Skip to main content

Dunia

Istana Garuda belum berdiri: Pembangunan yang lambat, salah satu cabaran di sebalik pemindahan ibu kota baharu Nusantara

Anggaran Waktu Membaca:
Istana Garuda belum berdiri: Pembangunan yang lambat, salah satu cabaran di sebalik pemindahan ibu kota baharu Nusantara

Gambar: Danang Wisanggeni/CNA

NUSANTARA: Burung raksasa dengan sayap luar biasanya yang sangat lebar, ilham daripada burung mitos Garuda, lambang negara Indonesia, seharusnya menjadi bentuk desain istana presiden di ibu kota yang baharu, Nusantara.

Namun pada Khamis lalu (17 Ogos), tepat setahun sebelum perpindahan pentadbiran pemerintah Indonesia ke ibu kota baharu pada 2024, Garuda belum juga terlihat bentuknya, apalagi bentangan sayapnya.

Bangunan Istana empat tingkat yang akan menjadi bangunan tertinggi di kota seluas 256,000 hektar itu - empat kali lebih besar daripada Jakarta dan tiga kali ganda Singapura - masih dalam binaan, dan baru selesai sekitar 20 peratus.
Gambar: AFP/Nyoman Nuarta/Handout
Ketika Mediacorp bertandang ke sana baru-baru ini, dapat dilihat puluhan trak pengangkut barang di jalan raya yang baharu disimen, menuju beberapa lokasi pembangunan di Nusantara yang terletak di tengah belantara hutan Kalimantan.

Dedaun di hutan yang diselimuti debu menjadi bukti kerja-kerja binaan yang sedang dijalankan di ibu kota masa depan Indonesia, yang digelar kota hijau dan pintar.

Ada kebimbangan pemindahan ke ibu kota baharu itu pada 17 Ogos tahun depan tidak dapat dipenuhi, dengan rancangan bagi upacara peringatan Hari Kemerdekaan diadakan di Istana Garuda juga terancam gagal.

Akibat dikejar masa, ribuan pekerja binaan harus bekerja siang dan malam untuk menyiapkan istana dan beberapa bangunan lainnya.

"17 Ogos 2024, presiden dan beberapa tamu undangan akan merayakan (Hari Kemerdekaan Indonesia) di sana," kata Bambang Susantono, ketua Penguasa Ibu Kota Nusantara, pada 10 Ogos lalu di Jakarta.

"Kami ingin menunjukkan bahwa Nusantara akan menggabungkan manusia, alam dan budaya. Jadi, ini akan menjadi kota yang pintar, hijau dan inklusif."
Gambar: CNA/Danang Wisanggeni
PELAN BINAAN LIMA PERINGKAT

Pembangunan Nusantara dianggarkan menelan belanja AS$32 bilion (S$43 bilion). Ia dianggap perlu untuk menyelamatkan Jakarta yang kian padat penduduk dan terancam tenggelam, sekali gus mengembangkan Kalimantan dan wilayah timur Indonesia.

Pembangunannya melibatkan lima peringkat.

Tahap pertama yang mencakupi pembangunan istana, beberapa gedung kementerian dan infrastruktur dasar seperti jalan raya dan perumahan, dijadualkan siap pada 2024.

Tahap terakhir pembangunan Nusantara dijadualkan selesai bertepatan dengan peringatan 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045. Ibu kota baharu ini nantinya akan terhubung dengan kota-kota sekitarnya seperti Balikpapan dan Samarinda.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat selaku pelaksana pembangunan Nusantara mengatakan tahap pertama baru selesai sekitar 38 peratus.

"Ada banyak cabaran, seperti rantaian bekalan, cuaca, dan yang lainnya," kata Danis Sumadilaga kepada Mediacorp, pada Selasa. Encik Danis adalah ketua pasukan petugas pembangunan infrastruktur Nusantara.

Projek Nusantara - yang kerap disebut akan menjadi peninggalan Presiden Joko Widodo sebelum tamat tempoh penggal jawatannya pada tahun depan - juga menghadapi berbagai masalah.

PERLOMBONGAN HARAM

Dalam kunjungan ke sana, Mediacorp menyaksikan adanya kegiatan perlombongan haram secara berleluasa yang menjadi masalah di bahagian timur Kalimantan yang kaya dengan sumber semulajadi. Selain itu, pemerintah juga sukar mendapatkan pelaburan untuk pembangunan Nusantara.

Ibu kota Nusantara dirancang sebagai kota hijau, dengan pemerintah mendakwa bahwa lebih daripada 75 peratus wilayah pemerintahan di bandar itu tetap dikelilingi kawasan menghijau.

Di sebahagian wilayah Kalimantan, sudah jadi hal biasa jika warga setempat memiliki sebidang tanah lalu meninggalkannya tanpa diurus atau dimanfaatkan.

