ALAM MELAYU: Alam Mengamanah, Manusia Mengolah
Peradaban sering dikaitkan dengan pembangunan pusat bandar yang terancang, industri dan pasaran yang pesat, serta kemudahan sosial yang lengkap tersusun. (Gambar hiasan: Canva)
This audio is generated by an AI tool.
Ilmu, teknologi dan kerja terpadu dengan sempurna menghasilkan budaya dan peradaban yang canggih dan maju. Dr Azhar Ibrahim Alwee menelusuri peradaban ini.
Menjaga & Memakmurkan Tanah Air
Di belahan Nusantara, tempat tinggal kediaman, tanah kelahiran dan negeri tempat bernaung disebut sebagai Tanah Air. Ini bukan setakat geografi yang mengandungi isi alamnya, seperti hutan, gunung, bukit, dataran, sungai, tasik dan laut. Sebutan ini juga seolah sakral, kerana dalam tanah air, segala kehidupan tertampung. Ia mesti bersih, seimbang, damai dan menyejukkan.
Sehingga ada bidalan adat yang menyifatkan pemukiman manusia sebagai sesuatu yang sempurna apabila terdapat “Masjid Makmur, Pasaran Ramai, Sungai Bersih". Begitu juga terpancar dalam ungkapan lama Melayu yang menitipkan anjuran bagaimana untuk membangunkan kampung halaman. Disebut begini:
adat dijaga lembaga dijunjung,
rumah beratur dusun dikungkung,
halaman luas ladang bersambung,
suak dan sungai sama dilindung,
hutan dipelihara hidup bersambung,
di sana tempat anak cucu berlindung.”
“Adat membuat kampung halaman
rumah jangan sembarangan
halaman jangan asal-asalan
kebun jangan ditelantarkan
ladang jangan ditinggalkan
Sungai jangan dikeringkan
Suak jangan disia-siakan
Hutan belantara jangan dibinasakan
Di sana tuah ditegakkan
Di sana maruah dikekalkan”
Umumnya, manusia dianjurkan agar akrab dengan persekitarannya:
Tahu menebang memegang amanat
Tahu berladang menurut undang
Tahu berkebun mengikut kanun
Tahu menjaga laut dan hutan
Tahu menjaga kayu dan kayan
Tahu menjaga binatang hutan
Tebasnya tidak menghabiskan
Tebangnya tidak memusnahkan
Bakarnya tidak membinasakan
Tahu menjaga laut dan selat
Tahu menjaga rimba yang lebat
Tahu menjaga tanah ulayat
Tahu menjaga semut dan ulat
Tahu menjaga togok dan belat
Beramu tidak merusak kayu
Berotan tidak merusak hutan
Bergetah tidak merusak rimba
Berumah tidak merusak tanah
Berkampung tidak merusak gunung
Berladang tidak merusak padang.”
Menarik diperhatikan bagaimana keseimbangan alam sekitar sejak dari awal mendapat perhatian daripada para pendiri negara-bangsa.
Pernah dalam sebuah pidato, Presiden Indonesia yang pertama ini mengatakan sebegini puitis:
“Engkau tahu apakah Indonesia? Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah ini. Indonesia adalah langit yang biru dan tenang itu. Indonesia adalah mega putih yang lamban itu. Indonesia adalah udara yang hangat ini. Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu memukul-mukul ke pantai di cahaya senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergerak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.”
“Betapa banyaknya hutan-hutan kita yang sebenarnya menyimpan kapital nasional kita. Hutan itu tidak boleh ditebang, ia harus dipelihara, karena itulah kapital nasional kita. Siapa yang hendak membuat ladang, haruslah bertanya dulu kepada dinas kehutanan mana yang boleh ditanami menjadi ladang, mana yang tidak. Karena apabila kayu yang ada di gunung itu habis ditebang, maka air tidak bisa ditahan mengalir ke laut yang lambat laun akan menjadikan tanah-tanah kita menjadi tandus. Humus yang ada di kulit tanah habis dihanyutkan oleh air yang menyebabkan terjadinya gunung-gunung tandus.”
Wacana Hijau Mesti Menjangkau
Dengan suhu dunia semakin meninggi, pengeluaran karbon yang meningkat, zon hutan simpanan yang semakin mengecil, paras laut semakin meningkat, kesepakatan global sangat diperlukan.
Di sinilah diperlukan pendidikan ekologi, baik secara formal, mahupun di ruang awam, mesti digerakkan. Literasi persekitaran ini juga boleh digerakkan oleh kelompok sastera, budaya dan seni.
