dan kelompok berkepentingan untuk mengambil tahu, berdialog dan berkongsi maklumat dan perspektif dengan lebih meluas. Pastinya peranan media massa sangat diperlukan dalam hal ini.
Related article image
Sebuah poster bengkel hijau yang dijayakan Majlis Seni Kebangsaan (NAC) dan Lembaga Perpustakaan Negara (NLB). (Gambar: NAC & NLB)
Related article image
Pendidikan ekologi penting dalam memupuk kesedaran mengenai kesan pembangunan industri, peladangan dan pelombongan ke atas alam sekitar. (Gambar: Bernama)
Dunia akademik juga harus terkedepan membangunkan kurikulum kampus yang ampuh, dan memperuntukkan dana untuk kajian ekologi dan kesan pembangunan industri, peladangan dan pelombongan ke atas alam sekitar.

Demi meningkatkan kesedaran ekologi yang kukuh, peranan budayawan, sasterawan, seniman termasuk ilmuan dan agamawan harus digembleng.
Related article image
Dr Quraish Shihab, seorang tokoh Islam, yang juga mantan Menteri Agama Republik Indonesia. (Gambar: Facebook/Muhammad Quraish Shihab)
Related article image
Buku 'Islam & Lingkungan' (2023) oleh Prof Quraish Shihab. (Gambar: Instagram/lenterahatibook)
Di Indonesia, Prof Quraish Shihab, yang terkenal sebagai penafsir al-Quran yang terulung, telah menulis buku berjudul, 'Islam & Lingkungan' (2023).

Beliau menegaskan:

“Persoalan lingkungan (alam sekitar) merupakan salah satu persoalan yang mendapat perhatian ajaran Islam, bukan sekadar mewanti-wanti menyangkut sisi-sisi negatif pencemaran lingkungan, tetapi juga menekankan pentingnya penggunaan aneka sumber kehidupan secara wajar dan seimbang sehingga dapat dinikmati bukan saja oleh generasi masa kini, tetapi juga oleh generasi mendatang. Kedua sumber ajaran Islam …kaya dengan tuntunan tentang lingkungan hidup, bermula dengan menjelaskan tujuan penciptaan manusia dan bagaimana seharusnya Bumi dan lingkungan dipelihara baik melalui perintah-perintahnya maupun larangan-larangannya. Itu belum lagi melalui bahasan para ulama dan cendekiawan masa lalu yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap teks-teks keagamaan Islam…”
Related article image
Prof Osman Bakar. (Gambar: Facebook/SimplyIslam.sg)
Senada dengan ini, Prof Osman Bakar dari Malaysia berpendapat bahawa tradisi intelektual dan agama Islam, sememangnya memberi penekanan terhadap alam sekeliling yang wajar dipelihara.

Lantaran itu, nilai dan anjuran daripada tradisi ini mesti disampaikan kepada khalayak Muslim dan dunia luar. Hujah beliau terhimpun dalam bukunya berjudul 'Environmental Wisdom for Planet Earth: The Islamic Heritage' (2022).
Related article image
Buku 'Environmental Wisdom for Planet Earth: The Islamic Heritage' (2022). (Gambar: Laman web UMCCD)
Related article image
Cik Zurinah Hassan. (Gambar: Facebook/Zurinah Hassan Tokoh Puisi Melayu Abad Ke-20)
Dalam kalangan penulis, beberapa daripada mereka berani mengangkat topik-topik ekologi. Wadah sastera digunakan untuk membicarakan isu-isu alam sekitar. Zurinah Hassan sebagai contoh, menulis puisi dengan sematan kritik, sehingga ia menjadi pantulan kepada realiti yang menyaksikan banyak sungai dan bukit yang dirosakkan:

“Sungai Klang telah terperangkap
ke dalam sampah sarap
arusnya telah tersangkut
pada pondok-pondok yang berpaut
airnya mencecah lantai
mengalas tidur para setinggan
sebelum lena digegarkan
oleh mimpi tentang satu gerakan
yang bernama pembersihan
Di tebingnya
seorang pengemis merendam kepenatan
batuk yang luruh bersama
daki dan derita
berguling di bawah jambatan

Sungai Klang
mengheret beban ke muara
sesekali ia bertanya warga kota
"Tidakkah kau melihat peribadimu
yang tercermin pada kekeruhan
tidakkah kau melihat dosamu
pada hanyir bangkai ikan?"
Kurangkan Artikel
Sungai yang tercemar adalah penanda paling jelas di mana pencemaran alam sekitar akan merosakkan lebih banyak alam linkungan, dan pastinya manusia.
Related article image
Penulis dari Malaysia, Shahnon Ahmad. (Gambar: Facebook/Shahnon Ahmad (Laman Rasmi Peminat))
Shahnon Ahmad, dalam esei “Hoho pada diri, Haha pada alam, Hoha pada Tuhan” (1995) mengupas persoalan pencemaran alam sekitar dengan sangat tajam dan pedas:

“Diri adalah alam, alam adalah diri. Tanah adalah elemen alam dan juga elemen diri. Air adalah elemen alam dan juga elemen diri. Udara adalah elemen alam dan juga elemen diri. Memokah dan mendera tanah samalah seperti memokah dan mendera diri sendiri. Mengotori dan menajisi air dan udara dengan segala isi kekayaan samalah seperti mengotori dan menajisi diri kita sendiri.”

Peka Budaya, Alam Juga

Suara peringatan dan anjuran yang sangat penting terus bergema. Bicara tentang hal ekologi usah disaluti dengan seruan normatif belaka. Masalah struktur dan peka terhadap kepentingan tertentu yang menyebabkan permasalahan persekitaran mesti terkedepan.
Related article image
Pak Tenas Effendy. (Gambar: YouTube/Gahara)
Inilah yang dapat kita lihat daripada singgungan Pak Tenas Effendi:

“Bila dikaitkan dengan pelestarian linkungan (alam sekitar), jelaslah bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pihak pemerintah amatlah jarang memperhatikan masyarakat, apalagi budaya dan linkungannya. Hal ini tercermin dari cara mereka membuang limbah industrinya secara semena-mena, cenderung tidak mengacu kepada ketentuan perizinan yang diwajibkan kepadanya, yang mengakibatkan pencemaran dan pengrusakan lingkungan. Banyak sudah sungai dan suak, tasik dan danau tercemar, atau bahkan aliran airnya dialihkan ke tempat lain, atau dibuat kanal-kanal baru yang menyebabkan air menjadi keruh, yang dampaknya menyengsarakan masyarakat sekitar. Banyak sudah pengaduan dan keluhan masyarakat yang disampaikan kepada perusahaan dan pemerintah, namun, hasilnya belumlah memuaskan. Penyimpangan yang dilakukan perusahaan tidak sedikit…”

Inilah yang harus kita bangunkan dalam bentuk wacana, pendidikan dan gerakan sosial dalam masyarakat.

“Bumi senang padi menjadi
Padi kuning jagung mengupih
Anak buah senang sentosa
Ternak berkembang biak
Sekata lahir dengan batin
Ke mudik seentak galah
Ke hilir serengkuh dayung
Sesuai mulut dengan hati.”
Kurangkan Artikel
MENGENAI PENULIS
Related article image
Dr Azhar Ibrahim Alwee ialah Pensyarah Kanan di Jabatan Pengajian Melayu, NUS. Beliau juga Naib Pengerusi Majlis Bahasa Melayu Singapura dan Ketua Perwakilan MASTERA Singapura. Dr Azhar juga merupakan Naib Pengerusi Yayasan Warisan Melayu.
Sumber : BERITA Mediacorp/az
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Video Pilihan

Lebih banyak artikel Berita