Penasihat Rangkaian Perlombongan JATAM, Pradarma Rupang berkata: "Pelombong haram ini melakukan kerja-kerja menggali lombong di tanah milik orang lain, yang mereka masuki tanpa pengetahuan pemiliknya ... jadi perlombongan haram ini merugikan negara secara ekonomi dan alam sekitar."

Pemerintah Indonesia juga sudah menyedarinya. Achmad Jaka Santos Adiwijaya, setiausaha penguasa Ibu Kota Nusantara, mengatakan mereka akan mengatasi masalah ini.

"Jika kegiatan haram ini masih berlaku, tindakan penguatkuasaan undang-undang akan dijalankan," katanya.

Tambahnya: "Perlu ada sinergi (antara berbagai lembaga). Ketua Polis RI dan Mahkamah Agung harus menempatkan ketua polis setempat yang berani, atau masalah ini tidak akan pernah selesai."
Ketua penguasa Nusantara Bambang Susantono. (Gambar: CNA/Danang Wisanggeni)
MASIH MENCARI PELABUR

Masalah lainnya yang harus diselesaikan pemerintah adalah mencari pelabur, kerana pembangunan Nusantara tahap pertama masih dibiayai negara.

Ketua penguasa Nusantara Bambang Susantono dalam kegiatan mempromosikan ibu kota baharu kepada mahasiswa di Samarinda, enggan menyatakan berapa nilai pelaburan yang sudah masuk ke projek Nusantara.

"Mohon tunggu dua minggu lagi, sampai setelah hari kemerdekaan. Kami akan mengumumkannya masih ada beberapa suntikan baharu.

"Ada beberapa perusahaan yang Insya-Allah akan melabur," kata Encik Bambang pada 7 Ogos lalu.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dalam kunjungan rasmi pertamanya ke Indonesia awal tahun ini, berjanji akan melakukan lebih banyak upaya yang positif dan agresif dalam membantu pembangunan Nusantara. Sebabnya, keberadaan Nusantara juga akan menguntungkan negara bahagian Sabah dan Sarawak di Malaysia.

Bagaimanapun, Encik Achmad selaku setiausaha penguasa Nusantara memberitahu Mediacorp, bahawa setakat awal Ogos belum ada satu pun negara yang sepakat memberikan komitmen untuk meabur dalam ibu kota tersebut.

Meski demikian, beliau berkata sudah ada beberapa perjanjian kerahasiaan (non-disclosure agreement/NDA) yang dimeterai, seperti antara Penguasa Nusantara dengan Joe Green Pte Ltd dan State Power Investment Corporation (SPIC) dari Singapura.

"Kami belum boleh mengatakan sama ada komitmen itu 100 peratus, tetapi apabila seseorang menandatangani NDA dan melakukan kajian kelayakan, itu bermakna komitmennya sudah maju setapak.

Pada awal Jun lalu, Presiden Jokowi mempromosikan Nusantara ketika acara Ecosperity di Singapura. Kepada para pengusaha, beliau meyakinkan bahwa siapa pun yang memimpin Indonesia seterusnya akan fokus menjadikan Indonesia sebagai negara raksasa dan kuat di Asia.

"Jadi semuanya akan baik-baik sahaja, tidak perlu khuatir, pelaburan anda di Indonesia akan tetap selamat," kata Encik Jokowi.

Bhima Yudhistira, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies di Jakarta, berkata ketidakpastian politik adalah salah satu sebab kurangnya minat melabur.

"Sejauh ini, pelabur agak bimbang projek Nusantara akan terus berjalan kerana undang-undang ketika ini sedang disemak semula, dan juga akan ada pilihan raya, jadi ada ketidakpastian dan risikonya tinggi.

Di sebalik cabaran itu, ada juga pihak yang optimis dan alu-alukan rancangan pembangunan ibu kota baharu itu.

Warga Jakarta, Herawati, yang mengunjungi Nusantara bersama menantunya yang tinggal di Balikpapan, berkata beliau sangat menantikan pembangunan di ibu kota baharu itu.

"Dari pembangunannya dan pekerja yang bekerja siang dan malam, saya kira mereka akan boleh menyelesaikannya tepat pada waktu," kata Cik Herawati.
Sumber : CNA/ss
Anda suka apa yang anda baca? Ikuti perkembangan terkini dengan mengikuti kami di Facebook, Instagram, TikTok dan Telegram!

Ikuti perkembangan kami dan dapatkan Berita Terkini

Langgani buletin emel kami

Dengan mengklik hantar, saya bersetuju data peribadi saya boleh digunakan untuk menghantar artikel dari Berita, tawaran promosi dan juga untuk penyelidikan dan analisis.

Lebih banyak artikel Berita