Membangunkan wacana yang konsisten dapat memberi orang awam dan kelompok berkepentingan untuk mengambil tahu, berdialog dan berkongsi maklumat dan perspektif dengan lebih meluas. Pastinya peranan media massa sangat diperlukan dalam hal ini.
Demi meningkatkan kesedaran ekologi yang kukuh, peranan budayawan, sasterawan, seniman termasuk ilmuan dan agamawan harus digembleng.
Beliau menegaskan:
“Persoalan lingkungan (alam sekitar) merupakan salah satu persoalan yang mendapat perhatian ajaran Islam, bukan sekadar mewanti-wanti menyangkut sisi-sisi negatif pencemaran lingkungan, tetapi juga menekankan pentingnya penggunaan aneka sumber kehidupan secara wajar dan seimbang sehingga dapat dinikmati bukan saja oleh generasi masa kini, tetapi juga oleh generasi mendatang. Kedua sumber ajaran Islam …kaya dengan tuntunan tentang lingkungan hidup, bermula dengan menjelaskan tujuan penciptaan manusia dan bagaimana seharusnya Bumi dan lingkungan dipelihara baik melalui perintah-perintahnya maupun larangan-larangannya. Itu belum lagi melalui bahasan para ulama dan cendekiawan masa lalu yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap teks-teks keagamaan Islam…”
Lantaran itu, nilai dan anjuran daripada tradisi ini mesti disampaikan kepada khalayak Muslim dan dunia luar. Hujah beliau terhimpun dalam bukunya berjudul 'Environmental Wisdom for Planet Earth: The Islamic Heritage' (2022).
ke dalam sampah sarap
arusnya telah tersangkut
pada pondok-pondok yang berpaut
airnya mencecah lantai
mengalas tidur para setinggan
sebelum lena digegarkan
oleh mimpi tentang satu gerakan
yang bernama pembersihan
Di tebingnya
seorang pengemis merendam kepenatan
batuk yang luruh bersama
daki dan derita
berguling di bawah jambatan
Sungai Klang
mengheret beban ke muara
sesekali ia bertanya warga kota
"Tidakkah kau melihat peribadimu
yang tercermin pada kekeruhan
tidakkah kau melihat dosamu
pada hanyir bangkai ikan?"
“Diri adalah alam, alam adalah diri. Tanah adalah elemen alam dan juga elemen diri. Air adalah elemen alam dan juga elemen diri. Udara adalah elemen alam dan juga elemen diri. Memokah dan mendera tanah samalah seperti memokah dan mendera diri sendiri. Mengotori dan menajisi air dan udara dengan segala isi kekayaan samalah seperti mengotori dan menajisi diri kita sendiri.”
Peka Budaya, Alam Juga
Suara peringatan dan anjuran yang sangat penting terus bergema. Bicara tentang hal ekologi usah disaluti dengan seruan normatif belaka. Masalah struktur dan peka terhadap kepentingan tertentu yang menyebabkan permasalahan persekitaran mesti terkedepan.
“Bila dikaitkan dengan pelestarian linkungan (alam sekitar), jelaslah bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pihak pemerintah amatlah jarang memperhatikan masyarakat, apalagi budaya dan linkungannya. Hal ini tercermin dari cara mereka membuang limbah industrinya secara semena-mena, cenderung tidak mengacu kepada ketentuan perizinan yang diwajibkan kepadanya, yang mengakibatkan pencemaran dan pengrusakan lingkungan. Banyak sudah sungai dan suak, tasik dan danau tercemar, atau bahkan aliran airnya dialihkan ke tempat lain, atau dibuat kanal-kanal baru yang menyebabkan air menjadi keruh, yang dampaknya menyengsarakan masyarakat sekitar. Banyak sudah pengaduan dan keluhan masyarakat yang disampaikan kepada perusahaan dan pemerintah, namun, hasilnya belumlah memuaskan. Penyimpangan yang dilakukan perusahaan tidak sedikit…”
Inilah yang harus kita bangunkan dalam bentuk wacana, pendidikan dan gerakan sosial dalam masyarakat.
Padi kuning jagung mengupih
Anak buah senang sentosa
Ternak berkembang biak
Sekata lahir dengan batin
Ke mudik seentak galah
Ke hilir serengkuh dayung
Sesuai mulut dengan hati.”
Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini
Langgani buletin emel kami
Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.